Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLIII


__ADS_3

Aku membuka kedua mataku saat udara yang berembus semakin terasa menusuk tubuh, “nii-chan,” ucapku pelan sambil menatap wajah Haruki yang masih mengarahkan pandangannya ke depan.


Haruki menundukkan kepalanya diikuti telapak tangannya yang terangkat dari keningku, “kau sudah bangun?” Tanyanya yang aku balas dengan anggukan pelan.


Aku mengangkat kepalaku dari paha Haruki, “nii-chan, aku ingin … Kau tahu,” ucapku terhenti saat aku telah beranjak duduk menatapnya.


“Apa kau, ingin ditemani Izumi?”


“Ada apa?” Timpal Izumi yang langsung aku balas dengan gelengan kepala.


“Aku, pergi sendiri saja. Aku justru tidak akan bisa melakukannya, jika dia yang menjagaku,” ungkapku sambil menggerakkan tubuh beranjak berdiri.


“Apa kau sedang membicarakanku?”


Dengan cepat aku menggelengkan kepala menatapnya, “mustahil, aku membicarakanmu, nii-chan,” jawabku dengan tersenyum membalas tatapannya.


Pandangan mataku melirik ke arah Haruki yang juga telah beranjak berdiri, “aku akan menemanimu. Izumi, berikan aku pedang,” ungkapnya sambil mengangkat tangannya ke arah Izumi.


Izumi beranjak berdiri dengan sebilah pedang di tangannya, “mau ke mana kalian?” Tanyanya sembari memberikan pedang yang ada di tangannya itu pada Haruki.


“Hanya menemani Sachi sebentar. Kau, berjagalah di sini,” ungkap Haruki seraya berbalik lalu berjalan meninggalkannya.


Aku berbalik menyusul langkah Haruki di belakangnya, kuangkat tanganku meraih tangannya ketika Haruki menjulurkan tangannya ke belakang. Selama perjalanan, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya … Yang ia lakukan hanya menggerakkan kepalanya menoleh ke sekitar, memastikan keadaan aman untuk kami lewati.


“Lakukan di balik batu itu, aku akan menunggumu di sini,” ucap Haruki sambil mengangkat jari telunjuknya ke sebuah batu besar yang ada di pesisir pantai.


Aku berjalan melewatinya ketika Haruki melepaskan genggaman tangannya padaku, langkah kakiku terhenti di balik batu besar tersebut. Aku berjongkok dengan menggerakkan kedua tanganku menggali lubang di pasir yang ada di hadapan.

__ADS_1


Aku beranjak setengah berjongkok sambil membuka celana yang aku kenakan, tubuhku berbalik membelakangi laut dengan mengarahkan pandangan ke arah beberapa batang kelapa sekedar untuk berjaga jika ada yang tiba-tiba muncul. Kuangkat kepalaku mendongak ke atas, berusaha melepaskan apa yang sudah aku tahan beberapa waktu terakhir.


Mataku membelalak saat kurasakan sesuatu menyentuh bokongku, dengan perlahan … Aku menggerakkan tangan kananku ke arah belakang, “apa ini?” Bisikku lirih saat telapak tanganku terasa menyentuh sesuatu, “apa ini, rambut?” Aku kembali berbisik diikuti tanganku tadi yang mengusap-usap sesuatu yang ada di belakangku itu.


Pastikan … Tidak. Pastikan … Tidak. Oh astaga, Ya Tuhan, setidaknya berilah aku ketenangan di saat-saat yang sangat aku perlukan, seperti ini.


Aku menarik napas dalam dengan melirik ke ujung kiri mataku, dengan perlahan … Kepalaku berbalik, berusaha untuk memastikan apa yang terjadi. “Sachi, ada apa?!” Haruki ikut berteriak memanggilku saat teriakanku keluar tanpa sadar.


“Nii-chan, jangan maju! Berhenti di sana!” Aku kembali meninggikan suara agar dia tak mendekat.


“Jangan bermain-main, Sachi! Apa yang terjadi?!” Haruki membentakku dari balik batu besar itu.


Aku tidak sedang bermain-main. Tapi berikan aku waktu, untuk mengenakan kembali celanaku.


“Nii-chan, percayalah padaku,” jawabku singkat diikuti tanganku yang bergerak cepat menarik celana yang aku kenakan.


Haruki berjalan mendekat, “lihatlah itu,” ungkapku sambil menunjuk ke arah mayat mengapung yang tersangkut di batu besar itu.


