
"Kabar tentang seseorang yang akan menyelamatkan kota telah tersebar sejak kemarin sore, dan..." ucapnya terhenti.
"Lanjutkan," ungkap Haruki padanya.
"Tuan Aydin mendengar kabar tersebut, dia meminta anak buahnya untuk mencari orang yang dimaksud," sambung Erol tertunduk.
"Siapa itu Aydin?"
"Kau tidak tahu siap..." ucap Emre terpotong, diusapnya kepalanya yang dipukul oleh Kakeknya tadi dengan kuat.
"Tuan Aydin adalah pemimpin mutlak di sini, kedudukannya sama seperti Raja. Semenjak Ayahnya meninggal dan dia mengambil alih kedudukan, kota ini tumbuh semakin pesat..."
"Lalu tunggu apalagi, pertemukan kami dengannya," ungkap Haruki memotong perkataan Erol.
"Tuan Aydin sangatlah kejam kepada para pendatang, terutama... Aku mengkhawatirkan Nona," sambungnya seraya melirik ke arahku.
"Aku?" ungkapku seraya balas menatapnya.
"Tuan Aydin, suka sekali bermain dengan perempuan. Setiap malam bahkan dia bergonta-ganti pasangan," ucap Erol lagi, dialihkannya pandangannya kepada Haruki.
"Haruki," ucap Izumi, kualihkan pandanganku menatap Haruki yang tertunduk dengan kedua tangannya menyilang di dada.
"Pertemukan aku dengannya..."
__ADS_1
"Kau!"
"Aku tidak akan menyerahkan Adikku pada sembarang laki-laki, kau juga harus mengingat jika aku adalah kakak kalian," ungkap Haruki memotong perkataan Izumi, kembali dialihkannya pandangan matanya ke arah Erol.
"Kau dengar itu Emre, bawa kami bersamamu menemui Tuan Aydin," sambung Erol menatapi cucu yang ada di sampingnya.
Beranjak Emre berdiri tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, berbalik ia berjalan mendekati pintu kamar. Ikut beranjak kami mengikuti langkah kakinya, seseorang menepuk punggungku... Berbalik aku menatap Haruki yang memegang tas milikku di tangannya, kuraih tas yang diarahkannya padaku sebelumnya seraya kukenakan tas tersebut menyilang di dada.
Kurasakan genggaman tangan Haruki menggenggam erat jari-jemari, kualihkan pandanganku darinya yang masih terlihat fokus menatap lurus ke depan. Melangkah aku mengikuti langkah kakinya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun...
Berjalan kami keluar dari bangunan, sinar mentari pagi terasa menghangatkan tubuhku. Kembali ditariknya tanganku oleh Haruki mengikutinya seraya berhenti kami di samping kuda miliknya...
"Aku akan mengambil kudaku," ucapku berbalik.
"Tidak perlu, kau ikut denganku!" perintahnya, dilepaskannya genggaman tangannya tadi seraya berjalan ia melepaskan tali kekang yang terikat di tonggak kayu yang tertanam di tanah.
Kuda yang kami tunggangi berbalik dan bergerak perlahan, kupeluk pinggangnya seraya kualihkan pandanganku pada Erol dan juga Emre yang juga menunggangi kudanya di depan kami.
Kuda cokelat milik Haruki berhenti, kembali kuarahkan pandanganku pada Emre yang tengah berbicara pada dua orang yang berjaga di depan gerbang kayu di hadapan kami. Dua orang penjaga tadi bergerak dan membuka gerbang tadi, menoleh Emre ke arah kami seraya digerakkannya kepalanya sedikit seakan meminta kami untuk mengikutinya...
Kaki kuda kami melangkah melewati gerbang, kuarahkan pandanganku ke sekitar... Jalan setapak yang kami lewati terasa lama sekali menyusuri pepohonan yang ada di samping kanan dan kirinya.
"Hentikan kuda kalian di sini," ucap Emre, kutatap ia yang bergerak menuruni kudanya.
__ADS_1
Kulepaskan pelukanku pada Haruki sebelumnya, digerakkannya kakinya seraya melompat ia dari atas kuda. Diarahkannya kedua lengannya ke arahku, berbalik aku menoleh ke arahnya, kulingkarkan kedua lenganku di pundaknya seraya kugerakkan kakiku ikut menuruni kuda.
Emre berjalan dengan menarik kudanya di belakang, ikut berjalan di belakangnya Erol, Haruki dan juga Izumi yang melakukan hal seperti yang ia lakukan. Berjalan mereka berempat mendekati pepohonan seraya diikatkannya tali kekang yang masing-masing mereka genggam di satu-persatu pohon yang ada di sana...
Menoleh aku ke arah Eneas yang berdiri di sampingku, kuarahkan lenganku merangkul pundaknya. Kembali kualihkan pandanganku ke arah mereka yang berjalan mendekati...
"Tutup wajahmu, aku mengatakannya karena Kakekku terlihat peduli pada kalian," ucap Emre melirik ke arahku, kuraih penutup kepala yang terjatuh di punggung seraya kuangkat penutup kepala tadi menutupi seluruh kepala beserta wajahku...
Kulepaskan rangkulan yang aku lakukan pada Eneas, sembari berjalan aku mengikuti langkah mereka. Kutatap Emre yang tengah mengetuk pintu besar yang ada di hadapan kami, ketukan pintu yang ia lakukan terasa unik sekali terdengar di telinga...
Pintu besar yang ada di hadapan kami terbuka, melangkah Emre melewatinya diikuti dengan Erol yang juga berjalan di belakangnya. Ikut melangkah aku mengikuti langkah Haruki dengan Eneas beserta Izumi yang juga berjalan di belakang...
Emre membawa kami menyusuri lorong remang-remang yang ada di dalam kastil yang kami masuki tadi. Bau pengap nan memusingkan memenuhi ruangan, sesekali kututup hidungku menggunakan kedua telapak tanganku bergantian...
Sebuah titik cahaya terang menyambut kami, kuraih dan kugenggam pakaian yang dikenakan Haruki sembari ikut kulangkahkan kakiku semakin cepat mengikuti langkah mereka...
Ruangan gelap yang kami lalui sebelumnya berakhir dengan beberapa puluh obor tergantung di dinding-dinding ruangan. Kutatap sekeliling, terlihat berpuluh-puluh laki-laki bertubuh besar berbaris rapi. Penampilan mereka? Apa kalian ingat dengan penjaga yang menjaga gerbang masuk? Maksudku penjaga yang diberikan bungkusan perhiasan oleh Haruki. Seperti itulah penampilan mereka yang ada di dalam ruangan...
Genggaman tanganku di pakaian Haruki semakin kuat, kutundukkan kembali kepalaku seraya menahan bau keringat yang menguap di udara. Kugigit kuat bibirku seraya berusaha memikirkan hal yang lain untuk meredam rasa mual yang menusuk-nusuk perut.
Kuangkat kepalaku kembali, langkah kaki kami semakin mendekati seorang laki-laki yang tengah duduk di sebuah kursi berlapis emas. Kutatap wajahnya yang masih tertutupi oleh telapak tangan perempuan yang ada di sampingnya... Kualihkan pandanganku menatap beberapa orang perempuan yang mengelilinginya.
Satu... Dua...
__ADS_1
Sepuluh perempuan tadi nampak saling berebut mencuri perhatiannya. Ada yang memijat-mijat kakinya, ada yang memeluk lehernya dari belakang bahkan ada yang sampai duduk di pangkuannya...
"Tuan, aku membawakan tamu penting untukmu," ucap Emre berjalan mendekatinya.