Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLXXXI


__ADS_3

Aku melirik ke arah Haruki yang kembali masuk ke dalam kamar, “apa kau yakin, Haruki?!” Belum sempat aku untuk membuka mulut, suara Izumi diikuti bayangannya yang berjalan mendekati Haruki menghentikan perkataanku.


“Kau sendiri yang mengatakan kalau tempat itu berbahaya, bukan? Jangan mempersulit perjalanan kita!”


“Bagaimana dengan kalian berdua? Apa tidak ada yang ingin kalian katakan?” tukas Haruki sambil mengarahkan tatapannya kepadaku dan juga Eneas.


“Apa yang dikatakan Izu-nii, sudah mewakilkan apa yang berkecamuk di pikiranku,” jawabku yang ditimpali oleh anggukan kepala Eneas.


“Kalian,” ucap Haruki sembari menyandarkan dirinya bersandar kembali di kursi, “jangan menilai seseorang berdasarkan penampilan luarnya saja. Kau pun tidak ingin diperlakukan seperti itu, bukan?” sambung Haruki dengan melemparkan lirikannya ke arahku.


“Dia Putra dari seorang Duke, mustahil jika dia tidak bisa beladiri sedikit pun. Dan juga, kepalanya bisa sedikit diandalkan. Jadi, aku pikir itu buka masalah besar kalau hanya mengajaknya sendiri.”


“Beristirahatlah kalian, kita akan pergi pagi-pagi sekali,” tukas Haruki lagi seraya beranjak dari kursi lalu melangkah mendekati tas miliknya.


_____________.


Aku berjalan keluar dari penginapan, kedua kakiku terus melangkah mendekati kudaku yang tali kekangnya sudah dipegang erat Izumi. “Terima kasih, nii-chan,” ucapku sambil meraih tali kekang kudaku itu lalu beranjak naik ke punggungnya.


Kugerakkan kudaku tersebut sambil sesekali melirik ke arah Eneas yang masih tak berhenti menguap di atas kudanya. Langkah kaki kudaku terus berlanjut mengikuti kuda yang ditunggangi Haruki. Beberapa kali aku menarik penutup kepala pada jubah yang aku pakai, dengan sesekali aku melemparkan pandangan ke arah jalan masih yang gelap temaram.


Kami memutuskan untuk pergi sebelum matahari terbit … Selain untuk menghindari perhatian, kami juga melakukannya agar tak terlalu membuang banyak waktu. Aku menarik napas sedalam mungkin saat udara dingin masih menembus ke dalam jubah tebal yang aku kenakan, sesekali aku melirik ke arah langit yang masih dihiasi beberapa titik bintang.

__ADS_1


Kuda milik kami terus berjalan dan terus berjalan, hingga beberapa titik api dari obor yang dipegang beberapa orang berjubah di depan kami menghentikan langkah. “Apa kau mengenal mereka, Haruki?” kata-kata Izumi menggunakan bahasa Kerajaan kami menyentuh telinga.


“Entahlah, hanya persiapkan saja diri kalian,” balas Haruki bergumam pelan.


Aku mempererat genggaman tanganku di tali kekang dengan tatapan yang masih tak terlepas dari mereka. Mataku semakin memicing tatkala mereka berempat masih terdiam dengan salah satu mengangkat tangannya melepaskan jubah yang menutupi kepalanya. “Bukankah dia-”


Laki-laki tersebut menunggangi kudanya mendekat setelah gumaman pelan dari Eneas melewati telinga. “Apa, yang dilakukan seorang Pangeran di sini?” ucapan Haruki membuatku melirik ke arahnya ketika laki-laki yang sebelumnya aku lihat duduk di samping Raja semakin membawa kuda miliknya mendekati kami.


“Kak, maafkan aku. Aku tidak tahu jika keluarga Kerajaan akan menginap di rumahku. Mereka, berserta kakakku … Melarangku pergi jika aku tidak mengajak mereka.”


Pandangan mataku teralihkan ke arah suara laki-laki yang gemetar itu. Lama kutatap dia yang menundukkan kepalanya di samping seorang laki-laki yang merangkul pundaknya. “Inilah kenapa, merepotkan sekali jika sudah berhubungan dengan orang asing,” Izumi yang menunggangi kudanya di sampingku kembali menggerutu.


“Takaoka Haruki, bukan? Tunangan dari Kakakku, Luana,” tukas laki-laki yang berkuda di depan kami itu.


