Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLXVI


__ADS_3

“Aku sudah memperingatkan kalian, apa kalian yakin … Ingin tetap pergi ke sana?”


“Justru, aku sangatlah penasaran … Siapa yang memberikan kabar tersebut kepada Adinata. Aku penasaran, siapa yang mengetahui jika kami tertarik pada hal itu.”


“Hal itu?” Alma balik bertanya kepadanya.


Haruki tersenyum dengan kedua mata mengarah padanya, “hanya sesuatu yang menarik perhatianku,” jawabnya sambil melangkahkan kakinya melewati Alma yang berdiri di hadapannya.


Aku melirik ke arah Haruki yang berjalan mendekati kotak berisi buah-buahan yang ada di dekat Eneas, dia meraih beberapa stroberi yang ada di dalam kotak itu lalu memakannya. “Izumi, Sachi, Eneas … Pulihkan tenaga kalian terlebih dahulu sebelum kita melanjutkan perjalanan. Terlebih untukmu, Sa-chan,” ungkapnya dengan kembali meraih beberapa butir anggur yang ada di dekatnya.


“Kou, aku baik-baik saja, sekarang. Kau bisa pulang,” bisikku sambil melangkah berbalik mendekati Haruki.


“Apa kau yakin kita akan ke sana?” Izumi berbicara menggunakan bahasa Jepang saat dia menghentikan langkah kakinya di samping Haruki.


“Entahlah. Aku tahu jika ini, kemungkinan sebuah jebakan, tapi itu malah membuatku semakin tertantang,” Haruki menjawab perkataan Izumi menggunakan bahasa yang sama.


“Bagaimana denganmu, Sa-chan?”


“Aku pun, juga merasakan hal yang sama. Lagi pun, kita memiliki Kou, jika Kou tidak merasakan apa pun … Kita bisa langsung pergi dari sana,” ungkapku yang ikut menggunakan bahasa Jepang kepada mereka.


“Baiklah, kita sudah memutuskannya.”


“Apa yang kalian putuskan? Aku, masih belum bisa menggunakan bahasa itu,” suara Eneas terdengar menimpali perkataan Haruki.


“Berusahalah lebih keras, adikku,” ungkap Izumi, Eneas mendecakkan lidahnya saat tangan Izumi bergerak menepuk kepalanya.


_________________


Aku berjalan mengikuti Haruki dan juga Alma yang berjalan menuntun kami, langkah kakiku terhenti saat mereka berdua telah lebih dulu menghentikan langkah kaki mereka di hadapan para Kesatria berkuda yang berbaris di hadapan kami. “Kami membutuhkan kuda. Karena itu Alma, bisakah kau berbaik hati memberikan kami kuda?” tukas Haruki, dia menoleh ke arah Alma yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


“Bagaimana, wakil kapten?” timpal Alma kepada seorang laki-laki paruh baya yang menunggangi seekor kuda berwarna hitam di hadapannya.


“Kita bahkan kekurangan kuda. Sebagian kuda kita, telah kita jual hanya untuk membebaskan para budak,” ungkap laki-laki paruh baya tersebut dengan kedua matanya yang melirik tajam ke arahku.


“Menjengkelkan sekali. Izinkan aku untuk membunuhnya, Haruki,” gumam Izumi menggunakan bahasa Jepang di sampingku.


“Tidak perlu. Terlihat sekali, jika dia jarang keluar dari Kerajaannya, seperti seorang Harimau yang kehilangan taringnya ketika mengunjungi sarang musuh … Apa kau, tidak merasa iba padanya, Izumi?” Haruki balas bergumam dengan bahasa yang sama sambil wajahnya tersenyum menatap laki-laki paruh baya tadi.


“Apa yang kalian bisikkan?”


Haruki berjalan melewati para pasukan tanpa mengindahkan pertanyaan wakil kapten yang menjaga Alma, “kalian akan menyeberang lautan, bukan? Berhati-hatilah dengan ombak besar, yang bisa menelan kalian semua hidup-hidup,” ucap Haruki ketika langkah kakinya semakin jauh meninggalkan mereka.


Aku melirik ke arah Alma dan juga pasukannya yang seketika terhenyak oleh perkataan Haruki sebelumnya, “Ha-Haruki! Sachi,” ucap Alma saat aku telah berjalan melewatinya.


“Kakakku hanya bercanda. Jangan terlalu ditanggapi serius,” ungkapku berbalik tersenyum menatapnya, aku kembali melanjutkan langkah dengan melirik ke arah wakil kapten yang terdiam tak bersuara di atas kudanya.


