Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXCII


__ADS_3

Aku kembali menarik napas dalam, sembari kugerakkan tubuhku berusaha untuk beranjak duduk. Kutarik kembali napas sedalam mungkin, ketika aku lagi-lagi menggerakkan tubuhku untuk berdiri. Aku mengembuskan kuat napas, ketika aku … Yang terhuyung-huyung beranjak, hampir jatuh tersungkur ke depan.


Jantungku berdegup kuat, saat kedua kakiku bergerak mendekati lubang untuk keluar. Aku mengeluarkan sedikit kepala, berusaha untuk memastikan keadaan di luar. Setelah dirasa aman, kedua kakiku segera berlari lalu kembali berhenti dengan menyembunyikan tubuh saat suara pembicaraan tiba-tiba terdengar. Aku menunduk, dengan mengatur napasku yang keluar tak karuan, “Kou, perkuat sihirmu! Aku ingin, agar Lux dapat menemukanku secepatnya,” tukasku terbata-bata dengan napas sedikit tersengal.


“Nii-chan, Eneas, kalian di mana?” gumamku pelan seraya mencoba kembali beranjak.


Aku mengintip ke samping gubuk, kepalaku bergerak perlahan, mengintip untuk memastikan keadaan sebelum langkahku nanti kembali berlanjut. Aku berjalan, kadang merangkak … Menyusuri perkampungan atau apa itu namanya.


Aku tidak peduli, jika telapak tanganku itu masih terasa sakit. Aku tidak peduli, asal aku dapat segera menemukan mereka.


Langkahku yang berjalan, kembali berhenti saat terdengar suara keriuhan dari arah samping. Aku mencoba untuk mengendap-endap ke tempat yang menjadi asal-muasal suara itu. Dengan perlahan, kedua kakiku melangkah mendekati keriuhan yang aku maksudkan, semakin lama aku melangkah, semakin itu juga jelas terdengar suara yang mengusik telingaku itu.


Aku yang bersembuyi dengan merangkak di sela-sela tumpukan batang pohon, membelalakkan mata ketika tatapan mataku itu terjatuh ke arah beberapa laki-laki yang tengah memukul-mukul beberapa laki-laki yang tak sadarkan diri di dalam kurungan.


Aku menarik napas, lalu beranjak dengan meraih dahan pohon yang ada di potongan batang kayu yang ada di sekitar. Aku memilih dahan yang kuat dan tidak terlalu kecil, dahan yang akan aku gunakan untuk menghentikan perbuatan mereka pada keluargaku.


Aku berjalan dengan menggenggam erat dahan yang aku ambil, selama aku mengendap-endap bergerak mendekati mereka, selama itu juga aku mengumpulkan bebatuan yang aku temukan, lalu meletakkannya di lipatan baju yang aku selipkan di celana. Aku merogoh ke dalam baju yang menampung bebatuan yang aku kumpulkan, melemparkan batu tersebut ke udara lalu memukulnya kuat hingga mengenai kepala salah satu di antara mereka.


“Benar, mendekatlah ke sini! Menjauhlah dari mereka, kalian bertiga dapat dengan mudah aku kalahkan,” tukasku yang terus melemparkan bebatuan yang aku punya kepada mereka yang berjalan mendekat.


Aku tersentak, ketika dahan yang aku pegang itu tiba-tiba terlepas dari tangan lalu terlempar ke samping. Dengan cepat, aku menoleh ke samping, menatap pemuda yang menjadi kepala suku dengan beberapa orang laki-laki di belakangnya.


Pemuda tersebut berjalan, dengan membawa seperti potongan bambu kecil di tangannya. Jantungku semakin tak karuan, saat aku tersadar, yang melemparkan dahanku tadi adalah sebuah anak panah yang berukuran lebih kecil dibanding biasanya.

__ADS_1


Aku membeku, saat dia telah berdiri di depanku tanpa berbicara apa pun. Kutarik napas dalam dengan mengangkat tangan menunjuk ke arah kurungan kayu yang ada di belakangnya, “mereka keluargaku, lepaskan mereka!” pintaku sambil masih menatapinya.


Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku menjelaskannya?


Mataku bergerak ke sekitar, lalu berjalan saat terjatuh ke arah anak panah yang masih tertancap di tanah. Aku mengangkat anak panah itu, lalu menggerakkkannya menjadi suatu gambaran berbentuk pasangan dengan beberapa anak kecil yang ada di kanan dan kiri pasangan tersebut. Aku menunjuk salah satu anak yang ada di gambaran dengan selanjutnya menepuk-nepuk dadaku sendiri. Aku melakukan hal yang sama, ke gambaran beberapa anak yang lainnya dengan setelahnya menunjuk ke arah mereka yang ada di dalam kurungan.


