
"Jangan duduk di dekat jendela Sa-chan, ini sudah larut," ucapnya, kutundukkan kembali pandanganku menatap Kou yang tertidur pulas di bawah jendela kamar kami.
"Aku sedang memperhatikan Kou, lagipun nii-chan... Sudah lama sekali rasanya aku tidak melihat laut secara langsung," ungkapku, kualihkan pandanganku pada air laut yang jauh terlihat seraya kutarik selimut yang aku kenakan kembali membungkus seluruh tubuh.
"Terakhir kali kita ke laut saat usiamu tiga tahun bukan?" ungkapnya, kualihkan pandanganku kepadanya yang telah berdiri di sampingku.
"Kau benar, saat aku mengajari penduduk yang ada di sana bagaimana caranya membuat gula," ucapku seraya kembali menatap bias-bias laut sebelumnya.
"Apa yang kalian berdua lakukan?"
"Kau bangun Izumi?" ungkap Haruki, ikut kuarahkan pandanganku menatap Izumi yang tengah duduk bersandar di dinding dengan kedua tangan menutup wajahnya.
"Kalian berisik sekali, bagaimana aku bisa tidur," ucapnya, beranjak berdiri ia seraya berjalan mendekati kami.
"Kalian sengaja melakukannya bukan? Kapan kalian merencanakannya?" ucapnya lagi, kutatap Izumi yang juga berdiri di samping Haruki.
"Kau menyadarinya?"
"Aku saudara kalian, bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya," sambung Izumi menimpali perkataan Haruki.
"Kami berdua memang menunggu saat dimana dia meminta kita melakukan hal yang tidak bisa diterima akal. Karena jika dia melakukannya, kami jadi punya alasan untuk memanggil Kou. Sebenarnya ini bukan rencanaku tapi rencana Adikmu, akupun bahkan tidak menyangka jika dia mengeluarkan kata-kata seperti siang tadi," ungkap Haruki, diangkatnya lengannya menyilang di dada seraya ditatapnya pepohonan yang diselimuti kegelapan di hadapan kami.
"Jangan katakan jika kau benar-benar ingin..."
"Ingin apa? Katakan dengan sejelas-jelasnya," ungkapnya, tersenyum dingin dia menatapku dengan telapak tangannya menjewer kuat telingaku.
"Apa kau pikir aku akan dengan mudahnya menyerahkan tubuhku ini pada sembarang perempuan," sambungnya kembali seraya tetap tersenyum menatapku.
__ADS_1
"Kau benar, calon Isterimu yang menjengkelkan itu pasti menunggu kedatanganmu sekarang, Kakak. Kenapa kita tidak menemuinya saat kita telah menyelesaikan urusan di sini," ungkap Izumi, menoleh Haruki menatapnya yang tersenyum sumringah.
"Dan bagaimana jika kita juga menemui calon Isterimu, Adikku?"
"Aku tidak masalah. Dia pasti akan mendengarkan semua perkataanku tanpa banyak bertanya, setidaknya kepalaku tidak akan sakit saat bersamanya," sambung Izumi menanggapi perkataan Haruki.
"Kau ingin menemui Luana nii-chan?"
"Aku tidak ingin membahasnya, tidurlah kalian berdua! Besok kita akan melakukan perjalanan bersama mereka," ucap Haruki, dilepaskannya jeweran yang ia lakukan di telingaku seraya berbalik berjalan menjauh.
"Terima kasih, nii-chan," bisikku pelan menatap Izumi seraya sebelah tanganku mengusap-usap telinga.
"Apa telingamu baik-baik saja?" ungkapnya balas menatapku, mengangguk aku membalas perkataannya.
"Tidurlah, ini sudah sangat larut. Walaupun Kou selalu menyembuhkan sakit yang kau derita, itu bukan berarti kau bisa melakukan apapun semaumu," ucapnya lagi, berbalik ia menepuk pelan kepalaku seraya kutatap punggungnya yang telah berjalan menjauhi.
"Kau bisa menunggangi kuda, Putri?" ungkap Aydin yang juga menunggangi kuda miliknya di sampingku.
"Tidak bisakah kau menjauh sedikit dariku?" ucapku seraya menatap lurus ke depan.
"Aku akan melakukannya setelah kau memperlihatkan wajahmu padaku."
"Menjengkelkan sekali," gerutuku seraya menggerakkan tali kekang yang aku genggam, berlari cepat kuda yang aku tunggangi menjauhinya.
"Ada apa?" ucap Izumi, menoleh aku ke arahnya yang ikut memacu kudanya menyusul.
"Nii-chan, apa aku harus memanggil Kou untuk membekukannya?"
__ADS_1
"Kau ingin membekukan aku?" terdengar suara laki-laki dari arah belakangku, menoleh aku ke arahnya yang tengah menunggangi kudanya di belakang kami.
"Sudah kukatakan berhenti mengganggu Adikku," ucap Izumi, menoleh aku ke arahnya yang tengah menatap ke arah Aydin di belakang kami.
"Tapi Adikmu sungguh membuatku penasaran, aku bahkan tidak bisa memejamkan mata sama sekali semalam memikirkannya," ungkapnya mengalihkan pandangannya padaku.
"Tutup mulutmu! Mendengarnya saja sudah membuatku geli," teriakku padanya, tersenyum dia balas menatapku.
"Katakan berapa usia Adikmu? Usiaku sendiri dua puluh lima tahun, tapi aku tidak mempermasalahkan perempuan yang berusia lebih tua maupun muda dariku," ucapnya seraya mengalihkan pandangannya ke atas.
"Siapa juga yang ingin bersamamu, kau laki-laki pencinta Harem menjijikan!" teriakku lagi padanya.
"Bukan salahku jika mereka tergila-gila padaku, aku tidak masalah menjadikanmu yang kesebelas... Sebelas, angka yang cantik bukan?" ungkapnya lagi seraya menatapku.
"Sudah kukatakan jangan menggoda Adikku, lagipun... Sudah ada laki-laki yang menunggunya kembali," ucap Haruki, kualihkan pandanganku padanya yang tengah menunggangi kudanya di samping Aydin.
"Bukankah lebih menarik, merebut wanita dari prianya. Calon suamimu benar bukan Putri?" tukasnya kembali tersenyum ke arahku.
"Nii-chan, tidak bisakah kau membunuhnya saja?"
"Sekarang juga? Apa kau ingin kita mati di tempat?" balas Haruki, diarahkannya pandangan matanya ke sekeliling.
"Aku akan mengatakannya sekali, aku mencintai calon suamiku yang sekarang. Aku tidak ingin meninggalkannya sendirian, jadi... Berhentilah menggangguku, hargailah sepuluh perempuan yang hidup bersama denganmu sekarang," ucapku, kualihkan pandanganku darinya seraya menatap aku lurus ke depan.
"Heh," tukasnya diiringi suara tawa yang kuat, kualihkan pandanganku kembali padanya yang tertunduk tertawa di atas kuda yang ia tunggangi.
"Awalnya aku hanya bercanda menggodamu. Tapi kau benar-benar membuatku sangat tertarik sekarang Putri," ungkapnya, diangkatnya kepalanya yang tertunduk tadi ke arahku.
__ADS_1
"Aku tidak tahu siapa laki-laki yang kau maksudkan, tapi aku akan merebutmu darinya. Dan aku benar-benar bersemangat akan hal itu," ucapnya lagi seraya kualihkan pandanganku dari senyum sumringah yang ia keluarkan.