Fake Princess

Fake Princess
Chapter LXXVI


__ADS_3

"Seperti itulah kira-kira yang aku maksudkan," ucapku kembali menatap mereka satu persatu.


"Lalu, apa Kou memberikan informasi lain tentang itu?" ungkap Haruki mengalihkan pandanganku.


"Kou?" ucap Zeki ikut menatapku.


"Nama temanku," balasku menatapnya.


"Sebenarnya tepat sebelum aku tak sadarkan diri, aku merasakan sesuatu... entahlah, mungkin sihir yang seakan menusuk-nusuk jantungku, kau merasakannya juga bukan Danur?" ungkapku padanya, dibalasnya perkataanku tadi dengan sebuah anggukan cepat dari Danurdara.


"Sayangnya, kemampuanku merasakan sihir itu hanya dikarenakan temanku menyalurkan sihirnya untuk melindungiku..."


"Akan tetapi, untuk keselamatan kita. Kami berdua memutuskan untuk melepaskan ikatan sihir diantara kami untuk sementara waktu, karena jika kami masih melakukannya..."


"Musuh akan mengetahui keberadaannya, dan itu berarti sebuah celaka untuk kita semua. Karena itulah Danur..." ucapku lagi menatap ke arahnya.


"Aku menyerahkan semuanya kepadamu, jika kau rasa di hadapan kita ada bahaya. Katakan, dan kita semua akan berusaha menghindarinya. Kau bisa melakukannya bukan?" sambungku kembali menatapnya yang masih tengah tertunduk.


"Apa kau bisa melakukannya Danur?" sambung Adinata menepuk pelan punggung adiknya itu.


"Ba-bagaimana ji-jika a-aku me... melakukan ke-kesalahan?" ungkapnya lagi dengan terbata-bata.


Beranjak aku berdiri seraya berjalan mendekatinya, duduk aku dihadapannya seraya kugenggam tangannya...


"Lihat aku, manusia bukanlah seorang manusia jika tak melakukan kesalahan. Jika memang nantinya kau melakukan kesalahan, kami akan membereskan semuanya untukmu," kutatap matanya yang juga balik menatapku sebelumnya.


"Lalu apalagi yang harus kita lakukan Sa-chan?"


"Kou mengatakan, jika kita harus menghancurkan inti sihirnya. Dan juga kata terlarang," ucapku berbalik menatap Haruki.


"Kata terlarang?" ucap Izumi balik bertanya.

__ADS_1


"Setiap sihir yang dibangun Naga biasanya memiliki kata terlarangnya tersendiri, dan biasanya kata terlarangnya itu tidak lain... Bagaimana aku menjelaskannya..." ungkapku seraya menggaruk-garuk pelan kepalaku.


"Kata terlarang tersebut biasanya tidak lain dan tidak bukan hampir sama dengan maksud diciptakannya sihir tersebut..."


"Apa kalian masih ingat dengan apa yang dikatakan laki-laki tua tersebut? Jangan berharap jika ada yang dapat melarikan diri sebelum ada yang menuntaskan permainan," ucapku yang dibalas anggukan dari mereka semua.


"Melarikan diri, apa yang dimaksudkan dengan melarikan diri? Jangan katakan kata-kata tersebut, simpan di dalam benak kalian masing-masing..."


"Apa kalian telah paham maksud dari perkataanku?" ucapku lagi, kutatap Haruki dan Adinata yang mengangguk seakan paham tentang apa yang aku maksudkan.


"Aku tidak mengerti apa maksudnya," tukas Sasithorn pelan tertunduk.


"Sebenarnya, aku juga tidak terlalu yakin. Hanya saja, tidak ada salahnya bukan untuk berjaga-jaga," ucapku menatapnya.


Beranjak aku berdiri mendekatinya, kutatap Zeki yang duduk tak begitu jauh darinya. Kuangkat telapak tanganku seraya kuarahkan ke arahnya...


"Pedangmu, kumohon," ucapku menatapnya, diangkat dan diletakkannya pedang yang ia pegang diatas telapak tanganku.


