
Aku berjalan mengikuti arahan Lux, saat dia mengatakan belok ke kanan, maka aku pun akan melakukan hal yang ia katakan. “Nii-chan!” Aku berteriak kepada seorang laki-laki yang tengah memerintahkan beberapa laki-laki di hadapannya.
Dia menoleh ke arahku dengan kedua tangannya yang bersilang di dada, “kau, benar-benar!” Bentaknya, dia berbalik saat aku melangkah semakin mendekatinya.
Aku sedikit mengerang kesakitan saat Izumi menjewer kuat telingaku, “kau, menggunakan akalmu terlebih dahulu atau tidak sebelum melakukan ini?” gumamnya yang diikuti semakin kuatnya jeweran yang diterima telingaku.
Jeweran Izumi di telingaku terlepas, bersambung dengan helaan napas darinya, “kau,” ungkapnya sembari menarik tanganku menjauhi kerumunan beberapa laki-laki di dekatnya, “sebenarnya, apa yang ada di dalam pikiranmu itu?” Izumi berbisik pelan sambil merangkul erat pundakku.
“Apa maksudmu, nii-chan? Aku tidak melakukan apa pun,” tukasku dengan sedikit mengerutkan kening membalas tatapannya.
“Lalu, bagaimana kau bisa menjelaskan tentang air semalam?” Rangkulan Izumi kembali menguat dibanding sebelumnya.
“Itu perkerjaan para Duyung,” jawabku singkat kepadanya.
Aku lagi-lagi melirik ke arahnya saat dia mencengkeram kuat kepalaku, “itu perkerjaan para Duyung, tapi mereka menuruti perintah darimu, bukan?” Dia balik bertanya diikuti cengkeraman tangannya di kepalaku terlepas, “jika saja Haruki tidak mengerti maksud dari petunjuk yang kau berikan. Kami semua, akan mati,” ucapnya sambil kembali menghela napas.
Izumi memundurkan kakinya beberapa langkah ke samping, “bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja setelah melakukan semua ini?” tanyanya, aku menunduk dengan merapikan rambut saat cengkeraman tangannya di kepalaku terlepas.
Kuarahkan kedua mataku melirik ke atas, “aku telah beristirahat seharian penuh, jadi aku baik-baik saja sekarang,” ucapku sambil kembali menatap padanya.
“Kau apa?” Izumi balik bertanya dengan mencengkeram sudut bibirku menggunakan kedua jarinya.
“Aku telah tidur, beristirahat semalam penuh,” jawabku menundukkan kepala, kuangkat telapak tanganku mengusapi kedua sudut bibirku tadi.
Izumi mengangkat kepalanya diikuti sebelah tangannya bergerak mengusapi wajah, “kau nyenyak tertidur, saat banyak orang di sini merenggang nyawa?” tukasnya sambil lagi-lagi menghela napas kuat.
Aku berjalan melewatinya, “aku tidak perduli dengan mereka. Lagi pun, semua yang ingin aku selamatkan … Sudah selamat, mereka yang mati, hanya para sampah,” ungkapku menghentikan langkah dengan sedikit melirik ke ujung mata.
__ADS_1
Aku kembali melanjutkan langkah dengan kepalaku tertunduk menatap lumpur yang menyelimuti tanah. “Maafkan kami, selalu mengajakmu ke tempat yang seharusnya tidak kau kunjungi,” suara Izumi kembali terdengar diikuti tepukan pelan yang mengusap kepalaku.
Aku mengangkat kembali wajahku, menatap punggungnya yang telah berjalan melewatiku. Izumi berjalan mendekati kerumunan laki-laki yang berdiri di hadapannya sebelumnya. Para kerumunan laki-laki tadi berjalan mengikuti Izumi, menjauhi tempatnya berdiri sebelumnya.
Aku menggigit kuat bibirku sebelum kedua kakiku kembali melangkah. Lenganku terangkat tanpa sadar saat aku lagi-lagi berjalan melewati mayat yang tubuhnya menghitam, kualihkan pandanganku
ke beberapa bangkai ikan yang ada di dekat mayat tadi … Sungguh, bau anyir darah bercampur amisnya bangkai ikan, benar-benar menusuk perutku yang sejak sore kemarin sama sekali tak terisi.
“Dari mana saja kau?!” Langkah kakiku terhenti ketika suara Haruki terdengar di telinga, aku berbalik menatapnya yang tengah berjalan mendekat dengan lengan kanan menutupi hidungnya.
Aku menundukkan pandangan, berusaha menghindari tatapannya. “Apa pertanyaan yang aku lontarkan belum jelas di telingamu?” Pertanyaan darinya kembali mengetuk telingaku.
