
“Apa yang kau lakukan berjalan sendirian di tempat seperti ini?”
Hue menoleh ke arahku yang berjalan di sampingnya, “aku berniat membeli bahan-bahan makanan. Aku sekarang sedang mencoba untuk belajar memasak, karena itu … Aku suka memperhatikan para pedagang yang berjualan makanan,” ungkapnya kembali membuang pandangannya ke depan, “aku ingin menjadi ibu yang baik untuk anakku nanti,” sambungnya kembali padaku.
“Kau bahkan tidak berbicara dengan bahasa yang sangat kaku lagi.”
“Berbicara seperti itu membuatku mengingat semuanya, ketika aku menjadi Putri. Karena itu, aku tidak ingin melakukannya lagi. Lagi pun, aku sudah nyaman seperti ini,” ungkapnya menoleh lalu tersenyum kepadaku.
“Maafkan aku, atas semua sikap yang dulu aku lakukan.”
“Aku pun, ingin meminta maaf kepadamu, Sachi,” balasnya kembali padaku.
“Sachi!”
Langkah kakiku berhenti saat suara teriakan perempuan terdengar memanggil namaku, aku berbalik menatap Julissa yang tengah berjalan mendekat dengan dua orang perempuan di belakangnya, “suaraku hampir habis memanggilmu,” ungkapnya sembari mengangkat tangannya memelukku.
“Bagaimana kabar kalian?” tanyaku kepada Amithi dan juga Chandini yang berdiri di belakang Julissa.
“Kami baik-baik saja,” ungkap mereka berdua sembari membungkukkan badan mereka sejenak ke arahku.
“Kau mengajari mereka dengan sangat baik,” bisikku pelan kepada Julissa.
"Aku tahu," jawabnya singkat kepadaku.
“Bagaimana keadaanmu? Apa yang tengah kalian berdua lakukan di sana?”
Aku menghela napas saat Julissa balas berbisik di telingaku, “kami hanya ingin makan, tapi kami diusir sebelum sempat memakan apa pun yang ada di sana. Bagaimana denganmu? Aku menunggumu, tapi kau sama sekali tidak mengabariku jika telah sampai di sini?!” Aku membentaknya hingga Julissa melepaskan pelukannya padaku.
__ADS_1
Dia melirik ke kanan dan ke kiri lalu menarik tanganku berjalan mengikutinya, “terlalu berbahaya membicarakan hal ini di luar,” ungkapnya sembari terus berjalan dengan menarik tanganku.
Julissa menghentikan langkah kakinya saat dia mengajak kami ke sebuah hamparan rumput di hutan yang sedikit jauh dari Pasar, “aku lelah sekali,” ungkapnya lagi sambil melepaskan tanganku lalu duduk di hamparan rumput itu.
Aku berjalan lalu duduk di sampingnya, “duduklah di sampingku!” ucapku kepada Hue yang masih berdiri di samping Amithi dan juga Chandini.
Aku beranjak berdiri saat dia telah menghentikan langkahnya di sampingku, kuangkat kedua tanganku dengan perlahan membantunya untuk duduk, “jadi Julissa, jelaskan padaku apa yang terjadi?” tanyaku dengan melirik ke arahnya ketika kembali duduk di sampingnya.
“Jika aku langsung mengunjungi Istana, aku akan membuat kabar tak menyenangkan. Aku bertunangan dengan Adinata, lalu pergi mengunjungi Zeki yang belum menikah, entah kabar apa yang akan menyebar tentang kami … Karena itu, Ayahku mengirim surat kepada Duke, dia mengatakan di surat itu jika aku ingin pergi berlibur. Duke menyanggupi permintaan Ayah untuk menjagaku, jadinya mau tidak mau, aku harus menemui Duke terlebih dahulu untuk bisa masuk ke sini,” ucapnya sembari membaringkan tubuhnya di hamparan rumput.
“Aku mendengar kabar tentang Luana. Apa Kak Haruki, baik-baik saja?”
Aku melirik ke arahnya, “dia baik-baik saja. Tapi jangan pernah membahas tentang hal itu di depannya, kau bisa melakukannya bukan?”
“Aku mengerti. Jika nanti aku mengunjungi Kerajaan Sora, ajak aku ke makamnya, aku ingin meminta maaf kepadanya,” ungkapnya sembari beranjak duduk kembali.
“Kau bisa melakukannya dengan keluarga Duke tadi,” aku balas menyindirnya hingga dia melirik tajam ke arahku.
