Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXX


__ADS_3

“Ayah!”


Aku ikut melirik ke arah Kakek yang masih terdiam, ketika dia mengangkat sebelah tangannya … Tanah tiba-tiba bergetar, satu per satu pohon tumbuh mencuat dari dalam kabut mengelilingi kami. Semakin tinggi pohon-pohon tersebut tumbuh, semakin menipis juga kabut asap yang ada.


Aku kembali melirik ke arah Haruki yang juga terdiam menatapku. Aku ikut mengangkat wajahku ketika Haruki telah melakukan hal yang sama. Kugigit kuat bibirku ketika sebuah akar tebal berwarna hijau melilit dua orang yang seluruh tubuhnya diselimuti … Aku menunduk menatap telapak tangan yang sebelumnya mengusap benda cair yang jatuh di atas pipi. Kugenggam erat telapak tanganku itu yang telah terdapat bercak lumpur di sana.


Aku melangkah maju lalu duduk berjongkok, telapak tanganku gemetar kuat saat bergerak mendekati wajah laki-laki tersebut. “Tsu nii-chan,” tukasku gemetar sambil mengusap pelan lumpur yang memenuhi wajahnya.


“Mereka hanya tidak sadarkan diri. Beruntungnya, bibi kalian ini menemukan mereka dengan cepat.”


“Terima kasih.”


Aku mengangkat kepalaku ketika Haruki mengatakannya, dia yang duduk di samping Tatsuya menatap lama ke arah Bibi, “terima kasih. Aku, benar-benar berterima kasih,” ucap Haruki kembali yang dibalas oleh anggukan pelan kepala bibi.


Aku kembali mengusap wajah Tsubaru dengan perlahan menggunakan jubah yang aku kenakan. Kuangkat kepalanya hingga kepalanya bersandar di lenganku, kembali telapak tanganku yang memegang ujung jubah bergerak mengusap pelan hidungnya saat dia masih tak sadarkan diri rangkulanku.


Aku menoleh ke samping saat suara keras beberapa kali terdengar, kedua mataku tertegun menatap seorang Kakek tua, seekor Singa, seekor Kelinci, seekor Ikan, dan bahkan seekor Burung yang dililit oleh akar hingga dia tak bisa terbang. Aku menoleh ke arah Kakek yang berjalan melewatiku dengan beberapa Elf kecuali bibi ke arah lima makhluk itu.


Kakek kembali mengangkat tangannya hingga beberapa pepohonan yang mengelilingi kami itu mengangkat akar mereka melilit kelima makhluk tadi. “Pergilah mendekat jika kalian penasaran, bibi akan menjaga mereka berdua,” bibi menganggukkan kepalanya saat aku menoleh ke arahnya.


Aku mengangguk pelan dengan kembali meletakkan kepala Tsubaru di dedaunan yang tiba-tiba tumbuh membentuk lingkaran layaknya sebuah bantal di tanah. Aku beranjak berdiri lalu berjalan dengan cepat mendekati kakek dengan Haruki yang juga ikut berjalan di sampingku.


“Mereka dapat merubah bentuk tubuh mereka, jadi berhati-hatilah,” tukas Kakek ketika aku telah menghentikan langkah di sampingnya.

__ADS_1


“Merubah bentuk? hutan?" gumamku dengan menatap sosok Kakek berjenggot putih yang berusaha melepaskan diri dari jeratan akar.


“Leshy?” Aku segera melirik ke arah Haruki yang juga ikut bergumam menatapi mereka.


“Leshy kah? Tangkapan yang sangat bagus,” ucapku berjalan mendekati sosok kakek yang sihirnya lebih kuat dibanding empat yang lain.


“Kou, hancurkan pelindung sihir ini. Aku, telah mendapatkan tangkapannya. Jadikan mereka sebagai budak,” ucapku sambil berjalan mendekati kelima makhluk itu.


“Sa-chan, apa yang kau maksudkan?” tanya Haruki menggunakan bahasa Inggris.


“Aku berbohong perihal tidak bisa memanggil Kou. Aku meminta Kou untuk menunggu di luar sambil menjaga Izu nii-chan dan yang lainnya. Lagi pun, jika aku langsung menggunakan Kou … Aku tidak bisa menjamin akan menemukan Tsubaru dan juga Tatsuya. Karena itu, aku melakukan hal ini … Semuanya, berjalan sesuai rencana yang aku susun. Aku, akan menjelaskan semuanya kepadamu nanti lebih jelas, nii-chan,” tukasku yang kembali menjawabnya menggunakan bahasa Inggris, aku menarik napas dalam dengan tetap menatap kelima makhluk tadi.


