Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXXVI


__ADS_3

"Kau membuat kumis ini dari apa Lux, gatal sekali," ucapku seraya menggerakkan bibir tanpa henti.


"Dari rambutnya Haruki yang aku rekatkan dengan lem dari getah pohon," ungkapnya berbisik di sampingku.


"Tapi ini gatal sekali," ungkapku lagi seraya mencoba mengangkat tangan kiriku.


"Jika kau melepaskannya, aku akan menggantinya dengan seluruh rambut yang ada di kepalamu," tukasnya berbisik dengan nada mengancam.


Kugerakkan sekuat mungkin tali kekang yang aku genggam, kuda putih yang aku tunggangi melaju cepat meninggalkan Haruki dan juga Izumi. Membungkuk aku seraya kembali mempercepat langkah kakinya...


"Apa yang kau lakukan?!" teriak Izumi dari arah belakangku, ikut terdengar suara derap langkah kaki kuda yang mengikuti.


"Seluruh wajahku gatal, aku tidak bisa menahannya lagi," ucapku tanpa menoleh ke arah mereka.


"Jangan bertindak ceroboh, Sachi!" teriak Haruki, kutarik tali kekang yang aku genggam hingga berdiri kuda tersebut dengan kedua kaki belakangnya lalu berhenti.


"Cepatlah sedikit, aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi," ungkapku menahan tangis menatap mereka.


"Aku mengerti, tetaplah di belakangku," ucap Haruki, diangkatnya tali kekang lalu digerakkannya dengan kuat. Kuda yang ia tunggangi melaju cepat melewatiku...


Ikut kupacu kuda yang aku tunggangi mengikuti langkahnya. Melirik aku ke arah telapak tanganku yang menghitam terbalut oleh tanah seraya beberapa kali aku menggerakkan kepala hanya untuk meringankan rasa gatal yang melanda...


Kuda yang ditunggangi Haruki berhenti di sebuah gerbang yang diselubungi oleh benteng yang sangat luas, bahkan lebih luas dibandingkan benteng yang melindungi Kerajaan Paloma.


"Berhenti, ada keperluan apa kalian di sini?" ucap salah satu Kesatria mengangkat tombaknya ke arah Haruki.

__ADS_1


"Kami pedagang dari Kerajaan Paloma yang ingin melakukan kerja sama dengan Viscount Okan, ini suratnya jika kalian ingin memastikannya," ucap Haruki seraya menyerahkan sebuah kertas putih pada Kesatria tadi.


"Berapa orang? dan namamu?" ucap Kesatria tadi sembari membaca tulisan di kertas tersebut.


"Savon, dan aku membawa tiga orang laki-laki bersamaku," jawab Haruki padanya.


Dijauhkannya surat tadi dari hadapannya seraya ditatapnya kami satu-persatu oleh Kesatria tadi. Menoleh ia ke arah rekannya lalu mengangguk ia perlahan kepadanya.


Berjalan mundur dua orang Kesatria tadi sembari diketuknya pintu gerbang tersebut dengan sebuah ketukan yang berirama unik, lama berselang... Gerbang itupun terbuka.


"Terima kasih," ucap Haruki menoleh ke arah Kesatria tadi, membungkuk Kesatria tadi seakan menjawab ucapan terima kasih dari Haruki.


Ikut kulangkahkan kaki kuda yang aku tunggangi menyusuri jalan yang dilalui kedua kakakku tadi. Kuda yang aku tunggangi berjalan perlahan, kuarahkan pandanganku ke sebelah kanan dan juga kiri tubuhku...


Ini kedua kalinya aku datang ke sini, tak seperti sebelumnya... Sekarang aku datang hanya sebagai rakyat biasa. Bukan seorang Putri dari Kerajaan Sora ataupun tunangan dari Pangeran keempat Kerajaan Yadgar.


Kuda yang aku tunggangi berjalan mendekati Izumi yang juga tengah mengikatkan kudanya di sebelah bangunan tanah liat yang akan kami tempati, turun aku dari kuda tersebut seraya mengarahkan tali kekang yang aku genggam pada Izumi yang telah mengarahkan telapak tangannya padaku.


