Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXXIX


__ADS_3

"Nii-chan, kau mengejutkanku," bisikku pelan saat bibirku kembali dapat berbicara lepas.


"Aku mengejar kalian sampai kesini. Ikuti aku!" Ungkapnya balas berbisik padaku, kurasakan tarikan pelan di pergelangan tanganku.


Aku berjalan mengikuti tarikan pada tanganku olehnya. Sekilas tercium amis nya darah tatkala angin berembus menerpa wajahku. Kembali kugerakkan kepalaku menatapi dedaunan pohon yang sedikit bergoyang tertiup angin malam.


"Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" Ungkapnya kembali dengan sangat pelan.


"Aku baik-baik saja."


"Lux, apa kau di sana?" Ucapku kembali pelan yang diikuti tarikan pelan di rambutku.


"Racun apa yang kau berikan pada laki-laki tadi? Apa itu termasuk racun yang baru kau ciptakan?" Ucapku seraya tetap kuarahkan pandanganku menatap lurus ke depan.


"Kau benar. Aku dan Eneas tak sengaja membuatnya saat kau menghilang, racunnya sangat kuat, jika kau tak berhati-hati dan tak sengaja menghirup sedikit saja racunnya, sudah dipastikan kau akan langsung lumpuh saat itu juga," ucapnya berbicara dengan sangat pelan di samping telingaku.


"Bagaimana kalian dapat yakin? Apa kalian telah mencoba menggunakannya sebelumnya?"


"Aku mencobanya pada beberapa tamu yang menginap di penginapan. Sudah kukatakan, aku tak perduli pada manusia yang lain," ucapnya kembali padaku.


"Apa kalian telah cukup berbincang, jika sudah... Berhati-hatilah, di depan kita adalah jurang dan mau tidak mau kita akan turun ke sana," terdengar suara Izumi, diikuti tarikan pada tanganku yang semakin menguat.


Izumi menggenggam kuat telapak tangan kiriku, kurasakan kakiku berjalan sedikit condong ke depan diikuti perkataan hati-hati yang Izumi keluarkan. Angin yang berembus dari arah belakang berkali-kali menerbangkan rambutku yang tergerai.

__ADS_1


Jauh mataku menatap sirat-sirat cahaya yang ada di hadapan kami. Apakah itu kota? Aku tidak tahu, bahaya apalagi yang akan kami temui setelah ini.


"Nii-chan, apa kau membawa senjata lain selain pedangmu?"


"Senjata apa yang kau bawa sekarang?" Ungkapnya balik bertanya padaku.


"Pisau kecil yang sering aku selipkan di kaki," sambungku membalas perkataannya.


"Kau benar-benar tidak membawa apapun lagi?"


"Aku lupa membawa senjataku. Aku lalai, karena kupikir kita hanya akan pergi berkunjung dan di penjara pasti sudah disediakan banyak sekali senjata."


"Aku hanya membawa pedangku. Panah dan yang lainnya, aku tinggalkan semuanya," ucap Izumi diikuti tarikan kuat pada tanganku hingga tubuhku tertarik menabrak punggungnya.


Pedang, pisau hingga kapak telah berada di masing-masing genggaman tangan mereka. Izumi menggerakkan lengannya merangkul tubuhku agar tak bergerak jauh dari punggungnya.


Tiga orang laki-laki yang berdiri di sebelah kanan tubuhku berlari cepat ke arah kami. Izumi menggerakkan sebelah lengannya hingga tubuhku sedikit mundur ke belakang beberapa langkah.


Salah seorang laki-laki berpakaian hitam membuang obor yang ia genggam sebelumnya ke tanah. Dia berlari meninggalkan kedua temannya yang lain dengan sebilah pedang tergenggam di kedua telapak tangannya.


Laki-laki tadi mengibaskan pedangnya ke arah Izumi, Izumi menggerakkan tubuhnya menghindar ke samping dengan kedua tangannya menggenggam pedang yang ada di tangannya.


Pedang yang ada di tangan Izumi bergerak cepat menancap di belakang leher laki-laki tadi yang sedikit menunduk. Izumi menarik kembali pedangnya, laki-laki tadi duduk berlutut dengan darah mengucur deras dari belakang lehernya.

__ADS_1


Tubuhku terdiam tatkala kurasakan benda dingin nan keras menyentuh leherku. Kualihkan pandanganku pada telapak tangannya yang melingkar di perutku. Telapak tangan tadi bergerak perlahan ke atas dan semakin ke atas...


Kugerakkan pisau kecil yang aku genggam sebelumnya pada telapak tangan tadi. Suara teriakan laki-laki memekakkan telingaku, kembali kugerakkan kakiku menginjak kuat telapak kaki laki-laki tadi.


Kurasakan rangkulan yang ia lakukan padaku merenggang, dengan cepat kugerakkan sebelah tanganku menggenggam lengannya yang lain dengan sebelah tanganku yang lain menggoreskan pisau tadi ke lengannya.


Pedang yang ia genggam sebelumnya terjatuh ke tanah, masih kutatap pedang tadi yang sedikit menyisakan darah dari leherku. Tubuhku bergerak cepat berbalik menatapnya...


Ikut bergerak pula pisau yang aku genggam tadi membelah bagian depan leher laki-laki tersebut. Mataku terpejam saat darah dari lehernya mengucur deras keluar hingga menampar kuat wajahku.


Aku sedikit menundukkan tubuhku menghindari darahnya yang masih mengucur deras tersebut. Kugerakkan kedua kakiku bergerak sedikit ke samping lalu kuarahkan tendangan keras di pinggangnya.


Laki-laki tadi jatuh tersungkur di sampingku, tubuhnya mengejang-ngejang di tanah. Aku kembali menunduk menghindar bayangan hitam yang berusaha mencengkeram kepalaku dari belakang.


Kuarahkan kepalaku sedikit melirik ke belakang. Tangan kananku yang masih menggenggam pisau kuarahkan ke belakang dan berhenti tepat di antara celah kaki yang nampak di sudut mataku.


Kubalikkan posisi tanganku tadi seraya kuangkat ke atas pisau kecil tadi. Teriakan memilukan kembali terdengar tatkala pisau yang aku genggam bergerak ke atas memotong tubuh bagian bawah laki-laki tadi.


Pisau yang aku genggam, kutarik kembali menjauh darinya. Kuarahkan sebelah telapak tanganku yang lain menyentuh tanah seraya kugerakkan sebelah kakiku memutar ke belakang.


Laki-laki tadi terjatuh akibat gerakan kakiku yang menendang kakinya. Teriakan yang berasal darinya masih terdengar kuat dengan kedua tangannya menggenggam bagian tubuh bawahnya. Kualihkan pandanganku menatap pisau yang aku genggam, tampak warna merah melumuri pisau kecil tersebut.


"Sachi!" Teriakan Izumi mengagetkanku, kualihkan pandanganku melirik bayangan hitam yang telah berdiri tepat di belakang tubuhku.

__ADS_1


__ADS_2