Fake Princess

Fake Princess
Chapter DIX


__ADS_3

“Tatsuya? Apa yang kau lakukan di sini?” tukasku ketika dia melangkah mendekat.


“Putri, apa yang kalian lakukan? Keluar di malam hari seperti ini,” Tatsuya balas bertanya ketika langkah kakinya berhenti di hadapanku.


Aku ikut menoleh ke belakang, menatap Tatsuya yang sudah membuang pandangannya ke arah Tsubaru di belakangku, “aku tidak bisa tidur. Jadinya, aku mencari udara segar sejenak dengan meminta Tsubaru untuk menjagaku,” ucapku yang kembali melemparkan pandangan kepada Tatsuya.


“Lagi pun, apa yang kau lakukan di depan kamarku?” Aku balik bertanya dengan sedikit mengerutkan kening menatapnya.


“Ada yang ingin Yang Mulia tunjukkan,” tukas Tatsuya yang berbalik membelakangi, “Putri, dan kau Tsubaru, ikuti aku sekarang!” ucapnya lagi ketika dia telah melangkahkan kakinya.


Aku berbalik menoleh ke arah Tsubaru sebelum mataku kembali beralih kepada Tatsuya diikuti kedua kakiku yang berjalan mengikutinya dari belakang, “apa terjadi sesuatu?” tanyaku, Tatsuya masih saja melanjutkan perkataannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Dia berhenti sejenak sebelum berbelok dengan mengetuk pintu yang ada di sebelah kanan kami. Tangan Tatsuya bergerak membuka pintu tersebut sebelum suara laki-laki mempersilakannya untuk masuk ke dalam, dia menoleh ke arah kami lalu melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Aku menarik napas dalam sebelum ikut melangkah masuk mengikutinya.


“Kalian telah datang?”


Aku menghentikan langkah dengan melirik ke arah Haruki dengan satu orang laki-laki paruh baya dan laki-laki muda yang berdiri di dekat mereka, “apa terjadi sesuatu, nii-chan?” tanyaku sambil melangkah lalu duduk di kursi yang ditunjuk oleh Haruki.


“Dia adalah Kapten kapal yang akan memimpin kita, dan … Jelaskan kepadanya, apa yang kau bicarakan sebelumnya,” tukas Haruki dengan melirik ke arah laki-laki paruh baya itu.


“Perempuan?” tukas laki-laki tersebut sambil mengernyitkan keningnya menatapku.


“Dia adikku, dan jaga bicaramu!” timpal Haruki yang membuat laki-laki itu langsung tertunduk.


“Ampuni kesalahanku, Putri,” sambung laki-laki paruh baya itu kembali dengan masih tertunduk.


“Tidak apa-apa, hanya lanjutkan saja perkataanmu,” ucapku sambil merapikan rambut ke samping kanan lalu menyandarkan diri ke punggung kursi.

__ADS_1


“Sekali lagi, kami ingin meminta maaf Putri. Tapi kami, tidak bisa mengantarkan kalian ke sana,” ungkapnya sambil mengangkat wajahnya menatapku.


“Kenapa? Kenapa kalian tidak bisa melakukannya?”


“Haruskah, perintah itu langsung berasal dari Ayah, agar kalian tidak bisa menolaknya?” tanyaku kembali kepada mereka.


Laki-laki paruh baya itu langsung duduk berlutut dengan kepala tertunduk, “beribu-ribu ampun, Putri. Jika Yang Mulia menghukum kami, bagaimana keluargaku akan hidup,” ucapnya yang masih tetap menundukkan pandangannya.


“Lalu? Jelaskan semuanya kepadaku, apa yang sebenarnya kau takutkan?”


“Pesisir laut di sekitar Kerajaan Ardenis diselimuti kabut tebal, jika pun para pedagang kami ingin berniaga di sana, mereka pasti hanya bisa menumpang di perbatasan Kerajaan lain. Jika kau, bukan penduduk asli Kerajaan itu, maka hidupmu akan berakhir ketika mengunjunginya, begitulah rumor yang tersebar di sana,” ucapnya dengan kembali mengangkat wajah.


“Lalu, apa yang kau takutkan? Hanya bawa kami ke tempat, maksudku perbatasan yang kau ucapkan-”


“Tapi Putri, Pangeran,” tukasnya yang langsung beranjak berdiri memotong perkataanku.


“Ta-tapi,” laki-laki paruh baya itu mengatakannya dengan sedikit terbata-bata.


