
"Daisuke, apa di sekitar tempat yang kau maksudkan ada hutan atau semacamnya?" ucap Haruki, ikut kugerakkan kuda milikku berhenti mengikuti langkah kuda yang ia tunggangi.
"Apa yang ingin dilakukan di hutan, Yang Mulia?" ungkap Daisuke, kuarahkan pandanganku menatapnya yang telah menggerakkan pandangannya menatap Haruki.
"Persiapan menyamar, kau berkata bukan jika pemimpin di sana kemungkinan besar tidak menyukai para bangsawan," ungkap Haruki lagi pada Daisuke.
"Baiklah, ikuti aku," ucap Daisuke dengan nada sedikit meninggi, masih kutatap dia yang telah menggerakkan kuda miliknya dengan kecepatan tinggi.
Kugerakkan tali kekang yang aku genggam, kuda milikku melaju cepat mengikuti mereka. Kuarahkan tubuhku sedikit condong ke depan, kuda putih milikku itu semakin dan semakin cepat melaju mengikuti langkah kaki kuda mereka...
______________________
"Menyamar sebagai laki-laki membuat dadaku sesak..."
"Tapi kau tetap harus melakukannya Sa-chan, ini untuk keselamatanmu. Dengarkan Kakakmu ini," ucapnya memotong perkataanku.
"Aku mengerti. Aku bukannya menolak, aku hanya mencoba menuangkan seluruh isi hati yang terpendam," gumamku mengalihkan pandangan darinya seraya kuarahkan kembali kedua kakiku mendekati kuda milikku.
Kuangkat kakiku menaiki kuda, kugerakkan tali kekang yang telah berada di genggamanku itu. Kuda yang aku tunggangi tadi berjalan mendekati Daisuke yang juga telah menggerakkan kuda miliknya.
Kuda kami bergerak perlahan, kuarahkan pandanganku menatap lurus benteng kokoh yang ada di hadapan kami. Pandangan mataku teralihkan pada Daisuke yang telah menggerakkan kudanya semakin mendekati benteng tersebut.
__ADS_1
"Ada perlu apa kalian ke sini?!" ucap salah satu penjaga yang berdiri di depan gerbang dengan nada sedikit meninggi.
"Kami hanyalah para pemuda yang ingin mencari kesenangan," ungkap Daisuke, kembali kuarahkan pandanganku padanya yang tengah tertunduk menatapi dua penjaga yang berjaga di gerbang itu.
Kembali kuarahkan pandanganku menatap dua penjaga tadi, tubuh besar mereka sudah seakan seperti pintu di depan gerbang itu. Pandangan mataku terjatuh pada tombak-tombak milik mereka yang berlapis emas, kualihkan pandanganku menatap salah satu penjaga yang juga telah menatapku...
"Kami tidak bisa menerima alasan tersebut begitu saja," ucap salah satu penjaga yang menatapku tadi.
"Apa yang kalian maksudkan itu ini?" ungkap Daisuke, kembali kuarahkan pandanganku menatapnya yang telah mengeluarkan sebuah kantung berwarna hitam dari balik pakaian yang ia kenakan.
"Dua kantung, atau tidak sama sekali," ucap salah satu penjaga menatapi kami bergantian.
"Dua kantung, satu dariku dan satu darinya," ucap Haruki kembali seraya melemparkan sebuah kantung berwarna cokelat ke salah satu penjaga yang berdiri.
Kutatap dua penjaga tadi yang bergerak saling memandang satu sama lain, bergerak mereka mundur ke belakang beberapa langkah. Berbalik mereka berdua seraya maju mereka mendorong gerbang tersebut hingga terbuka perlahan demi perlahan...
Kugerakkan kudaku mengikuti Haruki dengan Izumi berserta Eneas di sebelah kanan dan kiriku, kutatap Daisuke yang telah melemparkan kantung berwarna hitam di tangannya tadi ke salah satu penjaga yang masih berdiri membelakangi gerbang yang terbuka itu...
Kembali dan kembali, kuarahkan pandanganku ke sekitar. Kutatap beberapa laki-laki yang berjalan hilir-mudik dengan menarik masing-masing seorang perempuan yang lehernya terikat rantai panjang.
Tubuh mereka tampak lusuh diikuti pakaian kusam yang mereka kenakan. Salah satu perempuan itu menatapku, kupandangi dengan jelas matanya yang sedikit lebam kebiruan tersebut...
__ADS_1
Tubuhku sedikit terhentak, tatkala tubuh perempuan tadi tiba-tiba jatuh tersungkur ke depan. Kualihkan pandanganku pada seorang laki-laki yang berteriak-teriak kencang pada perempuan tadi seraya tangannya terus menarik-narik rantai yang masih terikat di leher perempuan itu.
Perempuan tadi beranjak dengan kedua tangannya, lama ia tertunduk sesekali tangannya bergerak perlahan menutupi wajahnya. Aku tertegun sejenak, kualihkan pandanganku ke samping menatap Haruki yang telah menatapi...
Kurasakan cengkeraman pelan yang ia lakukan di lenganku, masih kutatap dia yang sedikit menggerakkan kepalanya ke samping seakan memintaku untuk mengikutinya...
Haruki melepaskan genggaman yang ia lakukan di lenganku sebelumnya, kugerakkan kudaku berjalan mengikuti langkah kaki kudanya yang telah berjalan mendahului. Genggaman tanganku yang menggenggam tali kekang semakin kuat tatkala terdengar suara tangisan pilu diikuti suara cambukan yang mengetuk telingaku.
Kuangkat kepalaku yang semula tertunduk menatap lurus ke depan, tak seperti di Metin... Di sini kehidupan mereka terlihat lebih teratur seperti halnya seperti pemandangan yang sering ditemukan pada Kerajaan-kerajaan yang lain, hanya saja... Nasib para perempuan, jatuh sejatuh-jatuhnya di sini.
Kualihkan pandanganku pada Daisuke yang tengah tertunduk menatapi seorang pemuda yang berdiri di samping kuda miliknya, kutatap pemuda tadi yang menggerakkan salah satu tangannya menunjuk ke belakang lalu ke kanan.
Daisuke menganggukkan kepalanya, pemuda tadi pun membalas anggukan kepala darinya seraya berbalik ia berjalan menjauh. Kualihkan pandanganku pada Daisuke yang juga telah berbalik menatapi kami...
"Pemuda tadi berkata jika di depan sana ada penginapan yang cukup layak untuk kita tempati," ungkap Daisuke kembali, masih kutatap dia yang telah mengalihkan pandangannya pada Haruki.
"Begitukah? Lalu apa yang kita tunggu? Cepat bawa kami ke sana!" ungkap Haruki membalas perkataan Daisuke.
"Tapi, seperti yang terlihat... Di sini, perempuan lebih tak dihargai dibandingkan budak. Dan di sana, akan lebih banyak lagi perempuan-perempuan yang nasibnya lebih memilukan dibandingkan dengan yang baru saja kau lihat Putri..."
"Aku mengerti, aku akan baik-baik saja. Karena, yang harus aku pikirkan sekarang adalah bagaimana aku membawa pulang banyak sekutu untuk Ayahku dan Kerajaanku," ungkapku seraya kubalas tatapan Daisuke yang menatapku itu.
__ADS_1