
Kuda yang kami tunggangi berlari cepat, kutatap benteng tinggi yang ada di hadapan kami, gerbang yang ada di benteng tersebut telah terbuka lebar meninggalkan dua mayat yang tergeletak di depannya.
Arata semakin cepat menggerakkan kudanya, pandangan mataku bergerak ke sekitar saat kuda yang kami tunggangi berlari melewati gerbang. Arata melompat dari atas kuda, ujung tombak yang ia genggam bergerak di samping tubuhnya seraya kedua kakinya berjalan mendekati seorang Kesatria musuh yang berlari ke arahnya.
Tombak milik Arata berayun cepat ke depan, kutatap kesatria yang ada di hadapannya berdiri terpaku. Arata kembali menarik tombak miliknya ke atas, tubuh Kesatria musuh yang ada di hadapannya itu terbelah dari pinggang kanannya ke pundak kirinya.
"Hime-sama!" Teriak Arata kuat, kugerakkan tubuhku melompat dari atas kuda lalu berlari ke arahnya.
Arata berjalan di depanku, tombak yang ia genggam semakin bergerak cepat menghalau setiap serangan musuh yang berlari ke arah kami. Tubuh Arata berhenti sejenak saat sebuah panah menembus pundaknya, "Arata lindungi aku," ucapku seraya kulepaskan pedang yang aku genggam ke tanah.
Arata mengangkat sebelah tangannya, meraih lalu mencabut panah yang menempel di pundaknya, "serah ... kan, semuanya padaku, Hime-sama," ucapnya yang sempat terhenti sejenak.
Kuangkat busur panah yang menggantung di pundak kiriku lalu kugenggam dengan kuat busur panah tersebut menggunakan tangan kiriku. Telapak tangan kananku bergerak meraih anak panah yang ada di punggungku, dengan cepat ... Kuarahkan anak panah tersebut menembus kepala salah satu pemanah musuh yang bersembunyi di lantai dua Istana.
Kedua mataku sedikit membesar, kepalaku tertunduk dengan tangan kiriku bergerak meraih anak panah yang tertancap di pundakku, "Hime-sama," ucap Arata terdengar khawatir.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku," ucapku, kugigit kuat bibirku saat tanganku tadi menarik perlahan anak panah tersebut.
"Sialan," ucap Arata terdengar perlahan, dia berbalik lalu menarik tanganku berlari mengikutinya. "Hime-sama," ucapnya saat langkah kaki kami berdua berhenti di salah satu pohon besar yang ada di sekitar.
"Tunggulah di sini Hime-sama, aku akan menghabisi mereka semua," ucapnya, seraya disandarkannya tombak yang ia genggam tadi di batang pohon.
Arata kembali berlari cepat meninggalkanku, kedua kakinya bergerak mendekati pedang miliknya yang aku letakkan di atas tanah sebelumnya. Langkah kaki Arata kembali berlari cepat ke arah pasukan pemanah musuh, panah-panah musuh berkali-kali hampir mengenai tubuhnya.
__ADS_1
Arata berbelok tajam ke kanan, kedua kakinya berlari cepat mendekati salah satu pohon besar. Arata melompat ke atas pohon, tubuhnya menghilang dibalik rimbunnya dedaunan di pohon tersebut.
Para pemanah pasukan musuh semakin gencar menembakkan anak panah mereka ke dedaunan yang ada di pohon tempat Arata bersembunyi. Arata melompat dari atas pohon, kedua kakinya berlari cepat mendekati para pemanah tersebut.
"Cepat sekali," ucapku pelan saat Arata mengayunkan pedang yang ada di tangannya ke tubuh salah satu pemanah.
Pedang milik Arata kembali bergerak menebas dada pemanah yang lain, Arata berlari ke samping ... Kedua kakinya berlari menapak dinding sebelum tubuhnya melompat berbalik ke belakang menebas punggung pemanah lainnya yang mengejarnya.
Aku tidak tahu, jika wakil kapten Kerajaan kami ... Sehebat dia.
Tubuhku sedikit terhentak saat kurasakan sesuatu menyentuh pundakku, kuangkat anak panah yang masih berada di genggaman tanganku tadi. "Jangan melakukan hal bodoh, aku Kakakmu," ucap suara itu berbisik di telingaku.
