Fake Princess

Fake Princess
Chapter XCII


__ADS_3

"Jangan menatapku, tanyakan langsung ke mereka berdua. Karena otak dari kelompok ini, mereka berdua," ucap Izumi membalas tatapan yang diberikan oleh mereka berdua padanya.


"Aku telah menyarankan pemilihan anggota kelompok pada Adikku, kalian harus meminta izin padanya," sambung Haruki balas menatap mereka.


"Apa kalian berdua dapat bertarung? Menggunakan pedang atau panah?" ucapku menatapi mereka.


"Aku dapat menggunakan pedang," ucap Alma menatapku.


"Aku juga dapat menggunakan pedang," sambung Alvaro ikut menatapku.


"Kalau begitu, Zeki, Adinata... Pinjamkan pedang kalian berdua kepada mereka!" ucapku seraya mengalihkan pandangan pada mereka berdua yang masih lahap memakan daging.


"Laksanakan, Hime-sama," ucap Adinata seraya meraih pedangnya dan pedang Zeki lalu memberikannya pada mereka berdua.


"Apa yang harus kami lakukan?" ucap Alma menatapku.


"Bertarunglah satu sama lain, hingga salah satu dari kalian terluka parah," ucapku kembali menatap mereka.


"Eh?" ucap mereka serempak, menoleh mereka kearahku satu persatu.


"Apa yang kau lakukan? Jangan dipikir, kau bisa melakukan apapun semaumu," teriak Luana menatapku.


"Kalian sendiri bukan yang ingin menyerahkan semuanya padaku, atau kau mau menukarkan posisimu pada mereka?" ucapku melirik kepadanya.


"Apa yang kalian tunggu? cepat lakukan sesuai perintah dariku!" ucapku kembali menatap mereka berdua.


Kutatap Alma dan Alvaro yang memandang satu sama lain, kualihkan pandanganku pada telapak tangan mereka yang gemetar dengan sebilah pedang di masing-masing tangan mereka. Diletakkannya pedang tersebut kembali oleh Alvaro, tertunduk ia menatap lurus kebawah...


"Maaf, aku tidak bisa melakukannya," ucapnya tetap tertunduk.


"Dan akupun, tidak bisa melakukannya. Melihat teman kami mati satu persatu, benar-benar seperti sebuah mimpi buruk untukku. Aku tidak mampu melakukannya," sambung Alma, diletakkannya kembali pedang milik Zeki yang ia pegang.


"Apa kau puas?!" teriak Luana lagi kepadaku.


"Aku menerima kalian bergabung dalam kelompok ini," ucapku tanpa mempedulikan teriakan Luana.


"Tapi?" ucap Alvaro menatapku.

__ADS_1


"Tapi kenapa aku menerima kalian?" tanyaku, mengangguk ia seraya tetap menatapku.


"Jika kalian menerima tantangan dariku dan bertarung satu sama lain, aku akan menolak kalian untuk bergabung saat itu juga..."


"Karena aku tidak ingin menerima seseorang yang tega menyakiti temannya sendiri. Kalian melakukan keputusan yang tepat..."


"Nii-chan, bisakah aku meminta air yang ada di dekatmu?" ucapku mengalihkan pandangan kearah Haruki.


"Tentu," sambung Haruki seraya menyerahkan sebuah daun berbentuk kerucut berisi air padaku.


"Tunanganmu, benar-benar mengerikan Zeki," bisik Adinata yang tak sengaja terdengar olehku.


"Kau orang kesekian yang mengatakannya," sambung Zeki ikut berbisik, kugenggam kuat kedua telapak tanganku mendengarnya.


"Terima kasih," ucap Alvaro, menoleh aku kembali kepada mereka.


"Berterima kasihlah ketika kita semua sudah terbebas dari hutan ini," ucapku tersenyum menatap mereka.


Kuraih daun yang diarahkan Haruki tadi, kuminum air yang ada didalamnya sedikit demi sedikit. Kusandarkan kepalaku di pundaknya Izumi, seraya kembali menatap mereka satu persatu.


______________


"Sakit sekali," ucap Julissa, kutatap ia yang sibuk meniupkan udara ke lengan kanan dan kirinya.


"Bagaimana Danur, apa kau merasakan sesuatu?" tukas Haruki mengalihkan pandangannya kearah Danur.


"A-aku me-merasakannya, ta-tapi ti-tidak te-terlalu be-besar."


"Bagaimana Sa-chan?"


"Aku hanya ingin langsung menemukan inti sihirnya, dan sebisa mungkin menghindari pertarungan."


"Apa sekarang kau merasakan takut?" ucap Zeki berjongkok menatapku.


"Kau benar, aku takut. Aku takut, akan musuh yang tidak aku ketahui."


"Berlindunglah dibelakang kakakmu ini jika kau takut," ucap Izumi mencubit kuat pipiku.

__ADS_1


"Sakit," ucapku balas menatapnya, dilepaskannya cubitan yang ia lakukan di pipiku.


"Aku menyerahkan semuanya padamu Haru nii-chan, kau yang memimpin kelompok."


___________


Kembali kami melangkahkan kaki mengikuti arahan Danurdara, kurasakan bau busuk tiba-tiba menusuk hidungku. Kutatap Julissa, Luana dan juga Sasithorn sedang tertunduk mengeluarkan isi perut mereka masing-masing.


Kututup dengan kuat hidung dan mulutku menggunakan telapak tangan, bau busuk tersebut semakin jelas tercium. Kuarahkan pandanganku kepada mereka semua yang tampak pucat pasi menahan bau yang mengelilingi kami...


Kembali, pandangan mengerikan kembali terhampar di hadapan kami. Kutatap tumpukan-tumpukan bangkai hewan dan juga manusia yang bercampur menjadi satu...


Berbalik dan berlari aku menjauhi pemandangan itu, berjongkok aku seraya memuntahkan isi perutku berkali-kali. Kurasakan tepukan-tepukan pelan dipunggung, kuangkat kepalaku seraya menoleh ke arahnya...


"Kau baik-baik saja?" tukas Izumi kembali menepuk-nepuk pelan punggungku.


"Aku tidak sanggup, nii-chan. Bau busuk itu seakan menusuk-nusuk perutku."


"Tapi kita tidak punya pilihan lain Sachi, semakin cepat kita melakukannya, semakin cepat juga kita pulang kerumah. Ayolah, kau adik yang selalu aku perhatikan selama ini... Aku tahu kau dapat melakukannya," ungkapnya tersenyum menatapku


"Tapi nii-chan."


"Sa-chan," terdengar suara Haruki disertai pelukan di leherku.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Apa aku terlihat baik-baik saja di matamu Haru nii-chan."


"Aku tahu, lihatlah... tubuhmu penuh kotoran dan juga berbau, rambutmu yang bergelombang semakin mengeras layaknya sabut kelapa."


"Tapi setidaknya ada satu sisi positif darinya selama disini," sambung Izumi memotong perkataan Haruki.


"Apa?" tanya Haruki kembali.


"Beban tubuhnya semakin berkurang, jadi ia tidak perlu lagi mengenakan korset berlapis-lapis," sambung Izumi tertawa menatapku.


"Kau benar," lanjut Haruki, disandarkannya kepalanya di kepalaku seraya menahan tawa.

__ADS_1


"Apa kalian harus membahasnya disini," ucapku menutup mulut Izumi yang tak henti-hentinya tertawa menggunakan telapak tanganku.


"Tapi kalian tahu, aku sangat-sangat ingin makan malam bersama Ayah dan juga kalian berdua lagi," ungkap Haruki pelan kepada kami.


__ADS_2