“Aku ingin melakukannya dengan temanku. Lagi pun, ketika mereka mempermalukan kalian, kenapa tidak tunjukkan saja nama yang ada di belakang telingamu itu, agar mereka semua menutup mulut mereka. Kenapa juga, kau harus mengotori tanganmu sendiri dengan menampar mereka,” Julissa balik menggerutu dengan bibirnya yang sedikit manyun ke depan.
“Dengan mengatakan, aku tunangan resmi dari Raja Zeki Bechir … Begitukah?”
Aku tersenyum saat Julissa menganggukkan kepalanya, “apa kau lupa? Aku sudah mati, Takaoka Sachi sudah mati. Tunangan dari Raja Zeki Bechir sudah mati … Aku tidak memiliki hak untuk memperkenalkan diriku di depan banyak orang, terutama di depan rakyatnya sendiri,” ungkapku sambil membuang pandangan darinya.
“Apa kau butuh pelukan dariku?”
“Tidak perlu,” balasku ketika menoleh kembali padanya.
__ADS_1
“Laila, sangatlah menjengkelkan. Jika kau ingin bahagia hidup di Yadgar, enyahkan dia dari Raja Zeki,” ucap Hue yang membuatku menoleh ke arahnya.
“Apa maksudmu?”
“Suamiku telah menceritakan apa yang terjadi di sini kepadamu, bukan?” Aku menganggukkan kepala membalas perkataannya. “Duke yang menjabat sekarang, dahulunya seorang Marquez. Dia sering menolong Raja Zeki untuk mencapai tujuannya ketika Zeki belum menjadi seorang Raja seperti sekarang.”
“Dan itu, secara tidak langsung membuat Zeki menjadi sedikit mengenal dekat keluarga itu. Mereka menjadi keluarga yang dipercaya oleh Zeki sekarang,” ungkapnya kembali sambil membalas tatapanku.
“Aku sendiri yang memintanya untuk mencari dukungan dari seorang bangsawan. Aku tahu jika itu menyangkut masalah Marquez, karena Zeki dulu seringkali membicarakannya di surat yang ia kirim. Tapi aku tidak tahu, tentang hubungan pertemanannya dengan anak perempuan dari Marquez.”
“Kenapa dia harus menyembunyikannya dariku?” gumamku sembari mengangkat pandangan ke atas.
“Karena perempuan tersebut, anak tidak sah dari Marquez. Dia baru diperkenalkan ke masyarakat saat Marquez menduduki posisi seorang Duke, dan Zeki diangkat menjadi Raja. Sebenarnya Sachi, aku sudah mengetahui hal ini … Karena itu, saat kau pertama kalinya ke Yadgar, aku sangat bersemangat agar kau memiliki kesan baik di mata mereka yang ada di sini. Maaf, jika aku menyembunyikan hal penting ini darimu, Sachi,” sambung Julissa yang membuatku melirik ke arahnya.
“Jadi, hanya aku yang tidak mengetahui apa pun?”
“Kakakku, seringkali menyembunyikan sesuatu dariku. Pasanganku, juga melakukan hal yang serupa, dan bahkan temanku pun … Melakukan hal yang sama kepadaku,” aku menggigit kuat bibirku sembari beranjak berdiri.
“Sachi,” ucap Julissa yang terdengar saat aku mulai melangkahkan kaki.
“Jika semuanya menyembunyikan sesuatu yang penting dariku … Siapa lagi yang dapat aku percaya?” Aku menghela napas sebelum melanjutkan kembali langkah.
“Sa- Maksudku, Putri Sachi.”
Langkah kakiku terhenti diikuti wajahku yang menoleh ke samping, “aku baik-baik saja. Hanya bantu aku untuk menjaga mereka berdua,” ungkapku kepada Amithi yang menatapku dengan cemas.
Aku kembali melanjutkan langkah, kuhisap sekuat mungkin udara lalu kuembuskan kembali. Aku melakukannya berulang-ulang dengan tangan yang terus-menerus memukul dadaku sendiri, “Sachi,” bisikan pelan di telinga mengusikku.
__ADS_1
“Lux, apa perasaanku membuatmu tidak nyaman? Jika iya, berikan aku waktu … Aku akan segera melupakan semuanya sebelum hari ini berakhir,” aku balas berbisik dengan sesekali menggigit kuat bibirku yang bergetar.