Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDL


__ADS_3

Aku beranjak mendekati Izumi yang tengah membongkar tas besar yang ia bawa, "sejak kemarin, aku sangatlah penasaran ... Sebenarnya, barang apa saja yang kau bawa di dalam tas tersebut, nii-chan," ungkapku sembari duduk di sampingnya.


Aku meraih tumpukan uang koin yang ia keluarkan dari dalam sebuah kantung, "coba kau hitung," ucapnya dengan memberikan kantung yang telah kosong itu kepadaku.


Aku meraih kantung yang ada di tangannya, menghitung satu per satu koin lalu memasukkannya kembali ke dalam kantung tadi. "Apa yang kalian lakukan?" Aku menoleh saat suara Haruki tiba-tiba terdengar.


"Memeriksa semua harta yang berhasil aku curi dari Duke," jawab Izumi datar tanpa mengangkat sedikit pun kepalanya.


Aku melirik ke arah Haruki dan juga Eneas yang bergerak duduk di samping Izumi, "kau membawa barang-barang yang tidak terlalu penting," tukas Haruki dengan melemparkan sebuah cangkir yang ada di genggamannya ke belakang.


"Itu cangkir terbuat dari emas murni," ungkap Izumi, dia melirik ke arah Haruki sebelum beranjak mendekati cangkir tersebut lalu meraihnya.


"Cangkir itu pemberian Ayah untuk para Kesatria, di bawahnya terdapat lambang Kerajaan Sora. Menjualnya sama saja seperti menggali lubang kuburanmu sendiri, itu hanya bisa dijual jika kita meleburnya lalu menjadikannya barang baru. Kita, tidak memiliki waktu sebanyak itu, jadi buang saja," sambung Haruki dengan kembali melemparkan beberapa cangkir ke arah belakang.


"Sebenarnya, berapa banyak cangkir yang kau curi?"


"Aku tidak menghitungnya, aku hanya mengambil semua barang bernilai yang ada di tendanya. Jika dia memergoki aku mencuri di tendanya, jiwaku sudah dipastikan melayang," gerutu Izumi, dia kembali berjalan mendekati kami dengan beberapa cangkir yang Haruki lempar sebelumnya.


"Hanya bawa saja barang-barang yang kita butuhkan, aku tidak ingin ... Jika pergerakanmu melamban karena barang tidak berguna yang kita bawa, Izumi."


"Apa kau meremehkan aku?"


Haruki mengangkat kepalanya menatapi Izumi, "aku tidak pernah meremehkanmu, tapi sebagai Kakak, tentu aku mengkhawatirkan adikku sendiri."


"Aku tidak tahu, apa yang akan kita temui kedepannya. Akan tetapi, satu hal yang aku ketahui ... Nyawa Keluargaku, lebih penting dibandingkan barang-barang tak berguna seperti itu," sambung Haruki dengan melemparkan sebuah kantung kulit ke arahku.


_____________________


Kami berempat kembali berjalan mendekati lautan saat pagi telah datang, “bagaimana denganmu, Lux?” Aku bertanya dengan sedikit mendongakkan kepala menatapnya.

__ADS_1


“Asalkan kalian tidak berenang terlalu dalam, aku bisa mengikuti kalian dari atas permukaan,” tukas Lux yang terbang mengitari.


“Aku mengerti. Lux, berhati-hatilah.”


Lux terbang di hadapanku, “kau pun, berhati-hatilah,” ungkapnya yang aku balas dengan anggukan kepala.


Aku membenamkan tubuhku ke dalam air laut, kugerakkan tubuhku itu berenang mendekati Haruki, Izumi dan juga Eneas yang telah berenang di hadapan empat ekor Hippocampus. Aku melingkarkan lengan di leher Kuro saat aku telah berenang mendekatinya, “untuk menungganginya, kita hanya harus mengusap lehernya dengan memikirkan arah yang akan kita tuju,” ungkapku dengan mengangkat tangan mengusap leher Kuro.


“Bagaimana dengan Eneas?” Aku melirik ke arah Izumi yang berenang dengan tas besar di punggungnya.


“Eneas, akan ikut bersamaku. Cepatlah, kita sudah kehilangan banyak waktu,” ungkap Haruki yang telah melingkarkan lengannya di leher Hippocampus miliknya.


“Baiklah,” ungkapku sambil melirik ke arah Hippocampus yang menolak Eneas kemarin.


