Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXLVII


__ADS_3

Aku berjalan sedikit maju ke depan, begitu pun dengan Julissa yang ikut maju bersama denganku. Aku mengalihkan pandangan ke arah Izumi yang beberapa kali jatuh bangun, mencoba menangkap ayam yang ada di depannya. Suara tawa Haruki tiba-tiba terdengar sangat keras ketika Izumi yang terpeleset meraih lumpur yang ada di depannya, lalu melemparkan lumpur tersebut ke seekor ayam yang sebelumnya gagal ia tangkap.


“Dia, bodoh sekali,” aku melirik ke arah Haruki, dia kembali tertawa diikuti jari telunjuk mengusap kedua matanya bergantian.


Pandangan mataku beralih ke arah Aydin saat suara tawa miliknya terdengar dari kejauhan, “kalian lemah sekali! Lihatlah, aku telah berhasil menangkapnya,” ucap Aydin yang kembali diiringi dengan tawa keras darinya.


“Tutup mulutmu, Aydin!”


“Masih sembilan ayam lagi yang harus kau tangkap,” teriak Izumi dan juga Adinata bergantian kepadanya.


“Apa yang kau lakukan?!”


Aku terperanjat ketika suara teriakan perempuan, bertabrakan di telingaku. Julissa tertawa keras di sampingku saat ayam yang berada di tangan Aydin memberontak lalu lepas kembali. “Kenapa kau melepaskan ayamnya kembali?!”


Tawa Julissa semakin kuat terdengar ketika para isteri Aydin berteriak memarahinya, “itu seperti karma untuk laki-laki sepertinya. Aku kesal sekali, saat di Balawijaya dia sempat memperkenalkan diri sebagai calon suamimu,” sambung Julissa yang kembali bersuara.


“Adinata, berjuanglah!” Julissa berteriak kencang dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.


“Dia sudah menangkapnya. Dia … Dia menuju ke sini.”


Pandangan mataku beralih kembali ke depan, aku berjalan maju membelah beberapa orang yang berdiri di hadapanku, “berikan aku kain,” ucapnya dengan mengangkat telapak tangannya ke depan.


“Sa-chan!”


Aku menoleh ke belakang, kedua kakiku berjalan mendekati Haruki yang telah mengangkat sehelai kain panjang di tangannya. Kuraih kain tersebut sembari aku, berjalan kembali ke arah Zeki yang telah memegang seekor ayam menggunakan kedua tangannya. Ayam yang ia pegang itu, beberapa kali mencoba berontak dengan mengepakkan sayapnya, “cepatlah! Berikan kain tersebut kepadaku!” Aku semakin cepat mendekatinya, lalu memberikan sehelai kain pemberian Haruki kepadanya.


Zeki berjongkok, dia mengapit ayam tadi menggunakan kedua kakinya sembari dililitnya kain yang ada di tangannya itu ke ayam yang ia tangkap. Dia kembali beranjak dengan kepalanya yang tertunduk, dia memegang kuat kain yang mengikat kaki ayam tersebut, hingga ayam tersebut tak bisa lari menjauh darinya.


“Aku berhasil melakukannya, bukan? Berikan aku hadiah untuk ini, nanti,” ucapnya tersenyum sebelum kembal berjongkok meraih ayam yang ada di dekat kakinya.

__ADS_1


Dia berjalan memunggungi dengan menggendong ayam tersebut mendekati pintu kayu yang ada di seberang sana. Aku pun turut berbalik, lalu berjalan meninggalkan kerumunan … Kedua kakiku berjalan cepat mendekati Zeki yang telah membungkukkan tubuhnya di tengah-tengah lapangan yang telah disediakan.


Aku menghentikan langkah di sampingnya, dengan masih menatapnya yang tengah mengikatkan kain yang mengikat ayam tangkapannya itu ke sebuah tonggak kayu yang ditanam ke dalam tanah. “Apa kau ingin aku bantu?”


Dia tak bergeming, masih tertunduk mengikatkan tali diikuti sebelah kakinya yang bertekuk menahan ayam yang tak kunjung berhenti berontak, “tidak perlu. Apa kau lupa, sedang mengenakan pakaian seperti apa sekarang?” tukasnya yang sempat mengangkat pandangannya sejenak sebelum menundukkan kembali pandangannya itu.


Zeki beranjak, kepalanya bergerak ke samping diikuti kedua tangannya yang berkacak di pinggang, “laki-laki yang telah menangkap ayam, dipinta untuk membersihkan tubuhnya ke Danau yang ada di sana. Apa kau?”


