Fake Princess

Fake Princess
Chapter DCVI


__ADS_3

“Hati-hati dengan langkah kakimu!” tukas Zeki saat dia berjalan di depan dengan menggenggam erat tanganku.


Genggaman tangannya semakin erat, tatkala kami berdua melangkahkan kaki di sebuah tanah menanjak di dalam hutan yang kami lalui. “Apa kau masih mengingat di mana tempatnya?” tanya Zeki saat kami berhenti sejenak.


Kepalaku bergerak ke sekitar, “ke arah kiri. Dia tinggal di sebuah gubuk dengan seorang perempuan tua bersamanya,” ucapku sambil menunjuk ke arah yang aku maksudkan.


Aku mengikuti langkah Zeki yang menggenggam tanganku itu, langkah kaki kami terus berlanjut hingga akhirnya berhenti di sebuah gubuk yang dulu pernah aku datangi. “Amanda! Apa kau di dalam?” tukasku sambil berulang kali mengetuk pintu gubuk tersebut.


“Amanda?” Aku kembali memanggil namanya, dengan ketukan tanganku di pintu yang kian bertambah dari sebelumnya.


“Pintunya tidak dikunci,” ungkap Zeki yang membuatku menoleh ke arahnya.


Zeki kembali mendorong pintu itu kembali hingga terbuka sepenuhnya, “tunggulah di sini! Aku akan memeriksanya ke dalam,” ucapnya, dia melepaskan genggaman tangannya sebelum melenggang masuk ke dalam gubuk.


Aku berdiri cukup lama di depan pintu, menunggunya dengan melemparkan pandangan ke sekitar. “Tidak ada siapa pun di dalam,” suara Zeki yang terdengar, kembali membuat pandangan mataku teralihkan kepadanya.


“Apa kau yakin?” Zeki menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaanku itu.


“Bagaimana dengan barang-barang yang ada di dalam?”


“Aku tidak terlalu memeriksanya. Tapi di dalam terlihat rapi, setidaknya kita bisa memastikan … Tak ada kejahatan yang mereka alami,” sahut Zeki, dia berjalan melewatiku dengan menutup kembali pintu.


“Bagaimana jika kita menunggu mereka? Mungkin mereka sedang pergi.”


“Wajahmu pucat, kau pun baru hanya memakan buah-buahan saja, itu pun baru beberapa saat yang lalu. Pulang denganku!” perintahnya dengan melangkahkan kakinya kembali mendekati,


Aku mencoba melirik ke arah belakangnya, saat angin kuat tiba-tiba berembus … Menerbangkan dedaunan yang ada di atas tanah. “Bahkan Kou saja sudah datang,” timpal Zeki, saat Kou melangkahkan kakinya mendekati gubuk yang kami datangi.


“Tapi, bagaimana janjiku dengan Haru-nii?”

__ADS_1


“Dia akan mengerti, mata-mata dia banyak … Haruki pasti dengan mudah menemukannya, jika dia ingin. Lagi pun, jika laki-laki tidak berjuang, dia tidak akan tahu rasanya menghargai pasangannya sendiri-”


“Sekarang kau membicarakan aku di depan Adikku sendiri?”


Lirikan mataku beralih ke arah suara Haruki yang terdengar, kutatap mereka bertiga yang berjalan melewati Kou lalu menghentikan langkah di depan gubuk. “Bagaimana lukamu, Izumi? Itu tidak terlalu dalam, bukan?”


“Kau, memang berniat untuk membunuhku tadi, bukan?” sahut Izumi sambil menggerakkan tubuhnya duduk di teras membelakangi kami.


“Itu salahmu karena menghalangiku.”


“Jika kau membunuhnya, itu akan memicu peperangan besar. Raja Benison, berteman dengan banyak sekali Kerajaan. Kau, hampir menghancurkan kerja keras kami-”


“Kerja keras dengan mengorbankan adik kalian? Omong kosong tentang hal itu, Haruki nii-san,” timpal Zeki, aku menggenggam tangannya agar berhenti untuk memancing emosi saudara-saudaraku.


“Seorang laki-laki, berjalan masuk begitu saja ke dalam kamar adik kalian … Dan kalian tidak melakukan apa pun padanya. Apa kalian benar-benar menjaganya? Atau itu hanya, omong besar yang kalian ucapkan-”


“Tutup mulutmu!” Lirikanku dengan cepat beralih ke arah Izumi yang beranjak berdiri, “tahu apa kau tentang menjaganya? Padahal kau baru menikahinya, padahal pernikahan kalian masih bisa dihitung harinya … Tahu apa kau tentang menjaganya-”


Izumi menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan kami saat Haruki memerintahkannya. “Bawa Sachi pulang bersamamu ke Yadgar, Zeki! Dan pastikan, kalian tidak akan lama membalas semua surat yang aku kirimkan.”


