
"Aku pikir kalian bersikap seperti itu semalam," ucapku tertunduk dengan telapak tangan mengusap kepala Egil yang masih terlelap berbaring di pangkuan.
"Dia baik-baik saja. Napasnya memang sempat berhenti semalam, tapi tiba-tiba dia bernapas kembali setelah beberapa saat," tukas Lux menggerakkan tubuhnya duduk di atas dada Egil.
"Bagaimana dengan kedua Kakakku?"
"Mereka mencoba mencari sesuatu di reruntuhan. Aku tidak menyangka, Kastil tersebut hancur hanya dalam semalam," ucapnya menggerakkan tubuhnya berbalik ke belakang.
"Nee-chan," ucap Eneas, menoleh aku ke arahnya yang tengah menggerakkan lengannya membantu Niel beranjak duduk.
"Apa yang terjadi?" Ucap Niel menoleh ke arahku.
"Kau tak sadarkan diri sejak sema..."
"Kastilku," ucapnya, kutundukkan kepalaku dengan beberapa kali helaan napas keluar.
"Naga kesayanganku menghancurkannya, saat dia bertarung dengan makhluk yang menyerang kalian semalam," ucapku kembali mengarahkan pandangan padanya.
"Naga?"
"Maksudku, makhluk putih bersayap yang tertidur di sebelah sana," sambungku mengalihkan pandangan pada Kou yang lelap tertidur di samping tembok Kastil.
"Egil, apa dia..." Ucapnya terpotong, kembali kutatap dia yang tertunduk dengan sebelah tangannya menggenggam erat lengannya.
"Egil baik-baik saja. Dia hanya sedang tertidur, jangan terlalu khawatir," ungkapku menjawab perkataannya.
__ADS_1
"Kau sudah sadar Niel?" Terdengar suara Haruki, kutatap dia yang tengah berjalan ke arah kami dengan Izumi dan juga Daisuke di belakangnya.
"Apa yang terjadi?" Ucap Niel dengan suara sedikit terbata-bata menatap Haruki.
"Kami kembali ke Kastil secepat mungkin semalam, karena kami yakin jika ada sesuatu yang salah semalam. Saat kami kembali, kau sudah tak sadarkan diri di pangkuan anakmu," ucap Haruki menggerakkan tubuhnya duduk di tengah-tengah kami.
"Aku tidak mengerti apa yang kalian maksudkan," ucapnya tertunduk.
"Daisuke!" Perintah Haruki, Daisuke melangkah maju lalu melemparkan kepala yang masih ia genggam dengan erat sebelumnya.
"Kepala," ucapnya menatapi kepala yang jatuh menggelinding di hadapannya dengan kedua mata yang sedikit membesar.
"Kepala Tem. Pengawal sekaligus penasihat pribadimu," ucap Haruki padanya.
"Apa kalian membunuhnya?" Sambungnya membalas tatapan Haruki.
"Beraninya kau!"
"Dia berkhianat!" Tukas Haruki menghentikan bentakan Niel.
"Kau pikir kenapa musuh bisa masuk ke Kastil tanpa merusak apapun. Pintu utama Kastil terbuka, seakan memberikan sambutan kepada musuh untuk masuk ke dalam."
"Kau, ditipu olehnya. Anakmu, dimanfaatkan olehnya. Laki-laki itu, mengambil keuntungan atas kepercayaan yang kau berikan padanya," ucap Haruki lagi, digerakkannya kedua kakinya lurus bersandar pada tanah dengan wajahnya terangkat ke atas.
"Apa kau ingat? Malam saat kau memanggil semua Kesatria mu. Bukankah hanya Tem yang tidak melakukan hal tersebut, karena kau sangat mempercayainya..."
__ADS_1
"Dan saat Egil berlari menghindariku, Tem tiba-tiba muncul dan bertindak seakan-akan melindunginya. Mungkin beberapa orang akan menganggapnya wajar, tapi aku mengerti jelas tatapan yang ia lontarkan padaku."
"Aku," ucap Haruki menimpali perkataanku.
"Sebelum kami pergi ke tempat persembunyiannya musuh, aku memerintahkan Daisuke terlebih dahulu untuk menghabisi semua musuh saat dia merasakan adanya suatu kejanggalan. Sedangkan kami bertiga, langsung kembali ke Kastil untuk menolong kalian jika apa yang aku khawatirkan itu benar," sambung Haruki kembali, tampak terdengar beberapa kali helaan napas keluar saat kepalanya menatap lurus ke langit.
"Semalam," tukas Daisuke menimpali perkataan Haruki.
"Tem memerintahkan para Kesatria mu menyerang kami saat dia sadar Pangeran dan juga Putri telah menghilang dari hutan. Kami terlibat pertarungan karena aku dan Eneas menahan mereka untuk tidak pergi dari hutan," sambung Daisuke kembali.
"Lalu? Bukankah itu wajar, jika dia ingin kembali secepat mungkin... Dia, pasti ingin segera melindungi ku," ucap Niel kembali menatap Daisuke.
"Jangan bercanda! Dia kembali bukan untuk menolongmu, tapi dia kembali untuk membunuh ketiga Kakakku. Dia berkata, jika kami adalah pengganggu, seharusnya dia langsung membunuh Kakakku Sachi saat dia sendirian di kamar penginapan," tukas Eneas dengan nada sedikit meninggi di samping Niel.
"Kau pikir, kenapa Kakakku ditemukan di penjara yang sama denganmu saat itu!"
"Karena saat dia mencoba membunuh Kakakku, lukanya kembali sembuh dengan ajaib. Dan dia pikir, jika Kakakku akan menjadi pertukaran yang sangat bagus agar dia bisa menduduki posisi yang kau miliki saat bawahan Kaisar berhasil membunuhmu," sambung Eneas kembali, Niel masih tertunduk tak bicara.
"Darimana kau," ucap Niel dengan nada pelan hampir tak terdengar.
"Aku ahli racun, aku sudah terbiasa membuat racun sejak kecil. Sedikit racun untuk seseorang mengeluarkan seluruh isi hatinya sebelum kematian menjemputnya, sangat mudah untuk kubuat," ucap Eneas seraya beranjak berdiri meninggalkan Niel.
"Ayah," terdengar suara Egil, kualihkan pandanganku menatapnya yang telah membalikkan kepalanya menatapi Niel.
"Yang mereka katakan semuanya benar Ayah. Aku, pernah sekali melihat Tem masuk ke ruangan kerjamu dan memeriksa seluruh isi lemari di ruang kerja milikmu saat kau menghilang beberapa hari," ucapnya, kugerakkan tanganku membantunya beranjak duduk.
__ADS_1
"Saat Ayah menghilang. Semua Kesatria bertingkah seakan tak terjadi sesuatu, aku pikir itu karena Ayah memerintahkan mereka seperti itu. Tapi, aku tak sengaja mendengar salah satu Kesatria berkata... Pemimpin dengan tubuh dan wajah seperti Perempuan, sangat menjijikan untuk dilayani," ungkapnya kembali dengan suara terdengar bergetar.
"Dan salah satu Kesatria tersebut adalah Tem. Maaf Ayah, tapi Tem lah, Paman yang aku maksudkan. Paman yang memintaku untuk mengkhianatimu... Karena katanya, dia akan membantuku untuk bertemu kembali dengan Ibu jika aku berhasil melakukannya," ucapnya lagi dengan kedua tangan menutupi wajahnya yang tertunduk.