Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXCIV


__ADS_3

“Putri, makan malam telah siap,” tukas suara Tsubaru yang terdengar dari balik pintu.


Aku meletakkan sisir yang ada di tanganku sembari masih kutatap pantulan bayanganku dari cermin yang ada di hadapanku itu, “aku mengerti,” ucapku beranjak berdiri lalu berbalik melangkahkan kaki mendekati pintu.


Aku membuka pintu tersebut lalu berjalan dengan melirik ke arah Tsubaru yang membungkukkan tubuhnya di samping pintu. Aku melepaskan genggaman tanganku pada gagang pintu sebelum aku berbelok sembari melanjutkan langkah meninggalkan Tsubaru. “Apa keadaan di sini baik-baik saja, nii-chan?” tanyaku melirik ke kanan dengan tetap melangkahkan kaki.


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Putri. Semuanya, baik-baik saja,” jawabnya diikuti suara langkah kaki yang mengikuti.


"Tsu nii-chan, aku ingin meminta maaf kepadamu,” tukasku menunduk dengan menatapi kedua kakiku yang melangkah bergantian.


"Kami kabur dari suku Azayaka, dan aku … Tidak sempat mencari pedang pemberian darimu yang mereka sembunyikan,” sambungku sambil menghentikan langkah lalu berbalik menatapnya.


Tsubaru tersenyum menatapku, “tidak apa-apa. Jika aku nanti mengunjungi tempat itu, aku akan meminta mereka untuk mengembalikannya jika Putri benar-benar menginginkannya.”


“Aku benar-benar menyukai pedang itu.”


“Pelayanmu ini, akan mengambilkannya kembali untukmu, Putri,” ungkapnya sembari kembali membungkukkan tubuhnya ke arahku.


Aku menarik napas dengan tetap menatapnya, “Tsu nii-chan, terima kasih,” tukasku yang ikut membungkukkan tubuh padanya.


Aku kembali beranjak berdiri lalu berbalik melangkahkan kaki meninggalkannya. Sesekali aku melirik ke arah bayangan Tsubaru yang kembali mengikutiku dari belakang, “bagaimana keadaan Ryuzaki, nii-chan?” tanyaku dengan kembali membuang pandangan ke depan.


“Aku dan Arata telah membersihkan tubuhnya, kami juga telah memotong rapi rambutnya. Akan tetapi, Yang Mulia meminta kami untuk jangan terlalu memotong pendek rambutnya itu, agar telinganya dapat tertutupi. Yang Mulia tidak ingin, jika nyawa Pangeran Ryuzaki terancam jika kabar mengenai tentangnya keluar dari Istana,” ucap Tsubaru yang sangat pelan terdengar.


“Jika nanti kami melanjutkan perjalanan, tolong bantu aku untuk menjaga mereka berdua, nii-chan,” timpalku dengan melirik ke sudut mataku.

__ADS_1


“Tentu, Putri. Serahkan semuanya kepadaku,” ucapnya yang lagi-lagi terdengar.


Aku terus melangkah maju mendekati ruang makan dengan pintu berdaun dua yang terbuka lebar, dua orang pengawal yang berjaga langsung membungkukkan tubuh mereka saat aku berjalan mendekati mereka. “Tsu nii-chan, kau tidak ikut masuk?” tanyaku menghentikan langkah lalu menoleh ke arahnya.


“Yang Mulia, melarang siapa pun untuk mendekat. Selamat menikmati makan malammu, Putri,” ungkapnya sembari turut membungkukkan tubuhnya.


Aku menggangguk lalu berbalik melangkahkan kaki memasuki ruang makan. Langkah kakiku terhenti dengan membungkukkan tubuh ke arah mereka, “salam Ayah, Ibu,” ucapku sebelum beranjak kembali berdiri lalu melanjutkan langkah mendekati mereka.


Aku menghentikan langkah, menarik kursi yang ada di samping Ryuzaki lalu mendudukinya, “kau terlihat tampan sekali, Ryu,” ucapku tersenyum saat dia menolehkan wajahnya ke arahku.


“Ayah, apa makanannya tidak terlalu banyak?” gumamku dengan melemparkan pandangan ke arah makanan yang memenuhi meja.


“Ibumu, ingin mengetahui makanan apa saja yang disukai anak-anaknya.”


