
"Apa ada yang ingin kalian makan?" ucap Haruki berbalik menatap kami.
"Permen Apel," jawabku singkat.
"Aku ingin Mochi," sambung Izumi.
"Permen Apel? Mochi?" ucap Eneas bergantian menatap kami.
"Anak siapa yang kalian bawa itu?" ucap Lux dari balik rambutku.
"Kau serangga, panggil aku Eneas. Namaku Eneas," tukas Eneas menatapku.
"Siapa yang kau panggil serangga? kau makhluk berselimut racun!" balas Lux berteriak, berkali-kali aku menghela napas seraya berdoa agar gendang telingaku tidak pecah oleh mereka berdua.
"Bukan salahku jika aku pintar meracik racun, keluarlah kau! Aku akan menginjak-injak tubuhmu yang kecil itu!"
"Tidak bisakah kalian berdua diam!" ucap Izumi, dipukulnya kembali kepala Eneas olehnya.
"Kenapa hanya aku yang dipukul, serangga itu juga bersalah," tangis Eneas seraya menatap Izumi.
"Daripada kau berdebat yang tak habis-habisnya dengan Lux, lebih baik kita mengisi perut kita yang kosong. Kau lapar bukan?" ucap Izumi, digendongnya Eneas seraya berjalan ia meninggalkan kami.
Aku dan Haruki mengikuti langkah Izumi menyusuri jalan, semuanya tampak senyap tak seperti sebelumnya. Sejauh mata memandang, tak ada pedagang yang membuka lapaknya...
Satu persatu rumah penduduk terbuka, keluar mereka dari rumah masing-masing dengan membawa lampion kertas di tangan-tangan mereka. Tertunduk mereka berjalan lengkap dengan kimono berwarna hitam yang mereka kenakan...
Melirik aku ke arah perempuan yang menangis terus-menerus di sampingku. Bukan hanya para perempuan bahkan para laki-laki pun melakukan hal yang sama...
Kami ikuti langkah-langkah mereka yang gontai terlihat, berhenti mereka semua di dinding Istana. Gerbang Istana terbuka...
Para Kesatria yang dulu sering mengawalku berjalan tertunduk, kutatap Shouta yang tak henti-hentinya mengusap kedua matanya. Mendongak Shouta ke atas seraya mengedipkan matanya berulang kali...
Duke Masashi ikut keluar mengikuti mereka, matanya yang sembab tampak jelas terlihat dari tempatku berdiri sekarang. Lama berselang...
__ADS_1
Tatsuya, Tsutomu, dan juga Tsubaru berbaris dengan memegang sebuah anyaman berisi pakaian di tangan-tangan mereka. Mereka bertiga tak henti-hentinya menangis, kupandangi Tsubaru yang menggenggam kuat anyaman bambu berisi gaun kesukaanku. Matanya tampak memandang kosong ke depan...
Melirik aku ke arah Haruki dan juga Izumi, yang juga ikut menangis melihat pelayan yang telah merawat mereka itu. Ikut kupandangi Kazuya yang juga tak henti-hentinya mengusap air matanya, tangan kanannya yang membawa obor tampak terlihat gemetar memegangnya...
Ayahku keluar diikuti beberapa ratus Kesatria di belakangnya, tatapan matanya seakan tak bernyawa. Kimono hitam yang dikenakannya tampak terlihat lusuh...
Satu persatu orang mengikuti langkah kaki para Kesatria, ikut kami berjalan di tengah-tengah mereka. Haruki merangkul pundakku, kutatap matanya yang sedikit memerah...
Rombongan tersebut melangkahkan kakinya ke sebuah bukit yang ada di Kerajaan, Haruki menarik tanganku untuk mengikutinya. Berjalan kami berempat menjauhi kerumunan...
Kulihat Izumi yang tengah memanjat salah satu pohon, kuikuti langkahnya memanjat pohon yang lainnya. Pemandangan yang ada di sekitar kami semakin jelas terlihat...
Ayahku berjalan mendekati sebuah kuil kecil yang dibangun di atas bukit, dibakarnya beberapa batang dupa di depan kuil tersebut. Tertunduk ia seraya tak henti-hentinya mengusap matanya menggunakan lengan kimono yang ia kenakan...
Maju Tatsuya, Tsutomu dan juga Tsubaru membawa anyaman bambu berisi pakaian seraya diletakkannya anyaman bambu tersebut oleh mereka di sebuah lubang dangkal yang telah disediakan...
