
Haruki menghentikan kuda yang ia tunggangi di hadapan seorang laki-laki renta yang tengah berdiri di depan sebuah rumah dengan pagar batu tinggi yang mengelilinginya. Laki-laki renta yang memakai pakaian biru dengan rambut disanggul itu mengangkat tangannya yang memegang papan segiempat dengan seutas tali di ujungnya.
Haruki meraih papan tadi lalu melanjutkan kembali langkah kaki kudanya saat laki-laki renta itu menyebutkan sebuah nama, “nii-chan,” ucapku pelan yang dibalas dengan suara berdeham yang Haruki keluarkan.
“Kita akan ke mana?” Tanyaku kembali padanya, “membawamu ke tempat pengumpulan undangan,” ucapnya dengan mengangkat papan kecil tadi ke arahku.
Aku mengangkat tangan meraih papan tadi, keningku sedikit mengerut saat melihat tulisan yang ada di papan tersebut. Aku merasa pernah melihat tulisan ini, tapi aku tidak tahu … Bahasa apa yang tertulis di sana.
“Sa-chan,” aku mengangkat kepalaku menatap belakang lehernya, “setelah aku mengantarkanmu ke sana. Aku akan kembali bergabung bersama pasukan Zeki … Aku, Izumi dan juga Eneas akan berpura-pura menjadi salah satu Kesatria Kerajaan Yadgar. Hanya dengan cara itu, kami dapat mengawasimu,” ucap Haruki kembali terdengar.
“Dengan kata lain, aku akan melakukan hal ini sendirian?” Haruki menganggukkan kepalanya membalas pertanyaanku, “aku mengerti, aku akan menyusul kalian ke Istana. Segera,” ucapku lagi padanya.
__________________
Aku menoleh ke samping saat kuda yang ditunggangi Haruki berhenti, “apa ini tempatnya?” Tanyaku, lama kutatap bangunan berlantai dua dari kayu yang lumayan berdiri jauh di samping kami itu.
“Benar, di sana," jawab Haruki kepadaku, “berikan undangan itu pada penjaganya, dan jangan lupa untuk menunjukkan kantung uang yang kau bawa,” ucap Haruki kembali padaku.
“Aku mengerti,” ungkapku beranjak turun dari atas kuda, aku meraih kantung kulit yang ada di dalam tas seraya kuberikan tas milikku itu kepada Haruki, “berhati-hatilah,” ucapnya pelan yang aku balas dengan anggukan kepala.
Aku berbalik melangkahkan kaki mendekati bangunan tersebut saat bayang-bayang Haruki dan juga kuda miliknya semakin jauh terlihat, “apa yang ingin kau lakukan di sini?” Langkah kakiku terhenti saat dua orang laki-laki berperawakan kurus menghadangku dengan tombak yang mereka arahkan.
__ADS_1
“Aku, ingin mengikuti sayembara,” ucapku pelan dengan sedikit memohon kepada mereka, “wanita jelek, kotor dan bau sepertimu ingin mengikuti sayembara yang dilakukan Raja?” Tukas salah satu laki-laki yang ditimpali dengan suara tawa dari teman yang ada di sampingnya.
Sialan! Sabar Sachi, kau pasti bisa melakukannya.
Aku tersenyum menatapi mereka, “aku sangatlah mengagumi Yang Mulia,” ucapku dengan menggenggam kedua tanganku, “aku tahu, jika perempuan jelek sepertiku akan langsung membuat Raja muak. Tapi, jika aku harus mati di tangannya … Ah, aku rela sekali,” sambungku kembali dengan mengarahkan kedua tanganku tadi menyentuh pipiku, kepalaku bergerak ke kanan dan ke kiri hingga kantung uang yang aku genggam mengeluarkan bunyi gemerincing yang kuat terdengar.
Lenyapkan aku, Tuhan … Lenyapkan aku. Ini memalukan, ini memalukan sekali. Zeki akan langsung membunuhku jika dia mendengar apa yang aku katakan ini.
“Jadi, bisakah … Laki-laki tampan seperti kalian ini membantuku? Aku, aku, aku bahkan memiliki undangannya,” ucapku tersenyum dengan mengarahkan undangan dari papan yang ada di tanganku.
