
Haruki menarik pelan tanganku, berjalan kami menyusuri jalan lorong yang menurun tersebut. Sesekali tubuhku terhenti menabraknya pelan yang juga kadang-kadang menghentikan langkah kakinya tiba-tiba...
Haruki menarik lenganku pelan berlari dan bersembunyi di samping salah satu bangunan tak terpakai, kulangkahkan kakiku berdiri di sampingnya seraya kepalaku kugerakkan sedikit ke samping berusaha mengintip apa yang ada di hadapan kami.
Dua laki-laki bertubuh besar tadi menghentikan langkah kakinya, pandangan mataku teralih pada seseorang berjalan mendekati mereka. Jubah gelap yang ia gunakan, semakin membuatku sulit untuk mengenali wajah di baliknya...
Sosok berjubah itu berdiri di samping kedua laki-laki bertubuh besar tersebut, kedua laki-laki tadi berbalik menatap lalu berlutut di hadapannya. Kutatap sosok berjubah tadi yang tampak mencoba menggerakkan tangannya merogoh ke dalam jubahnya itu...
Kedua laki-laki bertubuh besar tersebut mengangkat kedua tangan mereka ke arah sosok berjubah tersebut. Sosok berjubah itu mengeluarkan kembali tangannya yang telah menggenggam sebuah kantung dengan warna senada dengan jubah yang ia kenakan.
Sosok berjubah tersebut mengarahkan bungkusan yang ia genggam pada salah satu laki-laki bertubuh besar yang ada di hadapannya. Berbalik sosok berjubah tadi berjalan menjauhi mereka berdua...
Kutatap laki-laki bertubuh besar berkulit gelap yang memegang kantung pemberian sosok berjubah tadi. Laki-laki tadi berbalik menyamping menatap rekannya, tampak terlihat laki-laki berkulit gelap tadi menggerakkan tangannya membuka kantung pemberian sosok berjubah tadi.
Laki-laki tersebut membalikkan kantung tersebut hingga beberapa isinya jatuh tumpah di atas telapak tangannya. Diletakkannya kantung yang ia pegang tadi ke tanah seraya diangkatnya kembali tangannya ke atas meraih sebuah bungkusan daun berukuran kecil yang berhamburan di telapak tangannya.
Diambilnya satu bungkusan daun oleh laki-laki berkulit gelap tersebut seraya diberikannya ke laki-laki bertubuh besar yang ada di hadapannya. Diambilnya satu lagi sembari kembali diberikannya pada laki-laki bertubuh besar itu kembali, dilakukannya hal tersebut berulang dan berulang.
Kutatap laki-laki berkulit gelap tadi yang tiba-tiba membuka salah satu bungkusan daun, diarahkannya daun tadi mendekati tangan laki-laki bertubuh besar tadi yang telah menggenggam sebuah benda kecil memanjang...
__ADS_1
Laki-laki bertubuh besar tadi meletakkan benda panjang tadi mendekati hidungnya seraya sisi lain benda tersebut diarahkannya tepat diatas bungkusan daun tersebut. Lama kutatap laki-laki bertubuh besar tadi yang terlihat memejamkan matanya dengan sebelah jari telunjuknya menekan sebelah hidungnya...
Laki-laki bertubuh besar tadi mengarahkan kepalanya ke atas, lama ia di posisi tersebut dengan sesekali tangan kirinya bergerak menyapu-nyapu pelan hidungnya. Laki-laki tersebut menurunkan pandangannya seraya diarahkannya pandangannya tadi menatap tumpukan bungkusan daun yang terletak di sampingnya...
Laki-laki tersebut meraih salah satu bungkusan dengan sebelah tangannya sedangkan sebelah tangannya yang memegang benda panjang tadi diarahkannya ke arah laki-laki berkulit gelap tersebut...
Laki-laki berkulit gelap tersebut meraih benda kecil yang panjang tadi, sama seperti yang dilakukan oleh laki-laki bertubuh besar sebelumnya, iapun ikut meletakkan benda tadi memasuki sebelah lubang hidungnya...
Laki-laki bertubuh gelap tadi mengarahkan wajahnya mendekati bungkusan daun yang ada di telapak tangan laki-laki tadi, lama dia berada di posisi tersebut. Tubuhku sedikit terhentak saat Haruki tiba-tiba menarik lenganku...
"Lari," ucapnya diikuti genggaman tangannya di lenganku yang semakin kuat.
"Lihat ke belakang!" perintahnya seraya kugerakkan kepalaku menoleh ke belakang.
Gerombolan laki-laki bergerak cepat mengejar kami, kuarahkan mataku menatap pedang maupun pisau yang berada di genggaman mereka masing-masing. Kugerakkan kembali kepalaku menatap lurus ke depan...
Langkah kakiku semakin cepat dan semakin cepat melangkah, napasku semakin tak beraturan. Jalan menanjak yang kami lalui semakin membuat dadaku kembang kempis dibuatnya...
Kugerakkan kembali pandanganku menatap ke arah belakang, semuanya tampak tak jelas terlihat, bangunan-bangunan tak terpakai yang ada di sekitar menghalangi sinar matahari untuk jatuh di sini...
__ADS_1
Kakiku bergerak semakin cepat, genggaman di lenganku semakin kuat terasa tatkala suara langkah kaki dari arah belakang kami semakin dan semakin jelas terdengar...
"Sa-chan," ucap Haruki kembali, kutepuk sekilas dadaku seraya kembali kugerakkan kedua kakiku semakin cepat mengimbangi langkah kakinya.
Tubuhku oleng ke depan, kurasakan sesuatu menahan perutku. Kuarahkan telapak tanganku meraih dan meraba lengan yang melingkari perutku tadi. Kugigit bibirku kuat saat rasa sakit di pundakku semakin memuncak...
"Ada apa?" ucap Haruki, kualihkan pandanganku menatap wajahnya yang sedikit mengabur.
"Pundakku nii-chan, tapi sebelum itu... Kita harus menjauhi mereka," balasku dengan napas tersengal-sengal.
Haruki melepaskan rangkulannya pada perutku, kembali kurasakan tarikan pelan yang ia lakukan. Aku melangkah berlari mengikuti tuntunan darinya...
Seberkas sinar yang ada di hadapan kami tampak menembus bayang-bayang penglihatanku yang sedikit mengabur. Kedua langkah kaki kami semakin cepat dan semakin cepat menuju cahaya tersebut...
Haruki menarik paksa tubuhku ke samping kanan, tubuh kami berdua berjalan menyelip di tengah-tengah kerumunan manusia yang berlalu lalang. Rasa sakit di pundakku semakin kalut saat beberapa orang tak sengaja menyentuhnya sepanjang perjalanan...
Kuarahkan telapak tanganku menyentuh pelan pundakku itu, tubuhku oleng jatuh ke samping menabrak lengan Haruki saat seorang laki-laki berlari menabrak tubuhku... Kuarahkan pandanganku menatap telapak tanganku yang penuh akan darah, menoleh aku menatap Haruki yang juga terlihat menatapku dengan tatapan pucat pasi...
"Sa-chan, bertahanlah sedikit lagi," ungkapnya dengan nada suara sedikit bergetar.
__ADS_1