“Aku akan menjaganya, lakukan saja apa yang diperintahkan kepadamu,” ucapku yang langsung memotong perkataannya.


“Kenapa?” Aku kembali bertanya saat dia masih terdiam menatapku.


Zeki menggelengkan kepalanya, dia berjalan melewatiku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku berbalik, menatapnya yang berjalan kian menjauh. Pandangan mataku beralih kembali ke arah ayam yang ia tangkap, ayam tersebut seringkali berjalan memutari tonggak kayu yang menahannya itu. “Kalian juga telah selesai?” tanyaku kepada Julissa yang tengah berjalan mendekat dengan Adinata di sampingnya.


“Apa Zeki telah pergi ke Danau?” Aku menganggukkan kepala ketika Adinata berjongkok sambil mengikatkan ayam yang ia tangkap ke salah satu tonggak yang terletak tak terlalu jauh dari tempatku berdiri.


“Baiklah,” sahut Adinata yang telah kembali beranjak berdiri, “Julissa, aku akan segera kembali,” sambung Adinata kembali yang disambut anggukan kepala Julissa.


“Aku takut, jika ramalan tak sebaik apa yang aku harapkan,” lanjut Julissa, dia tertunduk sambil menggenggam erat gulungan kain di tangannya.


“Adinata, telah mencoba untuk menenangkanku. Namun, tetap saja aku ...Tidak bisa menenangkan diri,” sambung Julissa lagi, ikut terdengar pula helaan napas yang keluar dari bibirnya.


“Setidaknya, kau berani untuk mengungkapkannya. Jadi itu, maksud dari tatapannya tadi,” gumamku sambil mendongakkan kepala.


“Apa kau mengatakan sesuatu, Sachi?”


Aku menggeleng pelan dengan tetap mendongakkan kepalaku, “aku hanya sedang, mengasihani diriku sendiri,” ucapku seraya turut menghela napas, sebelum aku menundukkan kembali pandangan.


Aku dan Julissa terdiam cukup lama, sesekali aku melirik ke arah sekitar yang semakin lama … Semakin dipenuhi oleh banyak sekali pasangan. “Apa aku membuatmu menunggu terlalu lama?” Aku segera berbalik saat suaranya itu terdengar.

__ADS_1


Kepalaku menggeleng, “pakai pakaianmu kembali, atau kau bisa sakit nanti,” ucapku sambil mengangkat pakaian miliknya yang ada di tanganku itu kepadanya.


Zeki meraih pakaian tersebut, kepalanya sempat menoleh ke samping sebelum dia tertunduk, seraya mengenakan kembali pakaiannya itu. “Zeki!” panggilku, yang membuat dia menjatuhkan pandangan ke arahku.


“Ada apa?” tanyanya kembali, dia bergerak semakin mendekatiku saat aku masih terdiam, belum melanjutkan pembicaraan.


“Apa kau yakin, ingin menikah denganku?”


“Apa aku, terlihat tidak menyakinkanmu?”


Aku membuang pandangan mataku ke samping, “aku sangat benci, tatapanmu itu,” ucapku yang dengan tetap membuang pandangan ke samping.


“Aku, tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki mana pun sebelum semuanya selesai.”


“Apa lagi, yang ingin kau katakan kali ini?”


“Dengarkan, perkataanku terlebih dahulu,” ucapku yang membuatnya kembali mengatupkan bibir.


“Setidaknya, itulah yang aku pikirkan sebelum bertemu kembali denganmu di sini,” ucapku berjalan mendekatinya sambil meraih ujung dari pakaian yang ia kenakan.


“Kau tahu, jika aku sangatlah menjengkelkan, bukan?”


“Kau tahu, jika jalan pikiranku seringkali cepat berubah, bukan?”


“Kau tahu, jika aku pun kadang tidak bisa menjamin apa yang aku katakan, bukan?”


“Aku tidak peduli,” jawabnya yang bergerak maju sambil memeluk erat tubuhku, “aku bahkan lebih takut, jika kau tidak memiliki kelemahan yang membuatku, tidak memiliki kesempatan apa pun lagi untuk mampu bersanding denganmu.”


“Aku sudah mengatakannya, bukan? Dengarkan, perkataanku terlebih dahulu!”

__ADS_1


"Berikan aku cincin sehabis festival ini! Aku ingin, kita bertunangan kembali ... Bukan pertunangan atas dasar perjanjian yang dilakukan oleh Zeki dan Sachi di masa lalu-"


"Aku mengerti, aku akan membelikannya. Rasanya, aku ingin sekali mengajakmu menikah saat ini juga," ucapnya yang semakin erat memelukku.


__ADS_2