Kedua laki-laki itu saling melirik, “baiklah. Kau boleh masuk, tapi sebelum itu,” ucap salah seorang laki-laki mengangkat telapak tangannya ke arahku, “aahh, apa yang kalian maksudkan ini?” Tanyaku dengan mengangkat kantung uang lalu menggoyang-goyangkannya di hadapan mereka.
Wangi semerbak langsung memenuhi hidung, saat aku telah melangkahkan kaki ke dalam. Aku mengangkat kepalaku ke atas, menatap langit-langit yang dipenuhi dengan hiasan yang terbuat dari kain beraneka warna, “apa yang dilakukan pengemis di tempatku?!” Tubuhku sedikit terperanjat saat suara bentakan perempuan memenuhi ruangan.
Aku berbalik, pandangan mataku terjatuh pada seorang perempuan bertubuh langsing dengan banyak sekali perempuan yang berdiri di belakangnya. Perempuan-perempuan tersebut menuruni anak tangga, melangkahkan kakinya mendekatiku, “apa yang dilakukan seorang pengemis busuk di tempatku?!”
Pengemis busuk?
“Panggil pengawal!” Tukas perempuan tersebut ke arah salah satu perempuan yang berdiri di belakangnya, “tunggu, tunggu, tunggu,” ucapku dengan mengarahkan kedua tangan ke arah mereka, perempuan itu memundurkan langkah kakinya diikuti perempuan yang berada di belakangnya saat aku melakukannya.
Apakah aku sekotor itu?
__ADS_1
Aku menghela napas menatap mereka, "aku membawa undangan, penampilanku seperti ini … Karena aku mendapatkan kejadian yang tak terduga selama perjalanan. Lihatlah, lihatlah, aku membawa undangannya bukan?” Ungkapku kepadanya, perempuan itu mengerutkan keningnya menatapku sebelum dia mengalihkan pandangannya kembali ke arah salah satu perempuan yang berdiri di belakangnya.
“Bersihkan dia, dan bawa dia bersama yang lainnya,” ucap perempuan itu kembali, dia berbalik melangkahkan kakinya meninggalkanku dengan hanya menyisakan tiga orang perempuan yang masih berdiri di hadapanku.
“Silakan,” ucap salah seorang perempuan yang berdiri di hadapanku dengan mengangkat sebelah tangannya.
Aku berjalan mengikuti mereka bertiga yang membawaku ke sebuah ruangan, pandangan mataku mengarah ke sekitar … Menatap sekitar puluhan perempuan yang berdiri dengan memakai pakaian bermodel sama, hanya corak warnanya saja yang berbeda. Mereka menyingkir saat aku berjalan melewati mereka, ketiga perempuan tadi berhenti di depan sebuah pintu, membuka pintu tersebut dan memintaku untuk masuk ke dalamnya.
Aku melakukan apa yang mereka katakan, di dalam ruangan itu … Mereka membersihkan tubuhku, debu yang membuat tubuhku sebelumya terlihat kusam, berangsur menghilang terbawa air. Aku kembali melangkahkan kaki mengikuti mereka ke luar dengan hanya memakai sehelai kain handuk yang mereka berikan.
Aku berjalan menunduk, menatap tetesan-tetesan air yang jatuh dari rambut. Kepalaku kembali terangkat, menatap lirikan semua perempuan tadi yang mengarah padaku. Aku mengalihkan pandangan dari mereka semua, mendekati ketiga perempuan yang salah satunya telah memegang pakaian yang sama seperti yang perempuan lain kenakan.
Aku mengikuti mereka yang telah berjalan ke balik kain gorden yang menjuntai ke lantai. Mereka bertiga mendekatiku saat aku telah berdiri di hadapan mereka, satu dari perempuan membantu mengeringkan dan menata rambutku, sedang perempuan lainnya mengenakan pakaian yang mereka bawa tadi kepadaku.
“Kami akan membawa undangan dan uang ini, sebagai jaminan hidup untuk tetap tinggal di sini,” ucap salah seorang perempuan yang aku balas dengan anggukan kepala.
Kedua kakiku kembali melangkah ke luar dari tirai, aku berjalan mendekati salah satu kursi lalu duduk di atas kursi tersebut. Aku meraih sebuah cermin kecil yang tergeletak di dekat kursi tersebut. Lama kutatap bayangan wajahku yang ada di balik cermin itu, sebelum aku kembali tertunduk dengan menghela napas.
Apa aku harus melakukan semua ini?
__ADS_1