“Aku Putri Kerajaan Sora, kalian adalah rakyat Kerajaan Sora yang sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga kalian semua. Aku bisa melindungi kalian dengan hanya memejamkan mata, dan aku bisa menghabisi kalian semua dengan cara yang sama … Jadi, ikuti perkataanku atau tidak, semuanya tergantung kepada kalian,” ungkapku beranjak berdiri dari kursi.


“Apa ada hal lain yang akan dibahas?” tanyaku kepada Haruki yang masih duduk bersandar di kursinya.


“Jika tidak ada, aku akan kembali ke kamar … Selamat malam, nii-chan,” sambungku yang dibalas dengan anggukan kepala dari Haruki.


________________.


Aku berjalan menyusuri lorong kapal, walau aku sudah membersihkan tubuh … Namun rasa kantuk yang mendera, masih saja enggan pergi. Aku menutup sedikit mataku ketika sinar matahari tiba-tiba jatuh ke mataku ketika lorong kapal itu berakhir, “apa yang mereka lakukan?” gumamku sambil menatap barisan laki-laki tengah bersorak mengelilingi sesuatu.

__ADS_1


Aku berjalan menghindari kerumunan itu lalu bergerak menaiki tong kayu yang semalam aku duduki. Kutatap apa yang tengah dikelilingi para laki-laki itu ketika aku berdiri di atas tong-tong kayu itu, “Tsu nii-chan, apa kau tidak ingin mengikutinya?” tanyaku dengan melirik ke arah Tsubaru yang berdiri di dekat tong kayu yang ada di sampingku.


“Aku bisa mengalahkan mereka semua dengan sangat mudah, Putri,” ucapnya tanpa menoleh ke arahku.


“Tsu nii-chan, kau percaya diri sekali,” ungkapku berjongkok dengan menepuk belakang punggungnya, “jika benar yang kau katakan, maka menangkan pertarungan itu untukku. Aku menginginkan perhiasan yang menjadi hadiah di tangan laki-laki itu,” ungkapku dengan tersenyum menatapnya.


Tsubaru menghela napas sebelum dia melangkah pergi mendekati kerumunan. Dia mengangkat sebelah tangannya ke atas saat laki-laki yang memegang gelang emas itu berteriak mengatakan siapa yang ingin menjadi penantang sebelumnya. “Kau meminta Tsubaru untuk mengikuti hal itu?” Aku berbalik menatap Izumi yang telah duduk di atas tong dengan Tsutomu yang berdiri di dekatnya.


“Nii-chan, sejak kapan kau di sini?” Aku balik bertanya dengan sedikit beranjak lalu duduk kembali di sampingnya.


“Aku sudah menonton mereka bertarung sejak awal, kau saja yang tidak menyadari keberadaanku,” ungkapnya dengan mengalihkan pandangannya ke arah Tsutomu, “Tsutomu, jika Tsubaru mengikutinya … Maka lawanlah dia, jangan biarkan Tsubaru mendapatkan perhiasan itu lalu membuat adikku besar kepala,” tukasnya, kutatap dia dengan sedikit bibirku yang terbuka.


“Laksanakan, Yang Mulia,” jawab Tsutomu sambil berjalan maju menjauhi kami.


“Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan, nii-chan?” ungkapku sambil menoleh ke arahnya.


“Aku tidak melakukan apa pun, aku hanya ingin melihat saat kedua wakil kapten kita bertarung dengan tangan kosong,” ucapnya yang berbicara tanpa sedikit pun menoleh.


“Kau benar-benar,” ungkapku sambil kembali membuang pandangan ke arah Tsubaru dan juga Tsutomu yang telah saling berdiri berhadapan di tengah-tengah kerumunan laki-laki.


“Tsutomu tidak akan membunuh Tsubaru, untuk apa kau khawatir? Atau, kau tidak mempercayai kekuatan pelayanmu yang selalu kau banggakan itu?”


Aku membuka mulutku menatapnya diikuti helaan napas yang keluar, “jika Tsutomu kebanggaanmu itu terluka, jangan tiba-tiba merengek dengan meminta Tsubaru untuk berhenti menyerangnya di tengah-tengah pertarungan, nii-chan,” balasku, kedua mata Izumi sedikit membelalak dengan bibirnya yang terbuka kecil, diikuti telapak tangannya yang menepuk dadanya sendiri ketika berbalik menatapku.


“Tsubaru! Apa pun yang terjadi menangkan pertarungan, jangan membuat nomor dua milikmu itu malu!” teriakku dengan tetap mengarahkan pandangan kepada Izumi.


“Tsutomu! Patahkan nomor yang tidak berguna itu untuk menutup mulut perempuan yang ada di sebelahku ini! Kau harus mengalahkannya!” Izumi balas berteriak tanpa berpaling menatapku.

__ADS_1


__ADS_2