Pelukanku di leher Kuro semakin menguat tatkala dia mulai berenang cepat membelah lautan, sesekali aku mendongakkan kepala ke atas, menatap Lux yang terbang di atas permukaan air. “Kuda ini menakjubkan. Andaikan dia bisa aku bawa ke daratan,” aku melirik ke arah suara Izumi yang terdengar di samping.


“Kenapa? Aku juga tidak merugikanmu, Kakak,” jawab Izumi dengan kembali mempercepat Hippocampus yang ia tunggangi itu semakin menjauhi kami.


“Kuro,” bisikku pelan dengan menyentuh lehernya, “tunjukkan kehebatanmu pada mereka berdua,” sambungku lagi dengan mempererat pelukanku di lehernya.


Kuro berenang cepat menyusul mereka, Izumi membelalakkan matanya saat kedua mata kami saling bertemu ketika aku dan Kuro berhasil melewatinya. “Kuro, satu-satunya Hippocampus yang tidak bisa ditaklukan oleh duyung mana pun. Bagaimana, nii-chan? Menakjubkan, bukan?” Tukasku dengan tersenyum menatapnya.


“Sialan, apa kau sekarang sedang berusaha untuk menyombongkan diri?”


Aku tertawa diikuti pandanganku yang melirik ke arahnya. Ketika Izumi berhasil menyusulku, aku dan Kuro kembali berenang lebih cepat meninggalkannya. “Apa kau juga merasakan hawa membunuh yang ada di belakang kita?” Izumi tiba-tiba membuka suaranya.


Aku menyentuh leher Kuro agar sedikit melamban, “ini semua karenamu, nii-chan,” balasku dengan melirik ke arah Haruki yang ada di belakang.


Hippocampus yang Haruki tunggangi berenang di tempat, “apa kalian telah selesai bermain-main? Apa kalian tidak memikirkan Lux yang sedang bersusah payah terbang menyusul di atas permukaan?”

__ADS_1


Aku melirik ke arah Izumi yang juga telah melirik ke arahku, “maafkan kami.”


“Maaf,” tukas Izumi yang menimpali perkataanku sebelumnya.


Aku mendongakkan kepala ke atas, kuusap kembali leher Kuro hingga dia berenang mendekati permukaan. Aku melirik ke sekitar saat kepalaku terangkat melewati permukaan laut, “apa kalian, ingin membunuhku?!” Aku menoleh ke samping ketika teriakan Lux terdengar.


Kutatap Lux yang terbang cepat mendekatiku, kedua mataku melirik ke atas saat kakinya menyentuh keningku, “aku lelah sekali,” ungkapnya terdengar diikuti suatu tarikan pelan di rambutku.


Aku melirik ke bawah dengan mengusap leher Kuro, “maafkan aku, Lux. Aku lupa, jika kau menyusul kami dengan terbang di permukaan,” ungkapku ketika tubuh Kuro berbalik lalu membawaku berenang pelan.


“Izinkan aku untuk beristirahat sejenak di kepalamu. Aku lelah sekali,” balasnya yang terdengar terputus-putus di telinga.


“Beristirahatlah sebanyak yang kau inginkan,” ungkapku dengan mengarahkan pandangan ke sekitar.


Aku menoleh ke samping saat kepala Haruki dan juga Eneas muncul ke permukaan laut, “aku, tidak pernah membayangkan jika akan ada hari di mana aku bisa bernapas dan berbicara di dalam air,” lirikan mataku mengarah pada Eneas yang tiba-tiba bersuara.


“Jika aku tidak bertemu dengan kalian dulu. Aku, tidak akan mungkin bertemu banyak sekali hal yang menakjubkan,” sambung Eneas kembali terdengar.


“Aku jadi mengingat, betapa menjengkelkannya, Eneas dulu,” kali ini Lux ikut menimpali perkataan Eneas.


“Kau pun sama, Serangga,” timpal Eneas kembali padanya.


“Aku Peri, kau tidak akan bisa menemukan Serangga setampan aku,” jawab Lux yang lagi-lagi terdengar.


"Kalian berdua sama, tak ada bedanya," timpal Izumi yang juga telah memunculkan kepalanya di permukaan.


Aku sedikit mendongak ke atas, "aku sangat penasaran, bagaimana sebenarnya bentuk-bentuk Kerajaan yang ada di Utara," gumamku pelan dengan melirik ke arah Haruki.


"Kita akan mengetahuinya nanti, bersama," jawabnya yang tersenyum membalas tatapanku.

__ADS_1


__ADS_2