Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDIII


__ADS_3

Zeki, apa dia bermaksud ingin membunuhku? Bagaimana ini? Jika rencana ini gagal, Haru nii-chan yang akan membunuhku. Tapi jika rencana ini dilanjutkan, aku akan mati di tangan Zeki saat ini juga.


Aku kembali tertunduk, kutarik napas sedalam mungkin dengan menjatuhkan diri di lantai, “Yang Mulia, ampuni manusia rendahan seperti saya ini,” rengekku dengan mengangkat kedua tangan menutupi wajah.


Kumohon, keluarlah air mata. Pikirkan hal yang membuatmu sedih Sachi, pikirkan kau kehilangan semua perhiasanmu.


“Apakah kata-kata yang saya ucapkan salah? Jika benar, mohon ampuni saya Yang Mulia,” aku semakin memperkuat tangisan, sesekali aku melirik ke arah Zeki yang menatapku dengan bibirnya yang sedikit terbuka.


Aku tahu kau pasanganku, tapi jangan mengacaukan semua rencana yang telah aku susun dengan sangat matang.


“Yang Mulia,” aku terisak dengan kembali menatap ke arah Raja In-Su, “apa, apa saya … Apa saya akan dieksekusi saat ini?” Tangisku lagi dengan mengangkat kedua tangan menyentuh leher.


“Saya tidak mau, saya masih ingin lebih lama mengagumi engkau Yang Mulia. Saya bersikeras mengumpulkan uang selama ini, semuanya … Semuanya, hanya karena kekaguman saya pada engkau Yang Mulia,” aku kembali menundukkan kepala dengan kedua tangan menutupi wajah, “hentikan tangisanmu itu,” suara Raja In-Su yang terdengar membuat tubuhku sedikit gemetar.


“Saya ingin melakukannya, tapi entah kenapa … Tangisannya tidak bisa berhenti.”


“Kemarilah,” ucapnya kembali terdengar, aku menurunkan kedua telapak tanganku tadi menatapnya, “duduklah di dekatku,” ucapnya dengan menyandarkan lengannya yang memijat-mijat kepalanya.


Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan?


Aku kembali mengangkat kedua tanganku mengusap mata, kedua kakiku perlahan mendekatinya dengan sesekali terdengar suara decakan lidah yang dikeluarkan oleh beberapa perempuan saat aku berjalan melewati mereka. Pandangan mataku kembali tertunduk saat aku tak sengaja menatap Zeki yang mengawasiku dari kursi yang ia duduki.

__ADS_1


Aku menghentikan langkah di dekat Raja In-Su, “duduklah,” ucapnya, aku merapikan rok yang aku kenakan sebelum duduk di lantai yang ada di dekat meja penuh hidangan di hadapan mereka berdua, “apa yang kau lakukan?” Suaranya kembali terdengar, aku mengangkat kepalaku membalas tatapannya.


“Yang Mulia, meminta saya untuk duduk bukan?” Aku balik bertanya, dia mengangkat kepalanya yang sebelumnya berpangku di tangannya, “duduklah di sampingku,” ucapnya dengan melirik ke sebuah kursi berbentuk kotak tanpa sandaran yang ada di sampingnya.


Aku beranjak berdiri lalu duduk di kursi yang ada di sampingnya, “nikmati semua hidangan yang telah dipersiapkan,” ucap Raja In-Su, mereka yang berdiri di hadapan kami membungkukkan tubuh mereka sebelum kembali melangkah ke meja penuh hidangan yang ada di sebelah kanan dan juga kiri kami.


“Apa ada yang ingin kau makan?” Tanyanya yang melirik ke arahku, “apa Yang Mulia yakin menawari saya?” Aku balik bertanya dengan menatap jari telunjukku yang saling bermain satu sama lain.


“Walau tubuh saya kecil, tapi saya sangatlah sanggup menghabisi semua hidangan ini. Dan juga, saya hari ini sangatlah lapar, saya belum memakan apa pun sejak pagi,” ungkapku lagi dengan menggigit pelan bibirku.


“Habiskan saja semuanya,” ucapnya terdengar dengan matanya yang masih melirik padaku, “Yang Mulia, anda yakin?” Aku balik bertanya kembali padanya, dia mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


“Terima kasih,” ucapku tersenyum kepadanya.


Aku terhentak dengan sedikit menoleh ke arah kiri, sebelah tanganku bergerak menyentuh rambutku saat pandangan mataku menatap Raja In-Su yang mengarahkan telapak tangannya ke arahku, “rambutmu hampir mengenai makanan,” ucapnya kembali menarik tangannya.