“Mereka, keluargaku.”


“Mereka, keluargaku. Apa kau mengerti, dengan apa yang aku maksudkan?” sambungku dengan menampilkan wajah memohon kepadanya.


_______________.


Aku mengangkat potongan kain basah dari atas kepala Lucio, sesekali aku meletakkan telapak tanganku ke kening mereka berlima yang masih lelap tertidur. Para penduduk di sini, membantuku mengobati mereka … Aku tidak tahu apa yang mereka coba ucapkan, tapi setidaknya aku dapat mengerti apa maksud dari ucapan mereka.


Aku melirik ke samping, ke arah dua orang perempuan muda yang berjalan masuk ke dalam dengan membawa bungkusan daun dan juga potongan bambu kecil di masing-masing tangan mereka. Dada mereka tak ditutupi sehelai pakaian pun, jadi mau tak mau … Mataku ini harus seringkali melihatnya. Setidaknya, mereka melilitkan daun kering di pinggang untuk menutupi tubuh bagian bawah mereka.


Aku menganggukkan kepala, ketika mereka kembali keluar dengan sebelumnya meletakkan benda yang mereka bawa ke sudut ruangan. Aku kembali membasahi potongan kain yang ada di tanganku, memeraasnya lalu meletakkan potongan kain tersebut ke kepala Fabian. Aku beranjak dengan membawa mangkuk kayu, membuang air yang ada di dalamnya lalu mengisinya kembali dengan air yang ada di dalam potongan bambu yang dibawa oleh perempuan sebelumnya.


Aku meletakkan mangkuk tersebut tak terlalu jauh dari tempatku duduk, sebelum aku membaringkan tubuh di dekat Izumi, “cepatlah sadar, kalian semua. Aku, punya banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan,” bisikku pelan, berkali-kali aku mengangkat tangan, menutup mulutku yang tak berhenti menguap.


________________.


Mataku sedikit terbuka, kesadaranku kembali datang saat kurasakan tanganku itu bergerak. “Nii-chan, kenapa kau menatapku seperti itu?” gumamku dengan mencoba kembali memejamkan mata.

__ADS_1


Rasa kantukku yang sebelumnya mendera, kini menghilang oleh tepukan-tepukan yang menyentuh pipi, “Sachi, kau benar adik kami, Sachi, bukan?” tukas suaranya yang tak henti-hentinya terdengar.


Aku kembali membuka mata, “bantu aku berdiri, nii-chan!” pintaku sambil mengangkat kedua tangan ke depan.


Kurasakan tubuhku beranjak oleh dorongan yang aku rasakan di punggungku, “hanya Izu-nii sendiri yang sadar? Aku pikir, kalian sudah sadar semuanya,” ungkapku, dengan kembali menutup mulutku yang menguap.


“Apa yang terjadi?”


“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang terjadi hingga kalian semua bisa ditangkap?!” ungkapku geram membalas tatapannya.


Izumi menundukkan kepalanya, “aku tidak tahu apa yang terjadi. Kemungkinan, saat penyerangan aku sedang tertidur. Dan saat aku bangun, kami semua sudah ada di dalam kurungan dengan anak panah yang menancap di masing-masing tubuh kami.”


“Apa kau yakin seperti itu ceritanya, nii-chan?”


“Apa kau berpikir, kalau aku membohongimu?!”


“Bukan, aku tidak menuduhmu. Hanya saja, antara kau dan Haru-nii, kalian berjaga bergantian, bukan? Bukankah, hal ini aneh untuk diterima akal?” tukasku dengan melirik ke arah Haruki yang masih terpejam.


Izumi ikut melirik ke arah yang sama denganku diikuti kakinya yang bergerak menendang-nendang kaki Haruki, “ oi bangunlah kau, Kakak tercinta kami! Ini semua, rencanamu, bukan? Jika aku saja bisa sadar secepat ini, apa mungkin tubuhmu yang lebih kebal dari racun akan tertidur selama itu?”


Haruki membuka kedua matanya, “seperti yang diharapkan dari adik-adikku,” ungkapnya yang beranjak duduk di samping Izumi.


“Apa yang kau maksudkan itu?”

__ADS_1


“Aku, hanya memberikan jalan untuk Sachi melakukan rencananya. Jika kita selalu berlari, kita tidak akan bisa menyusup ke dalam tempat tinggal mereka. Aku selalu percaya, jika adik perempuanku tidak akan pernah mengecewakan dengan semua yang ia janjikan, bukan?” sambung Haruki, dia tersenyum dengan menatapi kami bergantian.


__ADS_2