Berbalik aku seraya berjalan mendekati Haruki, kualihkan pandanganku pada Izumi dan juga Eneas yang juga ikut berjalan mendekatiku.


Haruki membalikkan tubuhnya seraya berjalan masuk ke dalam bangunan tersebut, kakiku kembali melangkah mengikutinya. Berdiri aku di pojokan dinding seraya menatap Haruki yang tengah berdiskusi dengan seorang laki-laki tua.


Laki-laki tua tadi memberikan sebuah kunci kepada Haruki seraya sebelah tangannya bergerak-gerak seakan menunjuk sebuah jalan. Mengangguk Haruki pada laki-laki tua tadi seraya berbalik ia berjalan mendekati kami.


Haruki membungkukkan tubuhnya seraya kedua tangannya meraih dua buah tas yang tergeletak di lantai, Izumi pun melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan. Berjalan mereka berdua melewati, kurangkul pundak Eneas seraya berjalan kami berdua mengikuti langkah mereka.

__ADS_1


Haruki membuka pintu salah satu ruangan yang ada di dalam bangunan menggunakan kunci yang diberikan laki-laki tua tadi padanya, dibukanya pintu tersebut seraya masuk ia ke dalam dengan dua buah tas berada di genggamannya.


Izumi yang juga membawa tas di kedua tangannya tampak ikut masuk mengikuti langkah kaki Haruki. Berjalan aku mengikuti Lux dan juga Eneas yang telah berlari menyusul Izumi sebelumnya...


Kugerakkan kedua bola mataku menyusuri kamar yang akan kami tempati, tampak kondisinya sedikit lebih baik dari penginapan yang pernah kami tempati ketika di Paloma...


"Aku ingin membersihkan tubuhku terlebih dahulu," ucapku seraya berjalan mendekati Izumi lalu membungkuk aku seraya meraih sebuah tas yang diletakkan Izumi di ranjang.


Berbalik dan berjalan aku mendekati sebuah pintu berwarna cokelat yang ada di dalam kamar, kuraih gagang pintu seraya kubuka pintu tadi menggunakan lengan kananku...


Masuk aku ke dalam ruangan berwarna putih tersebut, tampak terlihat sebuah baskom besar terbuat dari kayu berada di tengah-tengah ruangan tersebut. Kuletakkan tas yang aku genggam tadi ke atas meja kecil yang ada di samping pintu...


Kuangkat kedua tanganku seraya kugerakkan kedua tanganku membuka kunciran erat yang dilakukan Haruki di rambutku. Kulucuti semua pakaian yang aku kenakan seraya kembali kubuka lilitan kain putih yang melilit tubuhku...


Kutarik napasku sedalam mungkin lalu kuembuskan kembali perlahan, rasa sesak yang aku rasakan selama perjalanan seakan menghilang sepenuhnya...


Berjalan aku mendekati sebuah tong kayu berisi penuh air yang tergeletak di samping baskom kayu yang tergeletak di lantai. Kuambil air di dalam tong kayu menggunakan sebuah gayung yang juga terbuat dari kayu dan batok kelapa sebagai wadahnya...


Kutuang air di dalam gayung ke dalam baskom kayu, kuulangi hal itu berulang-ulang hingga baskom itu terisi penuh. Kuangkat kembali gayung berisi air lalu kutuang air yang ada di dalamnya membasuh wajahku perlahan-lahan...


Rasa perih yang mengukir atas bibirku masih terasa samar-samar, kutatap kumis palsu buatan Lux yang telah basah oleh air. Berbalik aku seraya mengangkat kaki kananku menyentuh air yang menggenang di baskom...


Kuangkat kembali kakiku yang lain seraya duduk dan bersandar aku di baskom kayu berukuran besar itu. Kuarahkan pandanganku ke atas sembari menatap bayangan kosong yang ada di hadapanku...


Bagaimana keadaanmu? Apa kau berhasil meraih jabatan sebagai Kapten? Apa temanmu kembali bertambah dari sebelumnya? Apa kau masih menuruti semua saran dariku untuk selalu bersikap ramah kepada siapapun?

__ADS_1


Kau tidak melupakanku kan Zeki...


Ya Tuhan, aku takut melihatnya tersenyum.


__ADS_2