“Benarkah,” ungkapku dengan menyelipkan rambutku yang terlepas dari ikatan ke balik telinga, “Yang Mulia, dapatkah aku memakan nasi berbentuk kotak itu?” Tanyaku dengan menunjuk ke sebuah piring dengan potongan nasi berbentuk kotak, berwarna cokelat dengan kacang dan buahan kering di atasnya.


“Yang Mulia,” ucapku menatapnya yang tengah mengarahkan pandangan ke depan, “kau bisa memakannya,” ucapnya tanpa menoleh ke arahku.


“Terima kasih,” ucapku pelan dengan mengarahkan tangan meraih makanan yang aku inginkan itu, aku memejamkan mataku saat makanan yang tebuat dari beras ketan itu memenuhi mulutku, “manis. Ini lezat sekali,” gumamku dengan menepuk-nepuk pelan pipi kananku.

__ADS_1


“Yang Mulia, apa ada sesuatu di wajah saya?” Tanyaku saat aku tersadar jika dia terus-menerus menatapku dari kursinya, “kau mengingatkan aku pada seseorang?”


“Seseorang?” Tanyaku yang dibalas anggukan kepala darinya, “seseorang yang sangat ingin aku singkirkan,” ungkapnya lagi, tanganku yang berusaha meraih cangkir terhenti saat mendengarnya.


Aku kembali menarik tanganku lalu menggenggamnya dengan sangat kuat, “apa itu berarti, saya juga akan disingkirkan?” Ungkapku yang kembali menatapnya, “entahlah,” ucapnya meraih sebuah cangkir yang ada di hadapannya lalu meminumnya.


“Oh, Yang Mulia,” ucapku, kedua matanya melirik ke arahku saat dia kembali meletakkan cangkir di atas meja, “di bawah matamu Yang Mulia,” ucapku dengan mengangkat jari telunjukku menyentuh bawah mataku sendiri.


Dia menggerakkan jari telunjuknya menyentuh bawah matanya, “di sebelah sini, Yang Mulia,” ucapku meraih sehelai bulu mata yang jatuh di bawah matanya.


“Apa Yang Mulia tahu? Jika di sebuah Kerajaan memiliki mitos akan bulu mata,” ucapku meletakkan bulu mata yang aku ambil tadi di telapak tanganku, “di Kerajaan itu mengatakan, jika bulu matamu jatuh … Itu berarti ada seseorang yang sangat merindukanmu,” ucapku lagi dengan meniup pelan bulu mata tadi hingga ia terbang entah ke mana.


“Saya tidak tahu, siapa yang merindukan Yang Mulia untuk saat ini. Akan tetapi, jika saya benar nanti akan berpisah dengan engkau Yang Mulia, saya takut jika bulu mata Yang Mulia akan rontok setiap hari karena saya me...”


Perkataanku terhenti, kedua mataku membesar dengan sebelah tangan menyentuh pipi kananku. Aku beralih kepada para perempuan yang melongo ke arah kami, “Yang … Yang Mulia, me-mencium pipinya,” aku kembali mengangkat pandangan mataku saat suara perempuan terdengar mengatakannya.


Tubuhku tiba-tiba merinding. Ya Tuhan, aura membunuh macam apa yang tengah mengincarku saat ini?


“Raja In-Su, jika aku tidak salah mengingat. Kau memiliki janji dengan Duke siang tadi,” Raja In-Su berbalik menatap Zeki yang duduk di sampingnya, “terima kasih Raja Zeki, kau membantuku untuk mengingatnya,” ucap Raja In-Su beranjak berdiri dengan masih menatap Zeki.


“Tidak perlu berterima kasih, aku hanya tidak sengaja mengingatnya,” jawab Zeki menimpali perkataannya, “kau bisa memakan apa pun di meja ini sebelum kembali ke sana,” ungkap Raja In-Su berbalik menatapku sebelum dia melangkah pergi meninggalkan ruangan.

__ADS_1


“Kalian terlihat serasi sekali,” ucap Zeki dengan mengangkat sebuah cangkir lalu meminumnya, aku kembali tertunduk setelah lama melirik ke arahnya, “Hanya ketika bersamamu, aku bisa menjadi diri sendiri. Aku, hanya akan menghabiskan sisa hidupku kelak bersamamu … Jadi bersabarlah, demi aku, demi kita, dan demi masa depan yang selalu kita perjuangkan sampai saat ini.”


“Aku tahu kau bisa melakukannya. Laki-laki pilihanku, tidak akan mengecewakanku bukan?” Sambungku pelan dengan kepala tertunduk menatap kedua tangan yang menggenggam erat rok yang aku kenakan.


__ADS_2