Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXXVI


__ADS_3

Genderang berakhirnya perang hari pertama bergemuruh, kuarahkan pandanganku menatap langit yang hampir meredup. Masih kutatap beberapa pasukan musuh yang berdiri tertunduk dengan lengan menutupi wajah mereka.


Kualihkan pandanganku pada para pasukan kami yang berjalan terhuyung-huyung mendekat, beberapa dari mereka saling bahu membahu memapah para pasukan yang terluka...


Kugerakkan kakiku berlari ke arah mereka, kuhentikan langkahku di depan kuda yang ditunggangi Izumi. Berjalan aku melangkah ke samping kuda miliknya seraya kutatap Zeki yang bersandar di punggung Izumi dengan kedua matanya yang terpejam.


"Dia baik-baik saja," ucapnya, menoleh aku ke arah Izumi yang juga menatapku.


"Padahal aku telah berteriak kegirangan akan menikahimu Putri jika dia berakhir disini," ucap Aydin, kuarahkan pandanganku padanya yang menggerakkan kudanya mendekati.


"Tutup mulutmu, sialan! Aku masih belum mati," ungkapnya, kembali aku menoleh ke arah Zeki yang juga menatap padaku.


"Apa kau baik-baik saja?" ungkapku seraya kuraih dan kugenggam telapak tangannya.


"Aku baik-baik saja," balasnya padaku.


"Sa-chan, dia harus segera diobati. Naiklah!" terdengar teriakan Haruki, menoleh aku ke arahnya yang menunggangi kudanya ke arahku dengan kecepatan tinggi.


Menoleh kembali aku menatap Zeki, mengangguk pelan ia menatapku. Kulepaskan genggaman tanganku padanya seraya berjalan aku mendekati Haruki.


Kuraih telapak tangannya seraya kugerakkan tubuhku duduk di belakangnya. Haruki menggerakkan kudanya kembali menaiki bukit, kuarahkan pandanganku ke sekitar...

__ADS_1


Tampak beberapa laki-laki tertunduk menangisi mayat temannya yang terbaring di hadapan mereka, beberapa dari Kesatria bahkan ada yang mengikatkan kain panjang di salah satu lengan pasukan pejalan kaki yang terpotong. Kutatap kain berwarna putih yang sedikit demi sedikit memerah akibat darah yang keluar...


Menoleh aku ke samping kiri, kuarahkan pandanganku pada seorang laki-laki paruh baya yang tengah melingkarkan kain di kepala rekan yang duduk di sampingnya...


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, jika bukan karena arahan yang kau berikan... Mungkin yang akan mati dan terluka, lebih banyak dari yang kita alami sekarang..."


"Aku akan berusaha untuk tidak membiarkan pasukan kita mati," ucapku memotong perkataan Haruki dengan suara bergetar.


"Itu tidak akan mungkin terjadi, kematian tidak akan bisa dihindarkan dalam peperangan, Sa-chan. Mungkin dia bisa mengalahkan musuh yang ia hadapi, tapi belum tentu dia bisa mengalahkan musuhnya yang akan datang... Karena begitulah peperangan, karena begitulah arti dari mempertahankan harga diri Kerajaan," sambung Haruki kembali.


Kurasakan langkah kaki kuda miliknya terhenti, kuarahkan telapak tanganku menggenggam lengan pakaiannya seraya kembali kugerakkan tubuhku menuruni kuda yang ia tunggangi.


Berbalik aku menatap Izumi dan Adinata yang tengah menunggangi kuda mereka berdampingan, kugerakkan tubuhku berjalan menyingkap kain yang menutupi tenda...


Kutatap Zeki yang berjalan terhuyung dipapah oleh Adinata, berjalan mereka berdua masuk ke dalam tenda. Ikut masuk aku ke dalam tenda seraya kulepaskan genggaman tanganku pada kain tadi...


Berlari aku mengambil sehelai kain lalu membentangkannya ke atas rumput yang ada di dalam tenda, melangkah Adinata dan Zeki ke arahku seraya bergerak Zeki duduk di atas kain tadi...


"Kau ingin kubantu?" ucap Adinata, menoleh seraya kugerakkan kepalaku menggeleng menjawab perkataannya.


Berjalan aku mendekati Zeki seraya duduk aku di hadapannya. Kugerakkan jari-jemariku yang gemetar memegang kerah pakaian yang ia kenakan, seraya beranjak aku mendekatinya...

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan keluar," ucap Adinata, mengangguk aku menjawab perkataannya tanpa menoleh sedikitpun padanya.


Kulingkarkan lenganku di pundaknya seraya kugerakkan jari-jariku menanggalkan baju zirah yang ia kenakan. Kuletakkan baju zirah miliknya tadi ke samping seraya kembali beranjak aku melepaskan bagian baju zirahnya yang lain...


Duduk aku dihadapannya, kuangkat kembali jari-jemariku menanggalkan kancing yang melekat di pakaian yang ia kenakan. Kuarahkan pakaiannya tadi secara perlahan jatuh dari tubuhnya...


Beranjak aku seraya kulangkahkan kembali kakiku mendekati kotak berisi obat-obatan milikku, ikut kuraih botol minum terbuat dari kulit hewan milikku berserta dua lembar kain bersih yang tak terlalu jauh darinya...


Kembali aku melangkah mendekati Zeki seraya duduk aku aku dibelakangnya, kutatap punggungnya yang penuh dengan darah... Bahkan luka bakar yang ada di punggungnya ikut tertutupi oleh darah yang mengalir tersebut...


Kubuka botol berisi air minum tadi seraya kutumpahkan air yang ada di dalamnya sedikit demi sedikit ke atas selembar kain yang aku genggam, kusapukan dengan pelan kain basah tadi mengitari luka di punggungnya yang menganga itu... Sesekali tubuhnya terhentak pelan tatkala tanganku tak sengaja menyentuh luka yang ada di punggungnya itu...


"Kau harusnya menghindar, kau bodoh sekali sampai membiarkan laki-laki tersebut melukaimu seperti ini," ucapku dengan suara bergetar, kuangkat sebelah tanganku menopang tanganku yang gemetar mengusap punggung Zeki.


"Aku sengaja memancingnya kau tahu, karena aku juga memperhatikan dia dari jauh seperti dia memperhatikanku. Bagaimana aku mengatakannya, seperti hewan buas memancing hewan buas lainnya dengan kekuatan yang ia miliki," ucapnya yang masih tertunduk.


"Dan kau ingin mengatakan jika membuatmu terluka adalah salah satu rencanamu?"


"Aku mengakui kesalahan yang aku lakukan kali ini, aku terlalu sibuk membantai musuh di hadapanku hingga aku sedikit terlambat untuk... Kau tahu, menghindari serangannya," ucapnya lagi, diangkatnya kepalanya yang tertunduk tadi menghadap ke depan.


"Apa kau tahu, apa yang aku rasakan saat laki-laki tersebut menebas punggungmu? Kau membuatku hampir mati ketakutan," ucapku dengan suara bergetar, kuarahkan kepalaku bersandar di pundaknya seraya kugigit kuat bibirku yang juga ikut gemetar. Wangi darah yang masih menempel menyeruak masuk ke dalam hidungku.

__ADS_1


"Maaf, karena membuatmu mengkhawatirkanku," balasnya pelan padaku.


__ADS_2