“Oi, apa kau tidak ingin memberikan salam kepada tunangan dari kembaranmu itu, kakak perempuanku?” sambung laki-laki itu lagi ketika kepalanya menoleh ke belakang.


Aku mengalihkan pandangan ke arah yang ia tuju. Kedua mataku sedikit membesar saat seorang berjubah berjalan keluar dari samping barisan kuda. Dia mengangkat sebelah tangannya, menjatuhkan penutup di kepalanya itu hingga wajahnya yang mirip dengan Luana kini terlihat. “Kau, mungkin salah mengenali kami,” ucap Haruki, aku kembali melirik ke arahnya yang tersenyum menjawab perkataan laki-laki sebelumnya.


“Tapi, laki-laki yang memanggilmu kakak … Memberitahukan semuanya kepada kami,” jawabnya yang juga balas tersenyum kepada Haruki.


“Lalu kenapa? Apa kau, ingin memenjarakan kami?”

__ADS_1


Pemuda itu tertawa kuat, “aku tidak akan melakukan tindakan bodoh seperti itu. Justru, aku sangatlah penasaran dengan kabar kepintaranmu. Jika kalian ingin pergi menyusuri sungai itu … Maka aku akan mengikuti kalian, sudah lama sekali aku diliputi rasa penasaran dengan apa yang ada di sana,” ungkapnya menjawab perkataan Haruki.


“Aku, tidak ingin membuang waktu dengan menjaga kalian,” tukas Haruki yang mulai menggerakkan kembali kudanya.


“Bagaimana kabarnya kakakku, Luana? Kenapa dia tidak pernah kembali? Padahal, dia seharusnya dieksekusi … Kau, tidak menikahinya, bukan?”


Kuda milik Haruki kembali berhenti di sampingnya, “aku akan mengajakmu ke makamnya jika kau ingin. Namun yang perlu kau ingat, dia Isteriku. Kau akan menyesal jika tidak menjaga perkataanmu itu!”


“Jadi dia sudah meninggal, kenapa tidak menikah dengannya saja?” timpal laki-laki itu sambil menunjuk ke arah perempuan yang wajahnya mirip dengan Luana, “wajah mereka sangatlah mirip. Suaminya pergi begitu saja meninggalkannya, jadi dia seperti beban untuk Kerajaan kami. Aku mendengar jika Kerajaan Sora sangatlah bermurah hati, jadi-”


“Entahlah, walau memiliki paras yang sama, dia tidak menarik perhatianku. Aku menyukai perempuan yang dapat mengangkat pandangannya ketika berbicara denganku … Jika perempuan yang mendampingiku selalu menundukkan pandangannya, lalu apa bedanya dia dengan budak yang aku miliki,” ucap Haruki memotong perkataannya, dengan kudanya yang kembali bergerak.


“Jika kalian memang ingin ikut, jangan membuang waktu kami! Waktu kami, lebih berharga dibanding nyawa yang kalian miliki,” sambung Haruki yang terus menunggangi kudanya.


Pandangan mataku beralih kepada laki-laki tadi saat suara dari decakan lidahnya terdengar. “Bodoh! Apa dia pikir, dia bisa memancing emosi dari manusia seperti Haruki? Konyol sekali.” Aku menggigit kuat bibirku, berusaha menahan tawa oleh suara Izumi yang bergumam menggunakan bahasa Jepang.


Kudaku kembali bergerak mengikuti kuda milik Haruki yang kian menjauh berjalan. Sesekali, aku melirik ke arah bayangan yang berjalan di belakang kami. Suara keheningan dari dini hari yang kami lewati, semakin memperjelas bunyi langkah kaki kuda yang kami semua tunggangi. Tatapan mataku, kembali beralih kepada Haruki yang masih membuang pandangannya itu ke depan.


Sebenarnya, apa yang diinginkan oleh takdir?


Mempermainkan nyawa, mempermainkan ingatan, mempermainkan kehidupan … Ya Tuhan, apakah terasa menyenangkan untukmu, memperlakukan kami semua seperti ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin sekali menceritakan semuanya, tapi aku lebih takut jika itu akan membawa kembali nasib buruk di antara mereka berdua.

__ADS_1


Kakakku pantas untuk bahagia! Lebih pantas bahagia dibanding siapa pun. Dia, tidak pernah menyakiti siapa pun tanpa alasan, dan semestinya kau pun jangan menyakiti dia tanpa alasan, Tuhan.


__ADS_2