
Aku berenang mendekati pantai, kuhentikan gerakan kedua kakiku yang mendayung air sebelumnya. Kakiku melangkah, membelah air laut perlahan hingga kedua kakiku menginjak pasir pantai yang bercampur kerikil.
Pandangan mataku melirik ke arah perempuan setengah aanjing laut itu berjalan sebelumnya sembari kedua kakiku melangkah mendekati batu besar, tempat perempuan itu menguburkan kulit miliknya.
Aku berjongkok dengan kedua tanganku bergerak membongkar hamparan pasir yang ada di dekat batu besar tersebut. Kuraih dan kugenggam erat kulit yang ditinggalkan oleh perempuan tadi...
Rasanya, aku ingin sekali langsung merobek-robek kulit ini hingga tak bersisa.
Tubuhku kembali beranjak berdiri, kugerakkan kepalaku menoleh ke arah batu besar tempat kami bersembunyi sebelumnya. Aku kembali berbalik lalu melangkah ke arah salah satu batu yang ada di sana...
Aku bergerak memanjat batu yang tidak terlalu tinggi itu lalu mendudukinya. Kepalaku mendongak ke atas dengan kedua tanganku bergerak membuka lipatan pada kulit aanjing laut itu.
Sore berselang, sinar mentari yang jatuh tak sepanas seperti sebelumnya. Entah berapa lama, aku duduk di atas batu ini... Menunggu perempuan itu kembali.
Aku melirik, sebuah bayangan muncul dari balik pepohonan. Perempuan itu kembali, berbeda dengan sebelumnya... Dia telah berpakaian seperti manusia pada umumnya.
Perempuan itu melangkah mendekati batu besar, tempat ia menyembunyikan kulit miliknya. Dia langsung duduk berlutut saat ia melihat pasir, tempat dia menguburkan kulitnya itu telah berantakan.
Perempuan itu, mengarahkan kedua tangannya menggali pasir yang ada di dekat batu itu. Aku sendiri, masih memperhatikannya dari kejauhan... Sampai saat ini, perempuan itu masih belum menyadari keberadaanku.
"Apa kau mencari ini?!" Teriakku dengan mengangkat kulit yang aku ambil sebelumnya.
Perempuan tersebut menghentikan tangannya, yang bergerak menggali pasir sebelumnya. Kepalanya bergerak menoleh ke arahku, aku balas menatapnya dengan sebelah tanganku meletakkan kulit miliknya di atas pahaku.
Sebelah tanganku yang lain, meraih pisau kecil yang ada di balik sepatu. Kuangkat dan kugerakkan pisau tadi menyentuh kulit miliknya yang masih kugenggam erat sedangkan mataku masih menatap perempuan itu yang sedikit melotot ke arahku.
"Apa yang kau lakukan?!" Teriaknya dengan menggerakkan kedua kakinya berlari ke arahku.
"Jika kau melangkah semakin mendekat, aku akan merobek kulit ini menjadi serpihan-serpihan kecil," ucapku menatapnya dengan sedikit memperbesar tatapan mataku, perempuan itu menghentikan langkah kakinya sebelum sempat mendekat.
__ADS_1
"Kau... Kau manusia, kenapa manusia sepertimu," ucapnya kembali menggerakkan sedikit kakinya maju ke depan.
"Jangan membuang waktuku. Di mana? Di mana, kau menyembunyikan jiwa laki-laki yang kau ambil malam lalu?"
"Jiwa? Jiwa laki-laki? Aaahh, apa kau membicarakan laki-laki yang ada di kapal?"
"Sayang sekali, aku tidak sempat memakan habis jiwanya, padahal laki-laki naif sepertinya sangatlah lezat ketika dimakan."
"Kau? Kau adalah perempuan yang aku tarik kakinya saat itu bukan? Menarik sekali, kau bahkan dapat berbicara menggunakan bahasa kami, makhluk menjijikan," ucapnya lagi dengan berkacak pinggang menatapku.
"Aku sudah katakan, jangan membuang waktuku. Di mana? Di mana kau menyembunyikan jiwa laki-laki itu?" Apakah di dalam perutmu?" Tanyaku, kugerakkan tanganku meletakkan kulit yang aku genggam tadi di permukaan batu sembari aku melompat turun dari atas batu yang aku duduki sebelumnya.
"A-apa yang ingin kau lakukan?" Ucapnya berjalan mundur saat aku melangkah ke arahnya.
"Memastikan, perkataan duyung itu benar atau tidak," ucapku menggenggam erat pisau kecil yang ada di tanganku.
"Duyung?" Ungkapnya berbalik menoleh ke arah lautan.
"Kau tidak akan mendapatkan jiwanya kembali. Percuma, semua yang kau lakukan percuma," ucapnya diikuti suara tertawa yang ia keluarkan.
"Duyung itu mengatakan, jika aku harus membelah perutmu untuk mendapatkan kembali jiwa adikku," ucapku berdiri di hadapannya yang masih duduk dengan kepalanya mendongak menatapku.
"Aku akan mati jika kau melakukannya!"