Aku sedikit melirik ke kanan, wajah Izumi yang telah berada di sampingku membuatku sedikit terkejut. "Kenapa dengan tanganmu? Apa kau terluka?" Tanyanya, yang sedikit menarik sebelah lenganku yang tak terluka hingga tubuhku sedikit berputar di hadapannya.
"Hanya luka kecil," ucapku pelan sembari kugerakkan kembali kepalaku menatap ke arah Arata yang masih bertarung.
"Kau harus menekan lukanya, atau darahnya akan terus keluar," ucap Izumi melipat robekan pakaiannya, diarahkannya robekan pakaiannya tadi menyentuh luka di pundakku.
Keningku sedikit mengerut, bibirku tertutup rapat saat Izumi menekan luka di pundakku tadi, "bertahanlah, jangan terlalu banyak bergerak," ucapnya seraya kepalanya kembali bergerak menatap ke arah Istana yang ada di belakang.
"Di mana Haru-nii?" Tanyaku dengan sedikit mencengkeram lengannya, "Haruki membawa pasukannya mencari Raja Tao," ucapnya kembali mengangkat robekan pakaian yang ia tempelkan di atas lukaku sebelumnya.
"Lalu, apa yang kau lakukan di sini nii-chan?" Tanyaku kembali padanya, "aku? Aku sedang mencari Pangeran mereka yang bersembunyi. Lalu, aku berhenti karena melihatmu," ucapnya dengan pandangan matanya menatapi robekan pakaian penuh darah yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Hime-sama," suara Arata kembali terdengar, "apa yang kau lakukan? Bagaimana bisa kau membiarkan dia terluka?!" Izumi membentak keras, kualihkan pandanganku pada Arata yang berlutut di hadapannya.
"Ampuni, kesalahanku, Yang Mulia," ucapnya dengan sebelah tangannya menyentuh dadanya. "Nii-chan, itu bukan kesalahannya. Arata telah melakukan yang terbaik untuk menjagaku," ucapku meraih lengannya.
"Lagipula, ini bukan saat yang tepat nii-chan," ucapku, Izumi sedikit menggerakkan matanya melirik ke arahku, "aku mengerti," ucapnya, dengan sedikit memijat keningnya.
"Berjalanlah lurus ke arah sana. Haruki berserta pasukannya pergi ke arah sana," ucap Izumi, diangkatnya jari telunjuknya ke arah kanan.
"Aku mengerti. Arata!" Ungkapku sedikit meninggi memanggil namanya, "berhati-hatilah," ucap Izumi, sebelah tangannya bergerak menahan lenganku.
Aku mengangguk membalas perkataannya, Izumi melepaskan tangannya di lenganku sebelum dia berbalik lalu melangkah menjauhi kami. "Hime-sama, terima kasih," ucap Arata yang telah berdiri di hadapanku.
"Simpan terima kasihmu sampai kita memenangkan pertarungan ini," ucapku sedikit menggerakkan kepala ke arah tombak miliknya.
Arata meraih tombak miliknya seraya sebelah tangannya menjatuhkan pedang berlumuran darah yang ia genggam sebelumnya. Aku menunduk meraih pedang yang ia lemparkan ke tanah, "aku memerlukan pedang untuk melindungi diriku sendiri," ucapku saat dia berusaha melarangku untuk tidak mengambil pedang tersebut.
"Cepatlah Arata, aku ingin ini berakhir secepatnya," ucapku berbalik melangkahkan kaki meninggalkannya.
Arata mempercepat langkah kakinya hingga dia berjalan membelakangiku, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri bergantian, berusaha memastikan keadaan di sekitar kami.
Kuikuti langkah kakinya menaiki tangga luas yang ada di hadapan kami, tangga tersebut berakhir di sebuah pintu berdaun dua yang sangat besar dan juga tinggi. Pintu cokelat yang penuh akan ukiran bunga tersebut terbuka lebar diikuti bau anyir yang menyeruak ke hidung saat aku melangkah masuk ke dalam.
Percikan-percikan darah memenuhi dinding lorong yang kami lewati, mayat-mayat memakai baju zirah bergelimpangan di sekitar. Kondisi mereka bermacam-macam, ada yang putus kedua lengan dan kakinya, bahkan ada yang hancur setengah kepalanya.
__ADS_1
Prang!
Suara pecahan kaca terdengar sangat jelas, "lewat sini, Hime-sama. Kumohon berhati-hatilah," ucap Arata, kuikuti langkah kakinya yang mengendap-endap mendekati suara pecahan kaca yang terdengar kembali.