Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXIX


__ADS_3

“Nii-chan, aku bisa duduk di belakang jika kau sulit untuk mengendalikan kuda.”


“Aku tidak ingin mengambil risiko jika kau tiba-tiba tak sadarkan diri,” jawabnya yang tetap mengarahkan pandangannya ke depan.


“Bagaimana keadaanmu sekarang?” Dia balik bertanya dengan menunduk menatapku.


“Dadaku masih terasa sesak. Maafkan aku, nii-chan … Aku salah perhitungan, aku bertindak sembrono dengan mengajakmu di saat aku bahkan tidak bisa memanggil Kou,” tukasku, aku menghela napas sambil menundukkan pandangan menghindari tatapannya.


“Tidak apa-apa, itu lebih baik dibandingkan kau pergi sendirian yang akan membuatku khawatir tanpa henti.”


“Apa kau kembali merasakan sesuatu? Entah kenapa, ini terlalu tenang untuk ukuran sebuah hutan,” sambung Haruki, kuangkat kembali kepalaku menatapnya yang telah menoleh ke kanan dan juga kiri.


“Aku pikir, makhluk ini sangatlah kuat dan juga pandai. Sihirnya tiba-tiba muncul dan tiba-tiba menghilang, ini seperti dia bisa mengendalikan sihirnya sendiri,” ucapku dengan menggigit kuat ujung ibu jariku.


“Nii-chan, berhenti! Aku ingin turun,” sambungku sambil menepuk pundaknya.


“Apa terjadi sesuatu?”


Aku menggelengkan kepala, “tidak terjadi apa pun, lebih tepatnya belum. Akan tetapi, aku sepertinya tahu, harus meminta bantuan kepada siapa,” ungkapku kembali padanya.


Haruki mengedipkan beberapa kali kedua matanya menatapku. Dia beranjak turun lalu mengangkat kedua tangannya meraih dan menggendongku sedikit menjauhi kuda. “Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?” tanyanya ketika dia menurunkan aku dari gendongannya.


“Nii-chan, bisakah kau membantuku?” tukasku sambil menjinjit, berusaha agar kepalaku tak tenggelam oleh kabut tebal yang semakin meninggi hingga menyentuh leherku.


Aku mengangkat kedua tanganku ke atas, kugerakkan sebelah tanganku mencabut salah satu kelopak bunga yang tumbuh di gelang pemberian Kakek. “Nii-chan,” ungkapku terhenti, aku kembali menarik napas dalam saat napasku semakin tersengal oleh kabut yang ada, “bisakah, bisakah,” ucapku lagi-lagi terhenti sambil meneguk ludahku sendiri.


“Bisakah nii-chan, mengubur bunga ini … Ke tanah,” tukasku dengan terputus-putus menatapnya.

__ADS_1


Haruki mengangkat sebelah tangannya meraih bunga yang ada di tanganku. Dia menarik napas dalam sebelum membenamkan dirinya ke dalam kabut asap yang mengelilingi kami. Telapak tanganku bergerak ke dalam kabut asap, kuhentikan telapak tanganku saat menyentuh … Entahlah, mungkin rambutnya Haruki yang ada di dalam kabut.


Telapak tanganku tadi terangkat diikuti sosok Haruki yang kembali muncul dari dalam kabut, Dia mengepalkan sebelah tangannya mendekati mulut sambil tak henti-hentinya batuk dengan membuang pandangannya ke samping. “Aku, sudah melakukannya,” tukas Haruki sambil kembali terbatuk.


“Kakek, aku membutuhkanmu. Jika tidak aku akan mati di sini, Kakek. Jadi kumohon, datanglah,” ungkapku menggunakan bahasa Latin.


Haruki meraih kepalaku dengan sebelah tangannya yang lain merangkul pundakku ketika dedaunan yang mengelilingi kami tiba-tiba berayun kuat. “Nii-chan, kuda kita,” tukasku sambil mengangkat jari telunjuk ke arah kuda miliknya yang telah berlari menjauh.


“Biarkan saja, lagi pun-”


Aku mengarahkan pandangan ke arah Haruki yang telah menghentikan perkataannya. Jakunnya bergerak seakan menelan sesuatu dengan matanya yang masih menatap ke arah belakang tubuhku. Aku berbalik, tubuhku tertegun menatap sebuah gerbang terbuat dari akar penuh bunga mencuat dari dalam kabut.


Aku kembali meneguk ludahku saat pandangan mataku mengarah kepada Kakek dan juga Bibiku dengan beberapa Elf laki-laki dan perempuan di belakang mereka. “Siapa mereka, Sa-chan?” bisik Haruki dengan melirik ke arahku.