Aku menarik napas dalam lalu mengembuskannya kembali sebelum aku mengangkat wajahku menatapnya, “Kou, membawaku ke pulau tak berpenghuni yang ada di tengah lautan,” jawabku dengan melirik ke kiri, enggan untuk membalas tatapan tajamnya yang mengarah padaku.
“Kau,” ucap Haruki terhenti, dia menggigit bibirnya diikuti kedua tangannya yang mengepal kuat. Haruki mengembuskan napasnya dengan sangat kuat sebelum dia kembali mengarahkan pandangannya padaku, “apa kau sudah memikirkan, betapa bahayanya melakukan ini?”
“Aku tidak akan melakukannya jika tidak memikirkan risikonya, nii-chan,” jawabku kepadanya.
Aku melirik ke bawah, “itu hanya … Jika, Kaisar mengetahuinya, bukan? Jadi, selama dia tidak mengetahuinya, semuanya akan baik-baik saja. Lagi pun, siapa yang bisa menyalahkan suatu bencana,” tukasku menimpali perkataannya.
“Kau benar,” ungkapnya yang membuatku kembali mengangkat wajahku menatapnya.
“Aku hanya tidak menyangka, jika kau akan bertindak sejauh ini,” ucapnya kembali sembari berjalan melewatiku.
Aku berbalik menatap punggungnya, “nii-chan!” tukasku memanggilnya hingga dia menghentikan langkah lalu berbalik menatapku, “apa aku, melakukan kesalahan?” Aku bertanya kepadanya dengan menggenggam erat kedua tanganku menatapnya.
Haruki tersenyum, “kau marah kepada mereka, bukan? Karena itu, kau sampai melakukan ini semua, aku benar, bukan?” ungkapnya sembari melangkahkan kakinya mendekatiku.
__ADS_1
“Aku tidak bisa memaafkan semua perbuatan mereka. Aku,” ucapku terhenti dengan wajah tertunduk, “merasa tidak ada bedanya dengan Kaisar. Aku akui itu … Aku, menyesal melakukan semuanya hanya untuk mencapai keinginanku sendiri,” ungkapku dengan suara bergetar mengatakannya.
“Jadi, kau menyadarinya?” Aku menganggukkan kepala menanggapi perkataannya.
“Kemarilah!” Perintahnya dengan melambaikan tangannya ke arahku.
Aku menarik napas dalam sebelum berjalan mendekatinya, “apa, perasaanmu sudah lebih lega sekarang?” Dia bertanya dengan meraih lalu menggenggam tanganku.
Aku menggelengkan kepalaku dengan sangat perlahan, “aku, merasa sangat bersalah kepada mereka. Aku, bertemu dengan seorang anak kecil saat perjalanan ke sini … Anak itu, menangis kuat di samping salah satu mayat.”
“Aku ingin merangkulnya, aku ingin menghiburnya. Tapi apa yang bisa aku lakukan, jika aku sendiri yang membunuh Ayah yang ia tangisi itu.” Aku kembali menghentikan kata-kataku saat Haruki melangkah maju lalu memeluk tubuhku.
“Bagaimana keadaanmu? Kau pasti sangat lelah, bukan? Menggunakan Kou dan para Duyung itu?” tukasnya sembari ikut kurasakan usapan yang menyisir belakang kepalaku.
“Aku baik-baik saja. Aku sudah beristirahat yang cukup sebelum pulang ke sini,” ungkapku dengan sangat pelan kepadanya.
“Baguslah,” ucapnya berjalan mundur sambil melepaskan pelukannya kepadaku.
“Izumi!”
“Eneas!” Haruki memanggil nama mereka berdua diikuti wajahnya yang melirik ke kanan dan ke belakang kananku.
Aku menoleh ke kanan saat suara Izumi kembali terdengar, kutatap dia yang tengah berjalan ke arah kami dengan kedua tangannya yang penuh akan lumpur hitam, “ada apa?” tanyanya ketika langkah kakinya berhenti di samping kami.
“Lupakan untuk membantu mereka. Kita akan segera pergi meninggalkan tempat ini!”
“Saat ini juga?” Izumi balik bertanya dengan kedua matanya melirik ke arahku, “aku mengerti,” sambungnya lagi saat dia kembali mengarahkan pandangannya kepada Haruki.
__ADS_1
“Aku akan membersihkan tubuhku sebentar,” ucap Izumi seraya melangkah mendekatiku, “Lux, ajak dia untuk makan. Wajahnya terlalu pucat untuk melanjutkan perjalanan,” bisik Izumi saat dia menghentikan langkahnya di sampingku.
“Jangan terlalu memikirkannya. Semua ini, bukanlah kesalahanmu,” sambung Izumi lagi, dia mencium samping kepalaku sebelum kedua kakinya melangkah pergi menjauh.