
"Apa kau yakin ini akan berhasil?" Ucapku, kuraih tumpukan daun kering yang ada di atas kasurku sembari kurobek daun tersebut menjadi beberapa potongan kecil.
Potongan daun tadi terjatuh pelan ke dalam mangkuk kecil yang ada di dekatku, sedikit demi sedikit, potongan daun-daun kering tadi mulai memenuhinya.
"Percayakan semuanya padaku. Kalian hanya tinggal mempersiapkan semuanya."
Pandangan mataku masih tertuju pada Lux yang tengah memilah-milah dedaunan untukku robek, sesekali diciumnya dedaunan tersebut lalu diletakkannya di hadapanku. Aku tidak tahu... Apakah rencana ini akan berhasil.
_______________________
"Putri," ucap Tsubaru ikut melangkahkan kakinya di belakangku.
"Ada apa Tsu nii-chan?"
"Apa kau yakin baik-baik saja? Maksudku, wajahmu terlihat pucat sekali hari ini," ungkapnya, diikuti suara langkah kaki yang terhenti di belakangku.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit mimpi buruk semalam," ucapku tanpa menoleh ke arahnya.
Aku benar-benar lelah sekali, semalaman aku tak tidur, sedangkan siangnya... Aku membantu Lux menyiapkan semua peralatan yang ia inginkan, merobek-robek daun yang ia perlukan. Rasanya, aku ingin sekali tidur di kamar dan meninggalkan makan malam jika saja... Rencana Lux tak dilaksanakan di malam ini.
Aku kembali menghentikan langkah di hadapan dua Kesatria yang berjaga, mereka bergerak bersamaan membuka pintu berdaun dua tersebut. Kedua kakiku melangkah tanpa sadar saat pintu tersebut sedikit terbuka...
__ADS_1
Eneas menoleh menatapku, aku tidak tahu... Haruki ataupun Izumi memberitahukannya atau tidak. Jikapun tidak, aku akan tetap mengajaknya pergi... Bagaimana mungkin, aku meninggalkan anak pintar dan berbakat seperti dia. Semakin banyak pengetahuan dia tentang dunia luar, semakin kuat dan bergunanya dia untuk kami kedepannya. Lagipun, dia Adik laki-laki kami sekarang.
Kedua kakiku melangkah mendekati kursi yang ada di samping Haruki. Sepatah katapun tak keluar darinya saat Tsubaru menarik kursi tersebut sedikit keluar dari dalam meja. Aku bergerak menduduki kursi tadi, entah kenapa... Ini hanya perasaanku, atau memang mereka semua membisu tanpa suara.
Kuraih sendok dan garpu yang ada di hadapan, kugerakkan beberapa kali mataku berkedip cepat sambil berharap rasa kantuk yang sedikit menerpa sedikit menghilang.
Pandangan mataku teralihkan pada kepulan asap yang muncul dari kolong meja. Kepulan asap tersebut semakin menebal dan semakin menebal naik ke atas memenuhi ruangan.
Kedua tanganku bergerak cepat melepaskan sendok dan garpu tadi, dengan cepat tangan kananku meraih gelas berisi air yang ada di hadapan seraya tangan kiriku bergerak meraih sapu tangan yang terselip di balik saku yang ada di rok gaunku.
Asap tadi semakin meninggi diikuti suara kursi yang bergeser terdengar berulang-ulang. Tatsuya berlari mendekati pintu, dipukul-pukul dan ditariknya pintu tersebut berulang-kali namun tetap tak terbuka.
Tsubaru menarik tanganku untuk mengikuti langkah kakinya seraya sebelah tangannya yang lain bergerak menutupi hidung dan mulutnya. Suara benda bergeser mengalihkan pandanganku, tampak terlihat Daisuke yang bergerak mendorong meja panjang itu.
Beberapa gelas yang ada di atas meja terjatuh tatkala meja tersebut bergerak saat Daisuke mendorongnya. Daisuke berjalan maju lalu menendang beberapa mangkuk yang tersusun rapi di lantai.
Kepulan-kepulan asap yang berasal dari mangkuk tadi memecah di udara saat mangkuk-mangkuk itu berterbangan di tendang Daisuke.
Suara batuk mengusik telinga, Egil terjatuh tak sadarkan diri di gendongan Niel. Tsutomu bergerak mendekati dinding dengan sebelah tangannya bersandar pada dinding tadi dengan Izumi yang berdiri tegap di sampingnya.
Kugerakkan sapu tangan basah tadi menutup hidung dan mulutku saat asap kembali mengalir memasuki celah-celah jendela dan pintu. Jarak pandang ku semakin menipis tatkala asap-asap tersebut semakin cepat memenuhi ruangan.
__ADS_1
Brukk!
Suara benda jatuh terdengar kuat di belakangku, kugerakkan kepalaku menoleh ke belakang. Mataku... Tak bisa melihat apapun. Kepulan-kepulan asap tersebut malah menusuk-nusuk mataku, berkali-kali kugerakkan tanganku yang lain mengusap kedua mataku tadi.
Pipiku basah oleh air mata yang tak kunjung berhenti, kepalaku terasa semakin berat dan menusuk. Kembali terdengar keras benda terjatuh, tubuhku bergerak mundur ke belakang. Aku tidak tahu, mungkinkah itu dinding atau apa... Yang jelas, tubuhku bersandar padanya.
Suara batuk seseorang perlahan mendekati, semakin lama semakin jelas terdengar. Jari-jemariku bergerak mengusap sapu tangan yang aku genggam sebelumnya, kelembaban yang menyelimuti sapu tangan tadi sedikit menghilang.
"Apa kalian baik-baik saja?!" Terdengar teriakan samar-samar mengetuk telinga.
"Bagaimana keadaan di dalam? Apa semuanya aman?!" Teriak suara itu kembali yang diikuti suara ketukan yang mengikutinya.
Suara benda bergeser kembali terdengar, bias-bias cahaya keluar sedikit demi sedikit dari arah kanan. Wajah Haruki dan Izumi tampak terlihat oleh bias cahaya yang masuk ke dalam, Haruki menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri...
Telapak tangannya mengarah ke arahku saat kedua mata kami bertemu, aku berlari mendekati mereka. Tubuhku sedikit terhentak saat sesuatu menggenggam telapak tanganku, aku bergerak menoleh ke arah Eneas yang juga meletakkan sapu tangan di hidung dan mulutnya sedangkan tangannya yang lain menggenggam erat tanganku.
"Pangeran, Putri. Apa ini rencana kalian?!" Teriakan kuat itu menghentikan langkah kakiku, kugerakkan kepalaku menatap Daisuke yang tengah berbaring terlungkup menatap kami.
"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian telah kehilangan akal?!" Teriaknya lagi, beberapa kali matanya berkedip-kedip sayu.
"Maafkan kami, Daisuke. Tapi kami, hampir kehabisan waktu mengumpulkan sekutu. Sampaikan kepada Ayah, jangan mencari kami. Karena kami, pasti akan tetap kembali sebagai Anaknya," ikut terdengar suara Haruki, diikuti tarikan pelan pada tanganku yang lain.
__ADS_1