"Maka matilah," ucapku menarik kuat rambutnya hingga kepalanya jatuh menyentuh pahaku.
Dengan cepat, tanganku yang menarik rambutnya tadi berpindah mencengkeram dagunya. Perempuan itu mengangkat tangannya yang menggenggam pasir ke udara, mataku bergerak menyipit dengan sebelah tanganku yang menggenggam pisau kecil bergerak mendekati leher perempuan itu.
"Matilah," ucapku menusukkan pisau kecil milikku ke lehernya, perempuan itu menatapku dengan kedua matanya yang membelalak.
__ADS_1
"Beraninya, makhluk menjijikan sepertimu menyentuh adikku," ucapku lagi, kugerakkan tanganku yang mencengkeram dagunya ke kanan, sedangkan tanganku yang menggenggam pisau kecil yang menusuk lehernya ke kiri.
Tampak sedikit darah memercik lengan kiriku, kutarik kembali pisau kecil milikku dari leher perempuan itu sembari tubuhku beranjak berdiri di belakangnya. Ku tatap, perempuan itu yang masih mengejang, menggelepar seperti hewan yang baru saja di sembelih.
Lama, aku menunggu hingga tubuh perempuan itu berhenti bergerak sepenuhnya. Aku kembali melangkahkan kaki mendekatinya sembari kugerakkan sebelah kakiku membalik tubuh perempuan itu yang sebelumnya berbaring menelungkup di atas pasir.
Aku berjalan menginjak pasir berwarna merah yang telah bercampur dengan darah perempuan tadi. Tubuhku duduk berlutut di samping tubuhnya dengan kedua tanganku memegang kerah pakaian yang ia kenakan.
Sebelah tanganku yang memegang pisau bergerak perlahan memotong pakaian yang ia kenakan menjadi dua. Perempuan itu kini berbaring terlentang di hadapanku tanpa sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya...
Kembali, kugerakkan tanganku yang memegang pisau kecil itu mendekati perut perempuan itu. Ku tusuk perut perempuan itu menggunakan pisau kecil yang aku genggam, kugerakkan pisau itu dengan perlahan membelah perutnya.
Kuletakkan pisau kecil milikku yang telah penuh darah tadi di atas pasir. Kugerakkan kedua tanganku sedikit masuk ke luka yang aku buat di perut perempuan itu, kedua tanganku bergerak membuka luka di perutnya hingga lubang menganga yang ada di perutnya semakin besar terlihat.
Tangan kananku bergerak masuk ke dalam perutnya, basah dan lembab... Begitulah yang tanganku rasakan. Tanganku itu tak henti-hentinya bergerak menelusuri isi perut perempuan itu.
Kuangkat sebelah tanganku yang lainnya meraih pisau kecil yang aku letakkan di pasir sebelumnya. Tanganku yang menggenggam pisau tadi ikut masuk ke dalam perut perempuan tersebut.
Kugerakkan tanganku yang menggenggam pisau tadi memotong sesuatu yang ada di dalamnya, sedangkan sebelah tanganku yang lain bergerak ke luar dengan menarik sesuatu yang ada di dalamnya. Ku tatap pergelangan tanganku yang penuh darah dengan sebuah benda panjang diikuti sesuatu seperti bola-bola kecil di dalamnya.
Kuangkat tanganku yang memegang pisau tadi dari dalam perut perempuan tadi. Ku jatuhkan pisau yang ada di tanganku sembari kuarahkan tanganku tadi menggenggam benda yang aku pegang dengan sebelah tanganku yang lain.
Sesuatu berbentuk bola berukuran kecil, kira-kira hanya sebesar ibu jariku... Jatuh dari dalam benda seperti usus tadi, saat kedua tanganku bergerak mendorong benda-benda tersebut keluar...
Aku beranjak berdiri, melangkah lalu berjongkok kembali memungut lima buah bola-bola tadi yang jatuh di atas pasir. Tubuhku kembali beranjak berdiri, dengan kemudian berbalik melangkah mendekati laut. Aku kembali berjongkok di tepi pantai, menggerakkan kedua tanganku membasuh bola-bola tadi menggunakan air laut.
Satu-persatu, kuangkat bola-bola tadi. Ku perhatikan dengan seksama... Jika kau menemukan bola yang tidak sempurna, itu adalah adikmu. Kata-kata Ebe terus terngiang di kepalaku.
Aku mengambil satu bola kaca yang sedikit retak di salah satu sisinya lalu meletakkan empat buah bola yang lain di pinggir pantai. Aku kembali beranjak berdiri, melangkahkan kakiku membelah air laut yang semakin lama semakin menenggelamkan tubuhku.
__ADS_1
"Kau butuh bantuan?" Suara perempuan kembali terdengar, aku berbalik menatap Ebe yang telah berenang di sampingku.
"Naiklah ke atas punggungku, aku akan membawamu ke sana. Perjalanan kita masihlah jauh, dan juga... Terima kasih karena telah membalaskan dendam ku," ucapnya menggerakkan kepalanya menoleh ke arah belakang tubuhku.