“Kakek dan juga Bibi berserta para Elf,” balasku berbisik dengan kembali membuang pandangan ke arah Kakek den juga bibiku itu.


“Sachi, bibi merindukanmu,” ucap bibiku, dia berlari lalu menarikku ke pelukannya, “Ayah mengatakan jika kau memanggilnya, apa kau baik-baik saja?” tukasnya lagi dengan semakin memperkuat pelukannya.


“Dia Kakakku, Haruki.”


“Sihir ini, jadi kau ya-”


“Bibi!” Aku segera memotong perkataannya, lama dia menatapku sebelum menghela napas panjang, “bibi, mengerti,” timpalnya dengan kembali menatapi Haruki.


“Kau terlihat tampan seperti yang Ardella ceritakan, Haruki. Aku sudah tidak sabar, untuk bisa bertemu dengan Izumi,” sambungnya sambil tersenyum menatapi Haruki.


“Apa terjadi sesuatu? Kenapa kau tiba-tiba memanggilku?”

__ADS_1


Pandangan mataku segera beralih kepada kakek yang berjalan mendekat dengan para Elf yang berjalan di belakangnya, “kakek merasakannya bukan? Bantu aku untuk menangkapnya! Apa pun yang terjadi, aku harus menangkapnya,” ucapku sambil berjalan mendekatinya ketika bibi melepaskan pelukannya.


“Kakek,” ungkapku ketika dia masih terdiam menatapku.


“Apa kakek tahu akan burung yang dapat menyembuhkan luka dengan air matanya? Burung yang sedikit di-Agungkan oleh para peri,” tukasku, kakek masih terdiam hanya kedua matanya saja yang sedikit membesar, “aku tidak tahu bagaimana caranya, hanya saja … Burung tersebut, semakin tumbuh dewasa seiring waktu. Kakek, aku akan mati di tangan musuh,” sambungku yang diikuti semakin membesarnya kedua matanya itu yang menatapku.


“Namun, walau aku mengetahui apa yang akan terjadi. Aku, masih ingin memperjuangkan semuanya dengan harapan, semuanya akan berakhir baik seperti yang aku harapkan. Bantu aku untuk memperjuangkan semua itu Kakek … Aku, tidak akan merepotkanmu jika saja aku tidak terjebak di sini dan bisa memanggil Naga milikku itu.”


“Kakek, kumohon,” ungkapku kembali kepadanya.


Dia masih terdiam menatapku, sepatah kata pun tak keluar darinya. Aku mengusap mulut hingga ke pipi dengan membuang pandangan ke samping, “nii-chan,” ungkapku sambil berbalik menatap Haruki.


“Sachi, jangan bergerak dari tempatmu berdiri. Begitu pun denganmu, Haruki. Hanya jangan bergerak, jika kalian ingin selamat,” tukas Bibi yang tiba-tiba memotong perkataanku.


Haruki menganggukkan kepalanya saat kami lama saling bertatap. Aku mengalihkan pandangan ke arah Bibi yang memejamkan matanya, lebih tepatnya semua Elf memejamkan mata mereka kecuali Kakek. “Aku, menemukan dua orang laki-laki … Manusia,” kedua mataku membesar ketika bibi mengatakannya.


“Bibi, apa mereka mengenakan pakaian serba hitam?” tanyaku cemas sambil menggenggam kedua tanganku menatapnya.


“Apa kau mengenal mereka?”


“Apa mereka baik-baik saja? Bibi, bisakah kau membawa mereka ke sini?” lagi-lagi aku menggenggam erat kedua tanganku itu sambil menatapnya.


“Aku bisa saja. Akan tetapi, aku tidak bisa menjamin … Mereka berdua masih hidup atau tidak-”


“Kumohon!”


Dengan cepat aku melirik ke arah Haruki yang tiba-tiba bersuara, “walau itu hanya mayatnya, kumohon … Bawakan mereka untukku. Hanya katakan saja, aku … Akan melakukan apa pun.”

__ADS_1


“Haru-chan, kau harus mengingat kata-katamu ini, nanti,” timpal bibi, dia tersenyum walau matanya masih terpejam.


“Salah satu laki-laki itu, adalah laki-laki yang merawatku dari kecil. Sedangkan yang lainnya, ialah laki-laki yang menjaga Kakakku. Kumohon Bibi, perlakukan mereka dengan sangat baik. Mereka mungkin, sudah seperti Ibu dan Ayah untuk kami,” aku menggigit kuat bibirku ketika suaraku yang keluar terdengar bergetar.


__ADS_2