Haruki melangkahkan kakinya mendekati mayat tadi, dia menggerakkan kakinya itu menyentuh mayat, hingga mayat yang sebelumnya menelungkup berganti posisi menjadi menelentang. Haruki berjongkok di dekat mayat tadi, dia mengangkat pedang yang ada di tangannya itu mendekati tubuh mayat tersebut,


“Mendekatlah,” ucapnya, aku melangkahkan kaki lalu membungkuk di dekatnya. “Jari-jari tangannya menghilang,” sambungnya kembali, dia mengangkat pedang yang menumpu tangan mayat tadi ke arahku.


Haruki beranjak berdiri, dia menarik pedang yang ada di tangannya itu hingga tangan mayat tadi langsung terjatuh. “Aku akan memanggil Izumi. Kau, tunggulah di sini,” ungkapnya yang segera aku balas dengan anggukan kepala.


Aku berjalan mendekati mayat itu saat Haruki berjalan melewatiku. Aku berjongkok di sampingnya, lama kutatap mayat laki-laki yang bentuknya sudah tak sempurna itu. Aku kembali tersadar saat kutatap gundukan pasir dari lubang yang aku tutupi sebelumnya, tubuhku kembali beranjak lalu melangkah pergi menyusuri air laut.


Aku mengangkat kepala ke atas, sesekali tubuhku sedikit bergoyang saat gelombang laut menyentuhnya. “Apa yang kau lakukan di laut di tengah malam seperti ini?!” Tubuhku sedikit terperanjat saat suara Izumi tiba-tiba berteriak.

__ADS_1


Aku mengarahkan pandangan ke sekitar, tatapan mataku itu terhenti pada sepasang mata bersinar yang menatapku dari kejauhan. “Apa yang kau lakukan di sana, Tupai?!”


“Apa ada sesuatu di sana, Sa-chan?”


Aku menarik napas dalam ketika suara mereka saling bersahutan terdengar, “mereka akan mengolok-olokku habis-habisan, jika aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi,” bisikku pelan sambil tetap mengarahkan pandangan ke arah mereka.


“Aku sedang menyucikan diri. Jadi jangan banyak bertanya!” Teriakku membalas mereka, helaan napasku keluar saat kedua kakiku kugerakkan mendekati bibir pantai.


“Kadang, ada banyak hal yang mengganggu pikiranku. Sebenarnya, Sachi ini pintar atau tidak,” sindir Izumi dengan melirik ke arahku ketika aku telah berdiri di samping mereka.


“Kepintaranku hanya berkerja di saat-saat aku menemukan peluang untuk mendapatkan kekayaan,” ungkapku berjongkok di samping mayat itu, berusaha untuk tak mengindahkan kata-kata Izumi.


“Jika anakmu nanti tertular sifatmu itu. Aku sungguh-sungguh merasa kasihan kepada Zeki,” cibirnya yang ikut berjongkok di dekat kepala mayat tersebut.


Izumi mengangkat tangannya mendekati pipi mayat itu, “dia kehilangan lidahnya,” sambung Izumi sembari menjauhkan kembali tangannya dari pipi mayat tersebut.


“Dia juga kehilangan jari kakinya, seperti anak yang kita temui tadi,” aku melirik ke arah Eneas yang telah berjongkok di dekat kaki sang mayat.


“Melihat ini, sepertinya … Apa yang dikatakan anak tersebut benar adanya. Kita bisa pergi meninggalkan pulau ini, lagi pun … Keberadaan kita, hanya diketahui oleh kakek dan-”


“Kita tidak bisa meninggalkan anak kecil itu sendirian, bukan?” Sambung Izumi memotong perkataan Haruki, dia beranjak, menundukkan kepalanya dengan berkacak pinggang.


“Aku, tidak bisa membayangkan. Jika aku, menjadi anak itu,” kali ini Eneas menimpali perkataan Izumi, “aku selalu mengucapkan syukur karena takdir membawaku bertemu dengan kalian. Karena itu, aku seakan melupakan keadaanku sendiri jika meninggalkan anak itu,” Eneas membuang pandangannya ke samping, dia menggigit bibirnya diikuti tangannya yang bergerak mengusap tengkuk.


Haruki melirik ke arahku, “lalu, bagaimana denganmu, Sa-chan?”


“Apa aku harus menjawab pertanyaan yang sudah sangat jelas jawabannya,” ungkapku membalas perkataannya.

__ADS_1


“Baiklah,” ucap Haruki sambil menghela napas, “asalkan kalian semua menerima syarat dariku,” sambungnya kembali dengan menatap kami bertiga bergantian.


__ADS_2