
Gelembung-gelembung kecil tiba-tiba memenuhi sekeliling tubuhku. Pisau yang aku genggam sebelumnya, entah sudah menghilang ke mana. Sebelah tanganku bergerak ke depan saat Ebe juga ikut menggerakkan tubuhnya berenang mendekatiku.
"Sachi!" Teriaknya kembali terdengar saat telapak tangannya sempat menyentuh telapak tanganku sebelum terlepas kembali.
"Eb.." Ucapku terhenti saat mencoba memanggilnya, aku tidak tahu... Seperti air yang ada di sekitar melarangku untuk mengucapkan kata-kata apapun.
"Bertahanlah Sachi," ucap Ebe lagi, ia kembali mengarahkan sebelah tangannya meraih telapak tanganku yang semakin tertarik menjauhinya.
"Ebe!" Teriakan seorang laki-laki tiba-tiba terdengar, diikuti pusaran air yang mengelilingi tubuhku sedikit mereda.
Tubuhku tiba-tiba tak dapat digerakkan, kutundukkan kepalaku menatapi air yang berbentuk layaknya cincin telah mengikat tubuhku itu. Beberapa kali, beberapa kali aku mencoba menghancurkan benda itu... Tapi percuma.
"Kakek," ucap Ebe berenang mendekati seorang laki-laki tua bertubuh setengah manusia dan... Belut?
Dari atas hingga ke pinggang, tubuhnya seperti manusia pada umumnya, lengkap dengan rambutnya yang memutih mengambang di dalam air. Sedangkan setengah tubuhnya lagi... Dia memiliki ekor yang panjang layaknya seekor belut dengan sirip lebar seperti Ebe.
Dibelakangnya, tampak berenang beberapa duyung laki-laki dengan ekor indah beraneka warna. Mereka, menggenggam sebuah senjata di tangan masing-masing. Senjata dengan tiga mata tombak yang siap menghabisi nyawaku jika mereka sudah mau melakukannya dari tadi.
"Kakek, dia temanku," ucap Ebe dengan sebelah tangannya memegang lengan laki-laki tua itu, kutatap sebuah mahkota dihiasi banyak sekali mutiara di kepala laki-laki itu.
"Dia manusia! Beraninya kau mengajak manusia di wilayah kekuasaan ku!" Bentaknya kuat, Ebe membuang pandangannya dengan kedua tangannya bergerak menutupi telinganya yang berbentuk seperti sirip itu.
Mataku membelalak saat kurasakan cekikan kuat di leher. Laki-laki itu menoleh ke arahku dengan sebelah tangannya terlihat mencengkeram air yang ia arahkan padaku. Ebe berbalik menatapku, dia melepaskan tangannya yang menutupi telinganya itu bergerak meraih lengan laki-laki tua yang menatapku tadi.
"Kau masih ingin menolongnya?! Dia telah mencelakai mu!" Teriak laki-laki tua itu kembali dengan sebelah tangannya mengangkat dagu Ebe.
"Itu bukan kesalahannya, itu kesalahanku karena tidak berhati-hati. Dia telah menolongku, dia temanku!" Teriak Ebe pada laki-laki tua itu kembali.
__ADS_1
"Pergilah, aku melepaskan mu," ucap laki-laki tua itu menatapku, tubuhku terasa lega kembali saat ikatan tak terlihat yang membelenggu tubuhku tadi menghilang.
"Dan kau, ikuti aku!" Sambungnya berbalik menatap Ebe.
"Aku tidak akan pergi," ucapku mengarahkan sebelah tangan menutupi leher, kutatap mereka semua yang berbalik menatapku.
"Aku mengerti bahasa kalian, dan akan aku katakan sekali lagi... Aku, tidak akan pergi," ucapku menggerakkan kaki berenang mendekati mereka.
"Kakek, dia tidak berniat buruk," ucap Ebe saat laki-laki tua itu berbalik menatapnya.
"Apa kau lupa..."
"Aku ingat, aku masih mengingat jelas saat para manusia berusaha membunuhku. Akan tetapi, sama seperti kita... Manusia, tidak semuanya buruk seperti yang kita kira," ucap Ebe menghentikan perkataan laki-laki itu.
"Aku, hanya ingin berdoa di kuil. Aku, ingin menyelamatkan adikku. Kumohon," ucapku kembali menatapnya dengan suara bergetar.
