Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXXXVIII


__ADS_3

"Jika aku menikah nanti dengan Adinata, maka aku juga akan diperlakukan hal yang sama... Ini seperti, ini pernikahanku sendiri dengannya," ucap Julissa, kualihkan pandanganku menatapnya yang tersenyum memandang jari-jemarinya sendiri.


"Kau hanya harus menunggu dua tahun lagi," ucapku tersenyum menatapnya.


"Katakan Sachi, kau ingin aku dulu atau kau yang lebih dulu menikah di antara kita berdua?" sambungnya balas menatapku.


"Maksudnya?"


"Kita bertunangan pada waktu yang sama, jadi kita kemungkinan akan menikah pada waktu yang sama juga. Jadi, apa kau yang ingin lebih dulu atau aku?"


"Entahlah, tapi sebelum itu... Apa kau baik-baik saja?" ucapku mengalihkan perhatian pada Wasfiah yang duduk tertunduk di sampingku.


"Aku... Hanya sangat gugup sekali. Aku tidak menyangka akan dapat menikah secepat ini," ucapnya dengan sangat pelan.


"Danur laki-laki yang baik, sebagai temannya... Aku ingin kau melihat tidak hanya kekurangannya melainkan kelebihannya," ucapku menimpali perkataannya, kutatap dia yang juga balas menatapku.


Pandangan mataku teralihkan pada pintu yang sedikit terbuka, kutatap tiga orang laki-laki masuk membawa kotak kayu besar di lengan mereka masing-masing...


Ketiga laki-laki tadi berjalan mendekati dinding yang tak terlalu jauh dari pintu seraya bergantian mereka meletakkan kotak-kotak kayu tadi di sana. Berbalik mereka bertiga menatap kami seraya dua dari mereka berjalan mendekati...


"Apa yang kau lakukan? Dan apa yang kau kenakan ini?"


"Aku tidak tahu, aku hanya mengikuti perintah. Katanya, Raja meminta mereka untuk memperlakukan kami sama seperti calon pengantin," ucapku balas menatapnya yang telah berdiri di hadapanku.


"Kalian mengenakan pacar, dari yang aku dengar. Jika warnanya sangat merah berarti pasangannya sangat mencintainya," ucap Adinata, kualihkan pandanganku padanya yang telah memegang lengannya Julissa.


"Benarkah? Aku yakin hasilnya nanti akan sangat merah padamu," ucapnya yang juga ikut mengangkat dan menatap telapak tanganku.


"Apa yang kau bawa?" ucapku, seraya kuarahkan pandanganku pada kotak kayu yang dibawanya sebelumnya.

__ADS_1


"Pakaian dan perhiasan untuk kalian kenakan, Ayah meminta kami untuk mengantarnya," ucap Adinata menjawab perkataanku.


"Apa kami juga akan mengenakannya?" ucap Julissa, kutatap Adinata yang mengangguk membalas perkataannya.


"Kalian berdua akan mendampingi pengantin perempuan, jadi kalian juga akan ikut memakai pakaiannya," ungkap Adinata kembali padanya.


"Zeki," ucapku, kualihkan pandanganku padanya.


"Ada apa?" ungkapnya balas menatapku.


"Bantu aku, hidungku rasanya gatal sekali, aku tidak bisa menggaruknya," ucapku seraya kuangkat kedua telapak tanganku di hadapannya, berkali-kali kugerakkan kedua kakiku perlahan mengetuk lantai karenanya.


"Coba aku lihat," ungkapnya berjongkok di hadapanku seraya diarahkannya jari telunjuknya tadi menggaruk pelan hidungku.


"Apa masih gatal?" ungkapnya, kubalas perkataannya dengan sebuah gelengan dariku.


"Apa yang kau lakukan disini Pangeran Adinata," terdengar suara perempuan, kualihkan pandanganku ke arah Ajeng dan perempuan lainnya yang melangkahkan kakinya mendekati.


"Bukan itu maksudku, laki-laki dilarang terlalu lama di sini," ucapnya memotong perkataan Adinata.


"Bukannya sesama calon pengantin saja yang tidak boleh bertemu, aku dan dia masih dua tahun lagi untuk menikah," sambung Zeki menimpali perkataannya.


"Tapi tetap saja, bisakah kalian semua keluar?"


"Apa kau ingin mengusir kami Bibi?"


"Bukan seperti itu Yang Mulia, hanya saja... Kami harus membalurkan lulur pada tubuh mereka. Dan itu berarti..."


"Aku mengerti, cepatlah Zeki. Kita masih punya banyak pekerjaan," ucap Adinata memotong perkataannya, berbalik ia seraya melangkahkan kakinya menjauh.

__ADS_1


"Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu," ucapnya menepuk pelan kepalaku, kualihkan pandanganku padanya yang juga ikut berjalan menyusul.


Kutatap punggungnya yang telah berjalan melewati pintu, pandangan mataku terjatuh pada dua perempuan yang telah berdiri di hadapanku. Salah satu dari mereka ada yang berdiri di sampingku sedangkan yang lainnya duduk di dekat kakiku...


Diangkatnya lengan kananku oleh perempuan tadi, kurasakan sedikit rasa dingin saat benda kental berwarna kecokelatan itu menyentuh lenganku. Bau rempah-rempah yang menyeruak saat benda lengket itu menelusuri lenganku benar-benar memenuhi hidungku...


Kualihkan pandanganku pada perempuan lainnya yang telah menyingkap sedikit kain yang menutupi kakiku... Kembali benda tersebut terbalur rata memenuhi kakiku yang ia genggam...


"Jika semuanya telah selesai, kalian akan melakukan betangas untuk membuat aura kecantikan kalian semakin memancar..."


"Be-tangas?" ucapku memotong perkataannya.


"Kalian akan duduk di atas kursi yang dibawahnya diletakkan rebusan rempah-rempah. Seluruh tubuh kalian akan dibungkus menggunakan tikar, setelah selesai melakukannya... Bau tubuh kalian akan menghilang dan kalian akan terlihat lebih cantik," ucap Ajeng balas menatapku.


"Ini benar-benar pengalaman pertama untukku..."


"Benarkah? Akan tetapi sebelum itu, kalian berdua pun akan kami ajarkan tarian yang akan kalian tampilkan ketika acara pernikahan," ucapnya memotong perkataanku.


"Tarian?" ungkap Julissa, kutatap Ajeng yang telah mengalihkan pandangannya pada Julissa.


"Pada saat pernikahan calon pengantin perempuan akan menari di hadapan calon suaminya berserta para tamu, dan kalian berdua akan membantu mengiringinya dari samping," ucap Ajeng kembali kepada kami.


"Tapi, aku... Seumur-umur tidak pernah menari," ungkapku tanpa sadar padanya.


"Karena itu, kami akan mengajarkan semuanya kepada kalian..."


"Sebenarnya, beberapa anak bangsawan terpilih untuk melakukannya... Akan tetapi, Raja ingin kalian berdua yang melakukannya. Karena dia mengatakan, aku ingin ketiga Putriku langsung yang melakukannya," sambung Ajeng kembali.


"Apa kau pikir kami bisa melakukannya?" ungkap Julissa, kualihkan pandanganku padanya yang tertunduk.

__ADS_1


"Kalian harus dapat melakukannya, apapun yang terjadi, kalian harus dapat melakukannya," ucapnya lagi, dialihkannya pandangannya tadi menatapi kami satu-persatu.


__ADS_2