Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLXVII


__ADS_3

Mataku terbuka perlahan, diikuti telapak tanganku yang bergerak mengusap wajah. Tatapan mataku sedikit kosong ke depan, bayangan tentang apa yang kami lakukan semalam masih teringat jelas di kepalaku. Kugerakkan tubuhku berbalik, lama kutatap dia yang masih lelap tertidur sebelum pandangan mataku beralih ke arah langit-langit kamar.


Apa ini? Rasanya aneh sekali, seperti ada sesuatu yang mengganjal namun tidak ada. Apa setiap melakukan hal itu, perempuan akan merasakan ini?


Aku menggerakkan kedua kaki ke kanan lalu ke kiri bergantian dengan perlahan, semakin aku melakukannya … Semakin terasa juga perasaan kurang nyaman yang aku rasakan itu. “Ada apa? Pagi-pagi kau sudah bersemangat sekali,” lirikan mataku beralih kepadanya yang merangkul lalu mencium pundakku dengan matanya yang masih terpejam.


“Bukan apa-apa. Bangunlah, atau kita nanti akan terlambat untuk sarapan,” ucapku pelan sambil menusuk-nusuk pipinya menggunakan jari telunjukku.


Mata Zeki terbuka pelan lalu ia pejamkan kembali beberapa kali, bola matanya yang biru terang itu semakin cantik dilihat jika menatapnya dari jarak yang sangat dekat seperti sekarang. Dia mengusap wajahnya sebelum melepaskan rangkulannya lalu beranjak duduk, “selamat pagi,” ucapnya tersenyum lalu mendekatkan kembali wajahnya mencium pipiku.


Erangan tak sengaja keluar dari bibirku saat aku ingin beranjak duduk sepertinya. “Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?” Aku meliriknya yang menatapku dengan cemas diikuti telapak tangannya mencoba memegangi kedua pundakku.


“Aku baik-baik saja, hanya punggung dan pinggulku yang terasa sangat sakit,” ungkapku sambil kembali membenamkan wajah di bantal.


“Beristirahatlah, aku akan membawakan sarapan untukmu ke kamar.”


Aku melirik ke arahnya yang tengah menarik selimut semakin menutupi tubuhku, “kau akan melakukannya?” tanyaku, masih kutatap dia yang sudah berdiri di samping ranjang sambil mengikat tali di celana yang ia kenakan.


“Kau sakit karenaku, itu karena aku tidak bisa mengendalikan diri semalam, bukan? Jadi beristirahatlah,” ucapnya yang menatapku dengan menggaruk kepalanya sendiri.

__ADS_1


Dia berbalik melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi, cukup lama ia di sana sebelum keluar kembali dengan wajah dan rambutnya yang basah. Aku masih menatapnya yang berjalan mendekati lemari, lalu melangkah kembali ke arah ranjang dengan sebuah lipatan pakaian di tangannya.


“Apa yang kau lakukan? Kau seharusnya mengeringkan rambutmu terlebih dahulu,” ucapku yang mencoba beranjak dengan sebelumnya melilitkan selimut di tubuh.


Zeki merapikan kerah pakaian yang ia kenakan lalu berbalik menatapku, “aku sengaja melakukannya untuk menenangkan diri. Karena sejujurnya, aku lebih memilih untuk menyantapmu dibanding menyantap makanan,” ucapnya yang kembali beranjak berdiri di samping ranjang.


Aku semakin tertegun ketika senyuman darinya itu mengarah padaku. Zeki menepuk pelan kepalaku sebelum langkahnya bergerak mendekati pintu kamar, dia sempat menoleh ke arahku sebelum pintu kamar itu tertutup diikuti bayangannya yang juga menghilang. Aku mencengkeram erat selimut yang menutupi tubuhku itu, sembari kupaksakan badanku bergerak menuruni ranjang.


