Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXVIII


__ADS_3

Kusandarkan tubuhku di bawah pohon, matahari semakin lama semakin meredup seiring waktu berjalan, “apa Makoto belum juga sampai?” Aku bertanya kepada Arata untuk yang kesekian kalinya.


Arata yang berdiri membelakangiku menoleh ke belakang, “belum ada tanda-tanda dia kembali, Hime-sama,” ucapnya dengan kembali menatap lurus ke depan.


“Apa? Ada apa?” Tanyaku saat melirik ke arah Sano yang duduk berjongkok mengawasiku.


“Hime-sama, pukul aku!” Tukasnya, aku berbalik menghindari tatapannya, “aku lelah Sano. Berhenti bercanda,” ungkapku dengan menghela napas.


“Membosankan,” ucapnya yang membuatku menoleh, “aku bahkan belum membunuh satu orang pun hari ini,” sambungnya lagi dengan membaringkan tubuhnya di tanah.


“Aku bahkan belum membunuh satu orang pun hari ini,” ucapnya yang berulang kali ia katakan.


Aku memejamkan mata, kugigit kuat bibirku seraya kugenggam kuat kedua tanganku.


Sabar Sachi. Jika kau terbawa emosi lalu memukulnya, dia akan merasa menang lalu melakukannya lagi dan lagi.


Aku mengangkat kepala menatapnya, “Sano,” ungkapku memanggilnya.


Dia beranjak duduk menatapku, “bagaimana jika kau mencari hewan di sekitar untuk aku makan. Dengan begitu, tenagaku akan bertambah untuk memukul wajahmu,” ucapku yang tersenyum menatapnya.


Sano beranjak berdiri, dia menganggukkan kepalanya dengan cepat sebelum berbalik, melangkahkan kakinya menjauh. “Kau berhasil menaklukannya, Hime-sama,” ungkap Arata yang membuatku menoleh ke arahnya.


“Benarkah?” Tanyaku yang dibalas anggukan kepala oleh Arata.


Arata menoleh ke arahku, “Makoto telah kembali,” ucapnya dengan mengarahkan jari telunjuk ke arah belakang tubuhnya.


Aku beranjak berdiri, kutatap bayangan seorang laki-laki yang tengah menarik sebuah gerobak ke arah kami. Langkah kakiku bergerak maju ketika bayangan Makoto semakin jelas terlihat dari kejauhan. Makoto menghentikan langkah kakinya di hadapanku, dia menoleh lalu berjalan ke samping gerobak itu.


“Ini gerobak salah satu pedagang yang mengisi pasokan makanan di Istana, kita akan menyelinap ke sana menggunakan ini besok pagi,” ucap Makoto dengan sebelah tangannya menyentuh kendi besar yang ada di atas gerobak itu.

__ADS_1


Aku melirik ke arah Arata yang juga mengangkat tangannya menyentuh kendi tadi, “apa isinya?” Tanyanya dengan melirik ke arah Makoto.


“Anggur,” jawab Makoto. “Ang-” Arata menghentikan ucapannya, dia mengangkat kepalan tangannya menyentuh bibirnya diikuti suara batuk yang ia keluarkan.


“Di mana Sano? Aku tidak melihatnya,” Makoto lagi-lagi bersuara dengan menggerakkan kepalanya menoleh ke sekitar.


“Hime-sama, memintanya untuk mencari makanan.”


“Makanan? Tapi aku telah membawakan makanan yang banyak untuk kita semua,” sambung Makoto dengan melirik ke arah gerobak yang ia bawa.


_______________


Pandangan mataku masih menatap ke arah api unggun yang menyala, sesekali aku mendongakkan kepala … Menatap dedaunan di pohon yang bergoyang tertiup angin. Aku melirik ke arah kanan saat suara gesekan daun memenuhi telinga, tubuhku beranjak berdiri saat Arata dan juga Makoto telah berdiri membelakangiku.


“Ternyata Sano, aku pikir apa,” tukas Arata menurunkan kembali pedangnya, dia kembali berjalan mendekati api unggun tatkala Sano berjalan mendekati kami dengan sesuatu di punggungnya.


“Hime-sama, aku telah membawakan makanan yang banyak untukmu,” ucapnya dengan melemparkan gumpalan daging besar ke hadapanku. “Aku sudah kenyang, Makoto membawakan kami banyak sekali makanan,” ucapku kembali mengangkat wajah menatapnya.


“Itu daging kuda, milik seseorang yang aku bunuh di sana,” ucapnya, aku mengangkat wajah menatapnya yang tengah menunjuk ke arah belakang tubuhnya.


“Itu ke arah Istana bukan? Jelaskan padaku, apa yang kau lakukan di sana?” Aku kembali beranjak berdiri menatapnya.