“Ibu, ingin memasak makanan untuk kalian kedepannya. Karena itu, Ibu ingin mengetahui makanan apa yang disukai oleh Putra dan Putriku,” timpalnya dengan tersenyum menatapku.


“Aku memakan apa pun, Ibu. Tapi jika Ibu membuatkanku sesuatu yang manis, aku akan sangat bersyukur,” tukasku yang balas tersenyum menatapnya.


“Ternyata Sachi, sama seperti Kakaknya Haruki. Haruki sangat menyukai makanan manis, berbanding terbalik dengan Izumi.”


“Eh?” tukasku yang membuat perkataan Ibu terhenti lalu beralih menatapku. “Ada apa, Sachi? Apa kau memerlukan sesuatu?” tanya Ibu yang masih terdiam menatapku.


Aku melirik sejenak ke arah Ayahku yang hanya terdiam menatap piring kosong di hadapannya, “tidak apa-apa, Ibu. Aku hanya merasa sedikit perih di perutku karena kelaparan,” ungkapku dengan tersenyum menatapnya.


______________.

__ADS_1


Aku berjalan menyusuri lorong Istana, sedangkan Tsubaru pagi-pagi sekali telah pergi membantu Arata yang masih belum terbiasa untuk mengurusi Ryuzaki. “My Lord, aku telah mengantar mereka semua pulang. Aku permisi pulang ke duniaku,” tukas suara Kou yang membuat langkahku terhenti.


“Aku mengerti, terima kasih, Kou,” tukasku kembali melanjutkan langkah diikuti telapak tanganku yang bergerak menyelipkan sedikit rambutku ke telinga.


“Dia benar-benar! Aku akan menghukumnya saat aku bertemu dengannya nanti!”


Aku terhenyak, dengan cepat kusembuyikan tubuhku ke balik dinding saat suara Izumi samar-samar terdengar. Aku berbalik, saat suara langkah kaki bergerak berlalu … Langkah kakiku lagi-lagi terhenti saat suara Izumi memanggil kuat namaku. Aku tertunduk, kugigit kuat bibirku sebelum tubuhku kembali berbalik ke belakang.


“Di mana mereka?” gumamku dengan mengerutkan alis saat pandangan mataku mengarah ke depan.


“Apa yang kau lakukan? Kau tiba-tiba menghilang dengan mengirim Kou untuk menjemput kami? Apa kau bercanda?!” Bentak Izumi yang membuat tubuhku tertegun seketika.


“Jangan berpura-pura menangis! Apa kau tidak tahu betapa khawatirnya kami?!”


“Sa-chan, jelaskan semuanya pada kami! Apa yang sebenarnya kau pikirkan?” timpal suara Haruki setelah bentakan Izumi terdengar.


Apa yang mereka maksudkan? Menangis? Siapa pula yang menangis?


Kedua mataku membelalak saat aku tersadar apa yang kemungkinan terjadi. Aku segera berlari ke luar dari lorong. Langkahku terhenti dengan menggerakkan kepalaku ke kanan lalu ke kiri secara bergantian, mulutku terbuka lebar … Aku terdiam sejenak, saat kedua mataku terjatuh pada Haruki, Izumi dan juga Eneas yang tengah berdiri mengelilingi Ibuku dengan Izumi yang melingkarkan lengannya di leher Ibu.


“Apa yang kalian lakukan?!” Aku berteriak kencang hingga mereka semua menoleh ke arahku, “apa kalian semua ingin menjadi anak yang tidak tahu budi!” sambungku lagi dengan berlari cepat mendekati mereka.


“Kenapa? Kenapa ada dua Sachi?” tanya Izumi dengan menoleh ke arahku lalu Ibu bergantian, “apa kau membelah diri?” lanjut Izumi dengan mengerutkan keningnya menatapku yang telah menghentikan langkah di hadapan mereka.


“Menurut- Menurut kalian, kenapa?” Aku balas bertanya kepadanya.

__ADS_1


“Izumi-kun, Haru-chan,” ucap suara Ibu yang pelan terdengar, dia mengangkat wajahnya menatap Izumi dan Haruki bergantian.


Kedua mata Izumi membelalak diikuti rangkulannya di leher Ibu merenggang, “Izumi-kun? Haru-chan?” Aku menganggukkan kepala, saat Izumi mengatakannya sambil menatapku dengan kedua matanya yang telah memerah.


__ADS_2