“Tapi nii-chan-”


“Sachi,” tukas Haruki kembali yang membuat bibirku terkatup, “kabar kehamilanmu, membuat mereka tidak bisa berpikir tenang. Semua orang, akan berusaha melindungimu dengan cara mereka masing-masing … Membuat semua orang berkumpul di satu tempat dengan waktu yang lebih lama dari ini, mungkin akan membuat pertumpahan darah.”


“Jadi pulanglah bersama Zeki, setidaknya itu akan memberikan kesempatan pada semua orang untuk menenangkan diri.”


“Lalu bagaimana dengan kalian?” tanyaku yang memotong perkataan Haruki.


“Aku sudah katakan, bukan? Aku akan mengunjungi dunia Elf, menanti kelahiran Putraku. Baik Izumi, Eneas, dan juga Lux … Mereka mengatakan akan ikut aku ke sana. Setelahnya, mungkin kami akan pulang ke Sora. Dan aku berniat, akan menikahkan Izumi selama di sana-”

__ADS_1


“Apa katamu?!” timpal Izumi yang dengan cepat memotong ucapan Haruki.


“Sebenarnya apa yang kau tunggu? Kalau itu Eneas dan juga Ryu, mungkin aku akan memaklumi mereka. Tapi kau, pasanganmu telah ada. Bahkan adikmu yang tidak mengerti laki-laki pun, sekarang sudah akan menjadi seorang Ibu!” bentak Haruki yang membuat kami tak mengeluarkan sepatah kata pun termasuk Izumi.


“Jangan hanya karena Sasithorn berdiam diri, lalu kau dapat melakukan apa pun padanya. Aku sudah katakan, bukan? Jika kau tidak berniat untuk menikahinya dalam waktu dekat, aku akan menikahkannya dengan laki-laki lain!”


Aku melirik ke arah Izumi yang semakin tak berkutik mendengar perkataan Haruki, “aku tidak akan mengajak seorang laki-laki yang takut melamar pasangannya ke dalam peperangan. Tidak peduli sekuat apa pun tubuhmu, jika hatimu terlalu pengecut untuk membangun sebuah keluarga. Maka enyahlah! Aku, tidak ingin seseorang seperti itu berdiri di sampingku saat peperangan itu datang, walau dia adikku.”


“Aku mengerti, Sialan! Aku akan mengirimkan surat kepadanya dan juga Ayah untuk mempersiapkan semuanya.”


Haruki tersenyum dengan melirik ke arah Izumi yang berjalan melewatinya, “kalian, pulang saja ke Yadgar. Semua urusan di sini, biar aku yang menanganinya-”


“Apa mereka tidak bisa memaafkan perbuataan Zeki?”


“Kenapa kau menanyakannya?” balas Haruki bertanya, “Pangeran tersebut yang seharusnya meminta maaf kepada kalian. Lagi pun, yang Zeki katakan benar adanya. Manusia sepertinya, tidak pantas menjadi Putra Mahkota-”


“Dari awal aku ingin memasuki Istana tersebut, karena aku tertarik untuk mengajak Pangeran Pertama untuk ikut berperang bersama kita. Dia diturunkan dari tahtanya sebagai Putra Mahkota, hanya karena tubuhnya lemah, selain dari itu … Dia sangat pantas untuk memimpin suatu Kerajaan.”


“Jadi?”


Haruki kembali tersenyum dengan menyilangkan kedua lengannya, “jadi aku diam-diam menghasutnya untuk bergabung bersama kita. Terima kasih kepadamu, Zeki … Berkat kau, kami bisa menarik sikap memalukan Vartan di hadapan Raja. Tidak sia-sia, aku memintamu bergabung pagi tadi-”


“Kau!”


“Zeki!” tukasku yang dengan cepat merangkul lengannya agar langkahnya yang hendak mendekati Haruki terhenti.


“Bagaimana dengan Alana? Bukankah, Pangeran pertama mendukungnya? Aku tidak menyukai perempuan tersebut!”


“Dia Ular, yang suka mencari simpati kepada mereka yang menurutnya menguntungkan. Rencana untuk memanfaatkan seseorang dengan memancingnya terlebih dahulu dengan kebaikan, kita sudah sering melakukannya, bukan?”

__ADS_1


“Pangeran pertama pun, melakukannya untuk meraih semua informasi yang bisa ia korek dari perempuan tersebut. Karena itu, aku membutuhkan kelicikan dari seseorang dengan takdir yang tak mendukung dirinya, seperti Pangeran pertama tersebut … Menjadi salah satu pasukan yang akan kau pimpin saat perang, Sa-chan,” sambung Haruki sambil menyunggingkan bibirnya menatapku.


__ADS_2