Kami berempat berjalan beriringan, langkah kakiku berhenti saat Haruki yang memimpin jalan kami juga menghentikan langkah kakinya, “bagaimana? Apa kalian sanggup untuk berjalan sekarang? Atau haruskah kita menunggu sampai besok, agar kalian dapat beristirahat terlebih dahulu?” tanya Haruki, ketika dia berbalik menatapku.


“Bagaimana dengan kalian berdua?” tukas Haruki kembali, pandangan matanya mengarah ke arahku dan Eneas bergantian.


“Aku pun sama, aku sampai merinding karena bau yang masuk di hidungku tidak kunjung menghilang,” pandangan mataku beralih kepada Eneas. Dia tertunduk dengan telapak tangan menutup hidung berserta mulutnya.


“Apa aku harus memanggil Kou kembali, agar kita bisa cepat pergi dari sini?”


Haruki beralih menatapku, “masalahnya, bukan hanya itu yang harus kita hadapi kedepannya,” ungkapnya, Haruki mendongakkan kepalanya dengan kedua lengannya berkacak di pinggangnya, “kita, kehilangan tabungan harta untuk membebaskan banyak budak. Jika pun, kita pergi ke wilayah terdekat menggunakan Kou. Kita, tidak memiliki simpanan uang apa pun untuk memenuhi kebutuhan kita. Dan juga, bukan hanya kuda … Kita juga membutuhkan senjata,” sambung Haruki dengan kembali mengarahkan pandangannya padaku.


“Aku mengerti,” ungkapku berjalan melewatinya.


“Apanya? Apanya yang dimengerti?”

__ADS_1


“Diamlah, Eneas! Aku pun tidak paham apa yang mereka maksudkan, mungkin mereka berbicara lewat pikiran satu sama lain,” gerutu Izumi yang terdengar dari belakangku.


“Itu karena ikatan batin di antara kami berdua sudah terlalu kuat.”


“Tutup mulutmu, Haruki! Aku menolak untuk menerimanya,” Izumi lagi-lagi terdengar menggerutu menimpali perkataan yang diucapkan Haruki.


Aku terus berjalan dengan melemparkan lirikan ke kanan dan juga ke kiri bergantian, “Kou, datanglah! Aku membutuhkan bantuanmu,” bisikku sambil kembali mengarahkan pandangan ke depan.


“Mendaratlah di mana tidak ada manusia di sekitar. Aku, akan ke sana dengan mengandalkan Lux,” ungkapku kembali sembari menghentikan langkah diikuti pandangan mataku yang mendongak ke atas.


“Ada apa?”


Aku melirik ke arah Izumi lalu menggeleng pelan, dia menghela napas sebelum berjalan mendekatiku, “naiklah!” tukasnya sembari berjongkok membelakangiku.


“Jangan coba membohongi kakakmu sendiri. Apa kau pikir, kami bersamamu hanya dalam setahun atau dua tahun terakhir?”


“Aku menjagamu dari kecil, jadi aku paham … Bagaimana sikapmu yang suka menyembunyikan sesuatu. Naiklah!”


“Kau benar-benar tidak ingin kalah. Sampai kapan, kau akan bersaing dengan Kakakmu ini," ucap Haruki dengan mengangkat telapak tangan menutupi bibirnya.


“Kau-”


“Izu nii-chan,” ucapku yang langsung merangkulkan tubuh di pundaknya, berusaha untuk menahannya berdiri, “kau memang yang terbaik. Tapi Izu-nii, apa kau tidak merasa sedang diperhatikan?” bisikku di dekat telinganya.


“Aku memanglah lelah, kakiku hampir sulit digerakkan. Tapi, aku tidak ingin jika ada yang mengetahui kelemahanku. Karena itu, aku tidak bisa memperlihatkan kelemahanku pada siapa pun,” bisikku kembali dengan melirik ke arah beberapa Kesatria yang mencuri pandang ke arah kami sambil menundukkan pandangan seakan mencari sesuatu.


“Kau mengkhawatirkan mereka?”


“Nii-chan,” ungkapku terkejut saat dia tiba-tiba telah berdiri dengan menggendongku di punggungnya.

__ADS_1


“Jika kau benar-benar mengkhawatirkan mereka. Lalu, apa gunanya Haruki … Kalau dia tidak bisa membuat Juste untuk menutup mulut mereka. Aku benar bukan, Kakak?” timpal Izumi diikuti wajahnya yang menoleh ke samping.


Haruki menatap kami dengan bibirnya yang sedikit terbuka sebelum dia menggigit bibirnya itu kembali, “kau benar, apa yang tidak untuk adik-adikku. Aku benar-benar akan menghajarmu saat kita telah pergi dari tempat ini, Izumi. Kau tunggu saja, adikku,” ungkapnya dengan tersenyum menatapi kami.


__ADS_2