
Haruki berjalan mendekati Hanbal yang semakin menunduk dengan sebelah tangannya kembali menekan kuat perutnya. Langkah kaki Haruki terhenti saat anak panah menancap pada tanah yang ada di hadapannya.
Haruki mengarahkan pandangannya ke arahku, lalu bergerak ke atas. Pandangan mataku ikut bergerak mengikuti tatapannya, laki-laki yang sempat menghadang ku sebelumnya telah berdiri di atas dinding yang ada di belakang dengan busur panah berada di genggamannya.
Aku bergerak mundur ke belakang hingga menempel pada dinding di belakangku, kedua mataku masih melirik ke atas menatap sepatu yang dikenakan laki-laki tersebut.
Kubuka tas kulit berisikan Lux dan Uki di dalamnya. Seakan mengerti jalan pikiran ku, Lux terbang ke atas mendekati tapak sepatu laki-laki itu. Lux menggerakkan tangannya ke dalam tas kecil yang menggantung di pundaknya...
Lux terbang sedikit ke atas lalu berhenti di samping sepatu yang laki-laki itu kenakan. Aku semakin menyipitkan pandanganku agar dapat melihat sedikit lebih jelas, Lux mengerakkan tangannya ke atas lalu diarahkannya tangannya tadi ke arah kaki laki-laki tersebut.
Laki-laki itu menggerak-gerakkan kakinya menggosok satu sama lain saat Lux telah terbang berpindah ke sebelah. Kuangkat telapak tanganku menyentuh dahi, sebuah jarum yang sangat kecil telah menempel di telapak tanganku itu.
Aku bergerak ke samping, lalu menunduk dengan sebelah tangan menyusuri sepatu yang aku kenakan. Kutarik pisau kecil yang selalu terselip di sana sembari tubuhku kembali beranjak berdiri.
Suara benda jatuh terdengar kuat diikuti debu-debu yang berterbangan di sekitar. Laki-laki tersebut jatuh tertelungkup di hadapan dengan sebelah tangan masih menggenggam erat sebuah busur.
Laki-laki itu mencoba beranjak dengan kedua tangannya namun gagal. Ia kembali melakukannya, lalu jatuh menelungkup kembali. Kepalanya menoleh menatap Hanbal yang telah jatuh terlungkup ke tanah...
"Tuan!" Teriaknya kuat saat Haruki berjongkok di samping tubuh Hanbal.
Pandanganku teralihkan pada Izumi yang telah berdiri di hadapan para laki-laki yang sebelumnya berniat mengeroyok Haruki. Izumi mengarahkan pedang yang ia genggam ke arah para laki-laki tersebut diikuti nada mengancam yang jelas terdengar.
__ADS_1
"Tu-tuan," ucap laki-laki yang terjatuh tadi, tubuhnya merayap di tanah dengan bantuan kedua tangannya.
Haruki menarik tangannya dari wajah Hanbal sembari diletakkannya tombak yang ia genggam ke tanah. Tangan Haruki bergerak membuka pakaian yang ia kenakan seraya diletakkannya pakaian miliknya tadi menutupi wajah Hanbal.
Keadaan menghening, suara tangisan terdengar samar-samar... Lalu semakin jelas hingga membuat bulu kudukku merinding. Laki-laki yang ada di hadapanku itu masih merayap, teriakan kuat darinya terhenti saat ia berhenti merayap dengan telapak tangannya yang terbuka mengarah kepada Hanbal.
Laki-laki yang ada di hadapan Izumi, mereka semua berlutut dengan telapak tangan menutupi wajah mereka. Izumi menurunkan pedang yang ia arahkan ke para laki-laki tersebut saat suara tangisan keluar dari bibir mereka.
Tubuhku berjalan menjauhi dinding saat banyak sekali laki-laki yang turun melompat ke dalam lapangan. Mereka semua berjalan mendekati Haruki dan juga Hanbal yang masih terbaring. Seorang laki-laki berkepala botak duduk berjongkok, kedua tangannya meraih lengan laki-laki yang masih menelungkup di tanah tersebut.
Laki-laki tersebut berjalan dengan memapah tubuh temannya mengikuti rombongan yang berjalan mendekati Haruki. Semua laki-laki tersebut berlutut, meraung tangisan dengan masing-masing telapak tangan menutupi wajah-wajah mereka.
Aku berbalik lalu berjalan mendekati Izumi, Izumi meraih tanganku lalu menggenggamnya kuat. Ia berjalan dengan menarik pelan tanganku tadi, semakin kami mendekat... Semakin kuat juga suara tangisan yang terdengar.
"Kami mohon," ucap suara laki-laki diikuti tangisan.
"Izinkan kami memberikan penghormatan terakhir untuknya," sambung laki-laki yang lain dengan suara yang terdengar parau.
"Maafkan aku," tukas Haruki kepada mereka dengan membungkukkan tubuhnya.
"Melihat kalian seperti ini. Aku merasa, aku telah membunuh seseorang yang berharga untuk kalian," ucap Haruki kembali, diangkatnya tubuhnya menatapi para laki-laki tersebut bergantian.
__ADS_1
"Tuan, bukan hanya seorang Tuan yang harus kami layani. Tapi dia, sudah seperti keluarga kami," ucap laki-laki berkepala botak yang memapah temannya tadi.
"Dia, hanya ingin melindungi tempat ini. Dia, hanya ingin melindungi mereka yang berharga untuknya," ucap laki-laki itu kembali.
"Dengan mengizinkan semua orang untuk saling membunuh, lalu mayatnya dilempar begitu saja untuk jadi santapan..."
"Kami terpaksa melakukannya!" Teriak laki-laki itu memotong perkataan Haruki, wajahnya tertunduk dengan sesekali sebelah lengannya mengusap matanya.
"Aku mengerti," ucap Haruki dengan menghela napas panjang.
Para laki-laki tersebut mengangkat wajah mereka menatapi Haruki. Haruki menoleh menatap kami, Izumi kembali menarik lenganku... Pandangan mataku masih melirik ke arah mereka seraya kedua kakiku melangkah semakin mendekati Haruki.
"Aku akan mengizinkan kalian melaksanakan prosesi pemakaman tersebut, asalkan kami juga mengikuti prosesi tersebut," ucap Haruki kepada mereka.
"Kami menolak," ungkap laki-laki berkepala botak tadi.
"Jika kalian menolak, maka dia harus diperlakukan selayaknya mayat para petarung yang lain," ucap Haruki, diangkatnya kedua lengannya menyilang di dada.
"Kau!"
"Jika kalian menghormatinya, maka kalian haruslah menghormati semua keputusan yang ia buat ketika hidup. Dan perlu kalian ingat! Akulah, Tuan kalian sekarang," ucap Haruki melirik ke arah mayat Hanbal yang masih terbaring di dekat kakinya.
__ADS_1