
"Kau baik-baik saja?" terdengar suara perempuan disertai bayangan mengabur yang berada di hadapanku.
"Hati-hati, tanganmu patah," ucapnya lagi, ikut kurasakan sesuatu menyentuh punggungku.
Dirangkulnya tubuhku tadi seraya dibantunya aku bersandar di dinding yang ada di belakangku. Lama kutatap perempuan tadi yang juga masih menatapku seperti sebelumnya...
Rambut hitamnya yang bergelombang tampak serasi dengan kulit sawo matang yang ia miliki. Lama kami berdua bertatap tanpa suara sedikitpun...
"Kami menemukan tubuhmu hanyut di sungai dengan luka yang sangat parah," ucapnya menatapku.
"Sungai? Apa yang aku lakukan di sana?" tanyaku seraya mencengkeram kepalaku sendiri yang terasa sakit, ikut kurasakan sebuah kain terlilit di sana.
"Aku tidak tahu, bukankah harusnya aku yang bertanya hal itu padamu."
"Amithi, namaku Amithi. Namamu?" ucapnya lagi padaku.
"Namaku?" ungkapku seraya memiringkan kepala.
"Aku tidak tahu," sambungku menatapnya.
"Jangan bergerak kemana-mana, kau mengerti?! Aku akan segera kembali," ucapnya beranjak seraya berbalik berlari meninggalkanku.
Dimana aku? Apa yang terjadi? Kenapa semua tubuhku terasa sakit seperti ini? Dan siapa itu My Lord?
Kuletakkan telapak tanganku memegang dahiku yang terbungkus kain, suara di kepalaku yang berulang-ulang mengatakan hal yang sama terasa menyesakkan untukku.
Kualihkan pandanganku pada perempuan tadi yang berjalan mendekati dengan dua orang laki-laki beserta satu orang perempuan di belakangnya. Melangkah perempuan tadi seraya duduk ia di samping tempatku berbaring sebelumnya...
"Dia tidak mengingat apapun," ucap perempuan tadi.
"Apa kau yakin?" sambung perempuan yang lain.
"Kau cantik sekali, namamu?" tukas salah satu laki-laki berjalan dan duduk berjongkok di sampingku.
__ADS_1
"Sudah kukatakan dia tidak mengingat apapun," sambung perempuan tadi seraya memukul kepala laki-laki tadi menggunakan telapak tangannya.
"Dia sudah sadarkan diri bukan? Suruh dia cepat-cepat pergi dari sini!" ucap laki-laki yang masih berdiri berdampingan dengan perempuan lainnya.
"Tapi dia baru saja sadarkan diri, bagaimana jika dia dimakan hewan buas yang ada di sekitar hutan?" ucap perempuan yang bernama Amithi tadi.
"Perintah Akash adalah hal mutlak untuk kita, apa kau tidak mengerti hal itu Amithi?" ucap perempuan yang berdiri berdampingan dengan laki-laki tadi.
"Aku tahu dia tunanganmu, tapi bukan berarti kau harus menuruti semua perkataannya... Dia ini perempuan sama seperti kita, terlebih lagi dia terluka. Jika kita menyelematkannya hanya untuk menjadi makanan hewan buas, untuk apa..."
"Kau sendiri yang ingin menyelamatkannya Amithi, kami telah melarangmu," sambung perempuan tadi memotong perkataan Amithi.
"Kau benar Chandini, akulah yang ingin menyelamatkannya. Jika kalian memintanya pergi, aku akan pergi bersama dengannya."
"Silakan, tidak ada yang melarangmu."
"Kau? Apa itu cara kalian memperlakukan sahabat kalian sejak kecil?!" teriak Amithi padanya.
"Hentikan! Aku akan membiarkan dia tinggal beberapa waktu, akan tetapi dia harus segera pergi jika semua lukanya telah sembuh," ucap laki-laki bernama Akash tadi menatapku, berbalik ia seraya berjalan ke luar diikuti perempuan bernama Chandini itu.
"Apa kau baik-baik saja?" ucapku padanya, diangkatnya wajahnya yang tertunduk tadi menatapku.
"Aku baik-baik saja. Usiamu? Biar aku perkirakan..." tukasnya seraya meletakkan jari telunjuknya di dagunya.
"Tujuh belas? Aku lupa, kau tidak mengingat apapun..."
"Maafkan aku, kau mengingatkanku pada adik perempuanku yang meninggal lima tahun yang lalu," sambungnya tersenyum menatapku.
"Adik?"
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu menangis," ucapnya beranjak mendekati, diangkat dan diarahkannya telapak tangannya menyusuri pipiku.
Apa ini? Hatiku terasa sesak sekali.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak tahu kenapa tiba-tiba..."
"Tidak masalah, apa kau lapar?" ucapnya memotong perkataanku seraya diraihnya lengan yang aku letakkan menutupi kedua mataku sebelumnya.
"Apa kau bisa berjalan?" ucapnya lagi padaku sembari dibantunya aku berdiri.
Seluruh tubuhku terasa remuk, kulangkahkan kakiku perlahan mengikuti langkah kakinya yang merangkulku. Disingkapnya kain biru yang ada di hadapan kami, sinar mentari yang menembus kulitku terasa sangat menghangatkan...
"Tubuhmu terlihat lebih putih terkena sinar matahari, kau pasti seorang bangsawan?" ucap laki-laki yang duduk bersama Akash, ditatapnya aku olehnya dari atas sampai bawah tubuhku.
"Tutup mulutmu Kabir! Dan berhenti menatapnya seperti itu, kau membuatnya takut," ucap Amithi mengalihkan pandangan padanya.
"Dimana kita sekarang?" ungkapku seraya mengalihkan pandangan ke sekitar.
"Di tengah hutan."
"Kalian tinggal di tengah hutan?"
"Jika kami tidak tinggal di tengah hutan, bagaimana kami bisa menolongmu," ucap perempuan bernama Chandini menatapku.
"Tidak bisakah kita meninggalkannya saja, melihatnya benar-benar membuatku kesal," sambungnya menatapku.
"Katakan saja kau merasa tersaingi karena dia jauh lebih cantik darimu bukan?" lanjut Kabir seraya mengangkat kedua lengannya ke belakang kepalanya.
"Cantik tapi tidak berguna untuk apa? Aku benar bukan Akash," ungkapnya seraya melingkarkan lengannya di lengan laki-laki yang ada di sebelahnya.
"Amithi," ucapku mengalihkan pandangan padanya.
"Ada apa?" tukasnya seraya berjalan mendekatiku dengan sepiring makanan dan segelas air di kedua tangannya.
"Apa kau tahu apa itu My Lord?" ucapku menatapnya.
"Tidak tahu, apa itu sejenis makanan. Memangnya kenapa?" ungkapnya berjongkok di sampingku seraya mengarahkan piring dan gelas tadi padaku.
__ADS_1
"Aku mendengar kata-kata itu berulang-ulang di pikiranku," ungkapku balas menatapnya.