Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLVI


__ADS_3

"Ikuti aku Sa-chan," ucap Haruki melangkah mendekati tangga saat pintu rumah dibuka.


Aku berjalan mengikuti langkah kakinya menyusuri tangga, kugerakkan kepalaku ke belakang menatap Izumi, Eneas dan juga Costa yang telah berjalan di belakangku.


Haruki menghentikan langkah kakinya, dibukanya pintu bercat cokelat yang ada di hadapannya seraya masuk ia ke dalam. Kedua kakiku mengikutinya masuk ke dalam kamar, ku dekati Haruki yang telah duduk di atas lantai dengan kotak kayu tadi di hadapannya.



"Apa yang kau lakukan? Aku tidak ingin ada orang asing yang mencampuri urusan kami," ucap Haruki, kuikuti arah pandangannya yang menatap Solana tengah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Kau hanya perempuan yang aku bayar untuk menemaniku. Ingat statusmu, keluar dari sini!" Ungkap Costa ikut menatapi Solana yang diam terpaku tak bergerak di depan pintu.


Eneas yang semula duduk di sampingku beranjak berdiri, lalu berjalan mendekati pintu kamar lalu menutupnya kembali. Terdengar kasar untuknya, tapi kata-kata yang diucapkan Haruki memang benar adanya... Orang asing, tak diperkenankan mengetahui hal ini.


"Kotak apa ini?" Ungkap Izumi meraih kotak berukir bunga mawar itu.


"Kotaknya..." Ucap Izumi kembali dengan tertahan.


"Aku tidak bisa membukanya," sambungnya kembali meletakkan kotak tersebut ke lantai.


"Ukiran mawar melukiskan sihir waktu. Aku dengar sihir waktu tidak dapat dirusak," ucapku meraih kotak tersebut dan meletakkannya di atas paha.


"Tapi sihir Naga dapat menghancurkan sihir apapun. Aku pernah mengatakannya padamu bukan?" Tukas Lux, kutatap dia yang terbang menjauh lalu hinggap di atas pundak Haruki.


"Haruki, ada serangga di atas pundakmu," ucap Costa menggerakkan kepalanya menatapi Lux, ikut terdengar suara tawa yang tertahan oleh Eneas di sampingku.


"Aku Peri. Peri! Bukan Serangga," ucap Lux terbang di hadapan Costa yang masih diam terpaku.

__ADS_1


"Dia dapat berbicara?" Ungkap Costa menoleh ke arah Haruki.


"Inilah kenapa, aku tidak suka pada manusia," ucap Lux kembali terbang dan duduk di atas pundak Haruki.


"Aku akan menjelaskan siapa dia Costa, jadi tenanglah terlebih dahulu," ungkap Haruki mengalihkan pandangannya ke padaku.


"Aku akan coba berbicara pada Kou, berikan aku waktu untuk mengumpulkan sisa-sisa tenaga," ungkapku balas menatapnya, kutarik napasku dalam-dalam lalu kuembuskan kembali dengan sangat perlahan.


"Kou, apa kau mendengarku?"


"Aku mendengarmu dengan sangat jelas My Lord. Aku akan membantumu, mematahkan sihir itu," ucapnya yang terngiang di dalam kepalaku.


"Persiapkan dirimu. Aku akan mengalirkan banyak sihirku padamu, dan perintahkan mereka untuk sedikit menjauh jika tak ingin membeku," ucap Kou kembali.


"Kou memintaku untuk memperingatkan kalian, bisakah kalian semua sedikit menjauh dariku. Ini untuk kebaikan kalian," ucapku menatapi mereka bergantian, beranjak mereka satu-persatu berjalan menjauh.


Kurasakan kedua tanganku membeku, serpihan-serpihan es yang awalnya memenuhi kedua tanganku bergerak sedikit demi sedikit melapisi kotak tadi. Serpihan es tersebut mengalir menelusuri ukiran yang ada di kotak itu... Perlahan demi perlahan...


Lapisan es yang menyelimuti retak, kotak kayu tersebut hancur menjadi serpihan-serpihan es yang terbang memenuhi ruangan. Hujan salju memenuhi ruangan, lantai bahkan ranjang yang ada di kamar ikut berselimut putih oleh salju.


"Telur?" Ucapku saat pandanganku kembali tertuju pada telur putih yang tergeletak di kedua telapak tanganku.


"Kemarilah Lux," ucapku kembali, kutatap Lux yang telah terbang di depan telur tadi.


"Telur apalagi ini?" Ungkap Lux kembali terbang memutari telur tadi.


"Aku merasakan sedikit sihir di dalamnya, lemah sekali... Hingga membutuhkan banyak tenaga hanya untuk merasakannya," ucap Lux menatapku.

__ADS_1


"Apakah Naga?"


"Telur ini berukuran lebih kecil dibandingkan saat kita menemukan Kou dahulu. Aku tidak yakin jika ini naga," ucapku membalas perkataannya.


"Apakah kami sudah boleh mendekat?" Ucap Haruki ikut terdengar dari samping kanan tubuhku.


"Tentu, kemarilah nii-chan," ungkapku tanpa menoleh ke arahnya.


"Kou, apa kau tahu telur apa ini?"


"Makhluk lemah, aku sudah katakan sebelumnya kepadamu My Lord," ungkapnya menjawab perkataanku.


"Apa kau tidak bisa memastikannya?"


"Membuang-buang waktu, lebih baik... Langsung dimakan saja, itu akan memperkuat kontrak diantara kita," ucap Kou kembali dengan nada sedikit menggumam.


"Telur apa ini?" Tukas Haruki, digerakkannya jari telunjuknya menyentuh telur yang ada di telapak tanganku itu.


"Aku tidak tahu," jawabku, kugerakkan telapak tanganku mengusap-usap telur tadi.


Mataku tertegun saat kurasakan gerakan dari dalam telur tadi menyentuh telapak tanganku. Suara retakan kembali terdengar, kutatap ujung telur tersebut yang sedikit berlubang dengan retakan di sekitarnya.


Retakannya turun diikuti hancurnya kulit telur yang jatuh, kulit telur yang jatuh tadi... Entah kenapa, berubah menjadi abu. Lebih tepatnya, telur tadi hancur tak bersisa menjadi abu yang memenuhi telapak tanganku.


Kami yang ada di dalam ruangan saling tatap, diam membisu tanpa suara lebih tepatnya. Seratus ribu Tickla yang dihabiskan, berubah menjadi abu. Seratus ribu...


Aku sedikit terperanjat saat terdengar siulan khas anak burung memenuhi ruangan. Abu yang ada di telapak tanganku bergerak, meluruh ke bawah hingga terlihat kepala bayi burung dengan kepalanya menengadah ke atas diikuti mulutnya yang terbuka.

__ADS_1


Bayi burung tadi menatapku, matanya yang biru beberapa kali berkedip melihatku. Suara yang ia hasilkan lebih keras dari sebelumnya terdengar, kutatap Lux yang entah kenapa tiba-tiba menangis.


"Ini kenyataan bukan? Aku sedang tidak bermimpi bukan?" Tangis Lux dengan kedua tangannya menutupi seluruh wajah.


__ADS_2