“Aku mencari hewan di sekitar seperti yang Hime-sama katakan, tapi aku tidak menemukannya. Lalu aku mendengar suara kuda, aku membunuh tiga Kesatria lemah yang membawa kuda tersebut, aku mengambil salah satu kuda mereka lalu memotongnya,” ucapnya dengan melirik ke atas diikuti kedua jari telunjuknya yang bergerak ke kanan dan juga ke kiri.


“Astaga,” ucapku tertunduk dengan memijat-mijat kepala, “aku benar-benar akan membunuhmu Sano, jika perbuatanmu ini mengundang Kesatria yang lain ke sini,” ungkapku berbalik melangkahkan kaki ke pohon yang sebelumnya menjadi tempat bersandar.


“Maka aku hanya tinggal menghabisi mereka semua,” ucapnya yang membuatku menghentikan langkah menoleh ke arahnya, dia menepuk kedua tangannya sekali, “aku lapar. Arata, bakarkan daging itu untukku,” ucapnya menoleh ke arah Arata yang telah duduk di hadapan api unggun.


“Bakar sendiri, aku ingin beristirahat,” ucap Arata membaringkan tubuhnya di tanah.

__ADS_1


“Makoto,” ucapnya memelas dengan mengalihkan pandangannya pada Makoto. Makoto menghela napas, “bawa ke sini dagingnya, aku akan memasaknya untukmu,” ucap Makoto dengan kembali berjongkok di dekat api unggun.


_______________


Aku beranjak berdiri dengan menepuk punggung, kedua kakiku berjalan mendekati mereka bertiga yang telah berdiri di samping gerobak, “apa yang ingin kita lakukan dengan gerobak itu?” Tukasku yang membuat mereka menoleh.


“Kami telah membuang setengah isinya,” ucap Makoto dengan mengepalkan tangan mengetuk kendi yang ada di atas gerobak tadi, “sembunyilah di dalam kendi itu, Hime-sama,” sambungnya lagi kepadaku.


“Kalian ingin aku bersembunyi di sana untuk mengecoh penjaga?” Tanyaku yang dibalas oleh anggukan kepala Makoto dan juga Arata.


“Karena jika Hime-sama ikut menyamar sebagai pedagang, mereka akan langsung mengetahui jika engkau bukanlah seorang laki-laki. Ini satu-satunya cara untuk melewati mereka tanpa memicu keributan.”


“Aku juga telah menyiapkan pakaian ganti untukmu. Semuanya telah aku persiapkan Hime-sama, serahkan semuanya kepada kami,” ucap Makoto kembali padaku.


“Aku mengerti,” ungkapku menggerakkan kaki mendekati gerobak itu, “apa yang kau lakukan Sano?” Tanyaku saat kutatap dia yang tengah meringkukkan tubuhnya di samping kendi.


“Menjadikan diriku sebagai pijakan kakimu, Hime-sama. Dengan begitu, kau akan lebih mudah menaiki dan masuk ke dalam kendi itu,” jawabnya tanpa menoleh ke arahku.


Aku menghela napas, diikuti tubuhku yang bergerak naik ke atas gerobak, “jangan bergerak! Apa kau mengerti?!” Perintahku padanya saat aku mengangkat sebelah kakiku menginjak pundaknya.


"Tentu, sesuai perintah darimu," ucapnya membalas perkataanku.


Aku mengangkat kedua tanganku mencengkeram bibir kendi itu, kuangkat sebelah kakiku yang lain menginjak pundak Sano. Bau khas minuman memabukkan memenuhi hidungku saat wajahku semakin mendekati kendi, bau tersebut semakin kuat tercium saat aku telah berdiri di dalamnya.


“Hime-sama,” suara Makoto yang terdengar membuatku mendongakkan kepala, “tolong pegangi pedang kami bertiga,” ucapnya, aku mengangkat kedua tanganku ke atas meraih tiga buah pedang yang ia berikan.


“Kami akan menutup kendi ini, aku telah memberikan lubang udara jadi Hime-sama tidak perlu khawatir,” ucapnya yang aku balas dengan anggukan kepala.


Aku kembali mengarahkan pandangan mata ke depan, kedua mataku sedikit melirik ke arah air yang telah menyentuh leher. Aku memeluk kuat ketiga pedang tadi saat pandangan di sekitar telah menggelap. Sebelah tanganku bergerak ke samping, menyentuh dinding kendi saat aku hampir kehilangan keseimbangan ketika goncangan sedikit menggoyangkan kendi itu.

__ADS_1


"Kita akan segera berangkat, Hime-sama," tukas suara Makoto yang terdengar dari luar.


__ADS_2