"Kuil itu, terlarang untuk kalian, para manusia," ucapnya berbalik, ekornya yang panjang tampak bergerak meliuk-liuk di hadapanku.
"Apa yang kau katakan tadi?!" Bentak laki-laki tua itu, ekornya yang panjang bergerak dengan cepat melilit leherku.
"Jika aku, tidak segera kembali. Akan aku pastikan, sehelai rambut kalian tidak akan aman mengambang di permukaan air. Para manusia, akan berbondong-bondong menghabisi kalian. Lakukan saja, jika kau tak percaya," ucapku dengan sedikit tersengal dengan mataku masih menatap tajam ke arahnya.
"Siapa kau?"
"Aku, seorang Putri salah satu Kerajaan yang ada di daratan. Dan semua pengawal ku, menunggu kepulangan ku di permukaan. Jadi lepaskan! Kau bisa meminta salah satu dari mereka untuk memastikannya," ucapku dengan melirik ke arah duyung laki-laki yang juga menatapku.
"Apa kau mengancam ku? Manusia sepertimu mengancam aku? Aku dapat menenggelamkan mereka semua saat ini juga," ucapnya, semakin kuat ekornya itu melilit leherku.
"Kau, tidak akan bisa melakukannya. Karena Naga milikku, akan langsung membekukan air yang kau kendalikan sebelum air itu menyentuh pasukanku," ucapku menggerakkan kedua tangan mencengkeram ekor itu.
__ADS_1
"Naga?"
"Jangan berpura-pura bodoh, kau dapat merasakan kehadirannya di atas permukaan. Aku benar bukan?" Ucapku kembali membalas tatapannya.
"Apa yang kau inginkan?" Ungkapnya menarik kembali ekornya yang melilit leherku sebelumnya.
"Aku hanya ingin mengunjungi kuil kalian, adikku... Setengah jiwanya tersegel oleh makhluk dengan wujud setengah aanjing laut. Aku, hanya ingin menyelamatkan adikku itu, tidak kurang maupun lebih," ucapku tertunduk, kugerakkan kembali telapak tanganku mengusap-usap leher.
"Percuma. Kami tidak dapat melakukannya, kami tidak bisa mengizinkanmu ke sana," ucapnya kembali berbalik lalu berenang menjauh.
"Kumohon, biarkan aku mencobanya. Dia adik kesayanganku, aku harus menyelamatkannya apapun yang terjadi," ucapku kembali berenang mengikutinya.
"Sudah aku katakan, tidak bisa!" Bentaknya lagi dengan sangat keras, tubuhku terhempas ke samping dengan sangat kuat saat ekor laki-laki itu menghantam tubuhku.
Tubuhku kembali beranjak lalu berenang pelan dengan sebelah tanganku memegang pinggangku. Ku lirik salah satu pohon yang patah diikuti warna merah dan rasa perih keluar dari tubuhku.
"Sachi," ucap Ebe berenang mendekatiku, rambutnya yang panjang sesekali mengambang menyentuh wajahku.
"Tubuhmu, apa kau baik-baik saja?" Ucapnya kembali dengan sebelah tangannya ikut memegang pelan pinggangku tadi.
"Aku baik-baik saja," ucapku pelan padanya saat dia membantuku berenang mendekati kakeknya.
"Aku mohon padamu, izinkan aku menolong adikku. Aku akan langsung pergi setelah melakukannya," ucapku pada laki-laki tua itu yang telah kembali menatapku.
Kugigit kuat bibirku saat rasa perih semakin menusuk-nusuk di pinggangku. Sebelah tanganku bergerak menekan asal-muasal rasa perih tadi sedangkan sebelah tanganku yang lain mencengkeram kuat bahu Ebe yang memapah ku.
"Kehidupan dibalas kehidupan, kematian dibalas kematian. Apa kau paham? Apa maksud dari kata-kata yang aku ucapkan tadi?" Ungkapnya kembali menatapku tajam.
"Aku paham. Aku sangat memahaminya," ucapku sedikit berenang maju sebelum tubuhku ditahan kembali oleh Ebe.
__ADS_1
"Karena cucuku terlihat sangat memperdulikan mu," ucapnya menggerakkan sedikit tangannya, ikut kurasakan rasa sakit di pinggangku yang perlahan menghilang.
"Aku akan mempersiapkan upacaranya. Tapi jika upacaranya gagal, jangan berharap untuk kembali," ucapnya berbalik lalu berenang menjauh dengan ekornya yang meliuk-liuk mengikuti.