Maju Kazuya mendekati mereka bertiga seraya diarahkannya api yang membakar obor ke anyaman-anyaman bambu tersebut. Api yang membakarnya semakin membesar dan membesar dari waktu ke waktu, ikut tercium bau pakaian yang terbakar memenuhi udara...
Angin malam berembus menusuk kulit, kutatap Ayahku yang tengah memimpin doa untuk pemakaman anak-anaknya sendiri. Tertunduk ia seraya menutup wajahnya, Duke Masashi yang juga ikut duduk di belakangnya tampak menepuk-nepuk punggungnya beberapa kali...
Beranjak Ayahku berdiri seraya berbalik ia menatapi para Kesatria dan juga rakyatnya...
"Kalian yang ada disini, terima kasih telah meluangkan waktu kalian menghadiri upacara pemakaman kedua Putraku dan juga Putriku..."
"Sebagai Ayah mereka, aku mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya jika mereka melakukan hal yang tidak pantas kepada kalian. Sebagai Ayah mereka, aku memohon kepada kalian untuk memaafkan semua kesalahan yang mereka lakukan..."
"Aku ingin kalian, membantuku melepaskan kepergian mereka dengan hati yang lapang. Aku juga meminta kepada kalian, untuk membantu mendoakan kebahagiaan mereka disana," ucap Ayahku lagi menahan tangis.
"Yang Mulia..."
"Hime-sama..." tangis para Kesatria bergantian.
Kuusap air mataku yang tak kunjung berhenti menggunakan kedua lenganku. Suara riuh tangisan dari mereka terdengar memilukan...
__ADS_1
Kupandangi Haruki beserta Izumi yang juga tak henti-hentinya menangis, melirik Izumi ke arahku dan langsung menunduk ia seraya mencoba menghindari tatapan mataku...
Beranjak mereka satu persatu, berjalan mereka bergantian mendekati obor-obor yang diletakkan sepanjang jalan. Satu persatu lampion kertas yang mereka bawa terbang ke langit...
Dengan sekejap, langit malam yang sebelumnya gelap tampak terang benderang dipenuhi lampion. Satu persatu lampion semakin terbang meninggi lalu menghilang...
Semua orang tiba-tiba berjalan ke samping, sebuah jalan yang luas diberikan mereka untuk Raja tercinta yang tengah berduka...
Ayahku kembali melangkahkan kakinya dengan ribuan orang yang mengikuti langkah kakinya. Suara derap langkah kaki mereka semakin lama semakin meredam hingga tak terdengar lagi...
"Sebenarnya apa yang tengah kalian pikirkan?!" teriak Lux pada kami bertiga.
"Kalian kejam sekali membohongi mereka seperti itu, apa kalian tidak lihat bagaimana sedihnya mereka," ucap Lux kembali.
"Apa kami bertiga terlihat baik-baik saja di hadapanmu?" ucap Izumi dengan suara bergetar.
"Akupun, tidak ingin melakukannya Lux. Hatiku juga sangat sakit melihat mereka seperti itu," ucapku tertunduk.
"Tapi mau bagaimana, kami melakukannya untuk Ayah kami sendiri, kami melakukannya untuk keselamatannya. Kau tidak tahu, bagaimana selama seminggu penuh kami berada di antara hidup dan mati," ucapku lagi dengan suara bergetar.
"Rasanya sangat aneh menghadiri upacara pemakamanmu sendiri," sambung Haruki menimpali ucapanku.
"Tapi apa kau tahu Lux? Akupun juga lelah melihat Ayahku terus-menerus menderita seperti itu," tangis Haruki, menunduk ia seraya mengusap wajahnya menggunakan lengannya.
"Kau tahu, awalnya akupun menolak rencana ini. Tapi setelah aku pikir kembali, keselamatan Ayahku lebih penting dari apapun," sambung Izumi.
"Keselamatan apa maksud kalian? Apa kalian tidak tahu, Ayah kalian memanggil Kapten dan para wakilnya untuk kembali ke Kerajaan dan itu berarti..."
"Perang," jawabku singkat.
"Itu tidak akan terjadi..."
"Jika untuk memperkuat kekuatan militer aku akan mengiyakannya, akan tetapi untuk perang... Ayahku tidak akan melakukan hal ceroboh seperti itu," ucapku lagi seraya menatap balik Lux yang menatapku.
__ADS_1