Kubuka sarung pedang tersebut seraya kutancapkan di tanah. Kugerakkan pedang tersebut seraya membentuk sebuah tulisan...


"Apa kalian telah mengerti dengan yang aku maksudkan?" ucapku menatap mereka yang tampak fokus menatap tulisan pada tanah yang aku buat.


"Jangan sesekali mengucapkan kata-kata tersebut, apapun yang terjadi jangan ucapkan," ungkapku lagi.


"Kenapa?" ungkap Luana menatapku.


"Karena kau akan kehilangan nyawamu saat itu juga. Jika kau tak percaya, aku tidak akan melarangmu untuk mencobanya," ungkapku melirik ke arahnya.


"Bukankah aneh, bagaimana bisa kau mengetahui semuanya?" ungkapnya lagi.


"Karena aku, melakukan kontrak pada hewan yang sama..." ucapku, kuangkat rambut yang menutupi leher seraya menunjukkan tanda kontrak yang ada di leherku padanya.

__ADS_1


"Kontrak?" ucap mereka bertujuh bergantian.


"Aku telah mengatakannya bukan, temanku bukanlah seorang manusia."


"Dia bisa saja membawaku dari sini, tapi itu hanya aku sendirian. Kalau bukan kedua kakakku, tunanganku dan juga temanku Julissa tidak berada disini, aku akan memerintahkannya membawaku pergi dari sini saat ini juga," ungkapku lagi padanya.


"Dan aku ingatkan kepadamu, aku mengajakmu bergabung karena kau adalah tunangan dari Kakakku Haruki. Jika tidak, aku hanya akan mengajak mereka yang aku anggap berguna."


"Bukankah sudah kukatakan, aku tidak menyukai seseorang yang tidak bisa menilai kemampuan dirinya sendiri. Pintar dan berpura-pura pintar, mereka tetaplah berbeda," berbalik aku seraya berjalan menjauhi mereka.


"Nii-chan, jangan membuang banyak waktu. Kita akan berada dalam bahaya jika belum bisa menemukan tempat berlindung sebelum gelap," ungkapku, kugenggam dengan kuat pedang Zeki yang masih ada di tanganku.


"Danur, kemarilah!" ungkapku berbalik menatap Danur, beranjak ia berjalan disampingku.


"Apa kau merasakannya? sihir atau kekuatan jahat yang kau maksudkan itu?" ungkapku lagi padanya.


"Di.. di se-sebelah sa-sana, A-aku me-merasakannya se-sedikit," ucapnya seraya menunjuk ke sebelah kanan kami.


"Bagaimana menurutmu nii-chan?"


"Kita hanya harus menghancurkan inti sihirnya bukan? kita tidak perlu menghadapi makhluk-makhluk itu, akan tetapi..." ucap Haruki ikut berdiri di sisi sebelah kananku.


"Kita tidak akan dapat menemukan inti sihir itu jika terus-menerus menghindari sihir itu sendiri," ucapku, dibalasnya perkataan dariku dengan anggukan kepala darinya.


"Bagaimana menurutmu Izumi?"


"Jumlah kita terlalu banyak untuk bergerak sembunyi-sembunyi, mau tidak mau kita akan bertarung dengan salah satu atau dua atau lebih dari mereka. Tidak akan ada masalah jika kita semua punya kapabilitas dalam bertarung, akan tetapi..." balasnya seraya menggaruk-garuk kepalanya.


"Ini bunuh diri," ucapku duduk berjongkok, kututup wajahku menggunakan kedua telapak tanganku.


"Namamu Danur bukan? Apa kau bisa menggunakan pedang atau panah?" terdengar suara Zeki berbicara, kuangkat kepalaku menatap ke arahnya.

__ADS_1


"A-aku bi-bisa me... memanah," ungkap Danurdara ikut menatap ke arah Zeki.


"Jika begitu, dengarkan rencanaku," ucap Zeki kembali seraya menatap kami satu persatu.


__ADS_2