Aku melirik ke samping pepohonan yang tiba-tiba bergoyang lalu terangkat ke atas. “Sachi! Haruki!” tukas Izumi yang tiba-tiba muncul dengan yang lain ketika beberapa pohon yang terangkat membentuk sebuah jalan.


Aku meraih lalu menggenggam lengan kakekku ketika kepala pria tua itu tumbuh tanduk berwarna kecokelatan. Rambut, berserta janggutnya yang semula berwarna putih, berubah menjadi hijau layaknya lumut. Tubuhnya semakin tumbuh besar dan tumbuh besar, dengan gurat-gurat kecokelatan layaknya pohon. Kou melemparkan tubuh makhluk itu ke tanah, “panggil dia, My Lord!” tukas Kou sekali lagi dengan menginjak tubuh makhluk tersebut.


“My-” sekujur tubuhku merinding saat suara menggelegar dari makhluk itu keluar, “My Lord,” sambung makhluk itu kembali, semakin kuat genggaman tanganku mencengkeram lengan kakekku ketika makhluk itu menatapku dengan kedua matanya yang hitam pekat.


Aku meneguk ludah, tubuhku tertegun ketika empat hewan yang sebelumnya dililit akar pohon tumbuh besar hingga menghancurkan akar yang melilit tubuh mereka. Aku menarik napas dalam sambil melepaskan genggaman tanganku di lengan Kakek, “urus mereka Kou! Pastikan, mereka tidak bisa berkutik kembali,” ungkapku sambil berjalan mendekati bibi yang berdiri menatap Tsutomu dan para wakil kapten yang tengah duduk mengelilingi Tatsuya dan juga Tsubaru.


“Bagaimana keadaan mereka?” tanyaku, Tsutomu mengangkat kepalanya menatapku sebelum menundukkan kembali pandangannya menatap Lux yang tengah berdiri di dekat hidung Tatsuya.


“Aku akan mengobati mereka. Tsutomu, apa kau bisa membantuku mengambil tas milik Sachi yang ada di kudanya?” tukas Lux yang langsung dibalas anggukan kepala Tsutomu.

__ADS_1


“Bibi, terima kasih,” ucapku ketika dia telah berjalan lalu berhenti di hadapanku.


“Sudah menjadi tugas seorang bibi membantu keponakannya yang sedang mengalami masalah,” sambungnya yang bergerak mencubit pipiku.


“Bibi, bisakah aku bertanya satu hal? Sejak kapan, bibi bisa berbicara manusia?”


“Sejak kau belum lahir, sejak ratusan tahun yang lalu. Kami bisa mengendalikan tumbuhan, katakan! Berapa banyak tumbuhan yang tumbuh di dunia manusia? Sebanyak tumbuhan itu, mustahil jika kami tidak mengerti apa yang manusia ucapkan,” sambungnya yang semakin menambah cubitannya di kedua pipiku.


“Putri, Yang Mulia meminta kita semua untuk pulang.”


“Secepat itu? Ayah!” gerutu bibi kepada salah satu Elf yang berdiri di dekat kami.


“Padahal aku ingin sekali mengenal keponakan-keponakanku. Ayah, tega sekali,” rengeknya sambil merangkul pundakku menatap Kakek yang masih berdiri di tempatnya berdiri sebelumnya.


“Kakek, apa Kakek masih membenci manusia?”


“Mengenal manusia hanya membuang-buang waktu.”


“Tidak membuang-buang waktu. Mereka sama seperti kita, mereka memperjuangkan apa yang mereka ingin perjuangkan, mereka menjaga semua yang ingin mereka jaga.”


“Diamlah kau, Peri rendahan!”


“Kakek! Lepaskan dia! Aku tidak akan memaafkanmu jika kau menyakiti temanku!” bentakku kepadanya, aku berlari mendekati Lux yang kembali terjatuh di tubuh Tatsuya ketika akar yang tumbuh sebelumnya melilit lehernya.

__ADS_1


“Teman? Bangsa Pengkhianat itu disebut teman? Apa leluhur para Peri tidak menceritakan apa yang mereka perbuat kepada Isteriku? Meninggalkan Tuannya hanya karena Tuannya ingin mendapatkan kebahagian … Mereka Egois, para peri tersebut rendahan, menjijikan,” tukas Kakek yang masih berdiri membelakangi.


__ADS_2