Langkahku bergerak perlahan ke arah cermin, lalu kugerakkan tanganku melepaskan selimut yang menyelimuti tubuhku itu saat aku sendiri telah berdiri di depan cermin. Jari-jemariku bergerak menelusuri pundak dengan pandangan mata, mencoba menghitung bekas lebam memerah yang memenuhi tubuhku itu, “kami benar-benar melakukannya,” gumamku pelan sambil meraba perutku yang terasa sangat lengket, karena walau bagaimanapun … Menunda memiliki anak, menjadi komitmen kami sebelum berperang melawan Kaisar.


Aku menggigit pelan bibirku sebelum berbalik melangkahkan kaki. Rasa mengganjal itu semakin terasa saat dibawa berjalan, langkahku sempat terhenti saat tatapan mata terjatuh ke atas ranjang, “aku akan menggantimu nanti,” ucapku pelan sambil menjatuhkan pandangan ke arah noda merah yang sedikit mengabur di sprei putih yang kami tiduri semalam.


Aku membuka lilitan handuk di kepala dengan meraih sisir yang ada di atas meja rias, kulipat handuk itu ke atas meja sambil kusisir pelan rambutku yang setengah basah itu. Aku melirik ke samping, tepatnya ke arah pintu ketika pintu tersebut terbuka diikuti Zeki yang berjalan masuk dengan membawa nampan. Aku beranjak berdiri sambil meletakkan kembali sisir ke atas meja, “apa yang kau bawa, Suamiku?” tukasku sembari melangkahkan kaki mendekatinya yang telah meletakkan nampan yang dibawanya itu ke atas meja.


“Hanya ini yang mereka masak hari ini,” ungkapnya, dia menatapi nampan tersebut dengan kedua tangannya berkacak di pinggang.


Zeki turut duduk di kursi saat aku telah duduk di salah kursi yang ada di dekat meja, “aku tahu, kau pasti belum makan juga di sana bukan? Apa yang ingin kau makan?” tanyaku, aku mengangkat secangkir kopi yang ada di dalam nampan lalu meletakkan cangkir tersebut di hadapannya.


“Aku memberikan alasan, jika Isteriku akan kesepian kalau aku membiarkannya makan sendirian di dalam kamar. Dan tebakanmu itu benar sekali,” ucapnya sembari menyeruput cangkir berisi kopi yang sebelumnya aku berikan.

__ADS_1


Aku meraih beberapa helai roti, lalu membalurkan roti tersebut dengan selai yang juga ia bawa, setelah selesai melakukannya … Kuberikan sepiring penuh roti itu kepadanya dengan sebelumnya aku mengambil dua helai roti tersebut untuk aku makan. “Kenapa? Apa ada yang aneh denganku?” tanyaku dengan melirik ke arah tubuhku sendiri saat matanya itu tak bergeming melirik ke arahku.


Zeki meletakkan cangkir yang ada di tangannya itu ke atas meja, dia membuang pandangannya dengan memijat kepalanya sendiri. Aku masih terdiam menatapnya, dengan sesekali menggigit roti yang ada di tanganku, “kenapa? Jangan membuatku risau seperti itu,” ucapku kembali meletakkan roti yang ada di tanganku ke piring.


Zeki menghela napas sambil beranjak dari kursi yang ia duduki, “Isteriku, Darling,” ungkapnya, dia berhenti dengan berjongkok di depan kursi yang aku duduki.


Aku melirik ke arah telapak tangannya yang bergerak mengusap pahaku, “kau pasti paham, bukan? Apa yang aku inginkan,” ucapnya yang tersenyum saat mata kami kembali bertemu.


“Apa kau, sama sekali tidak lelah setelah melakukannya semalaman?”


Zeki menggeleng menjawab perkataanku, “apa kita bisa melakukannya lagi?” ucapnya, aku kembali melirik ke arah usapan tangannya yang semakin kian naik menelusuri tubuhku.


“Apa kau tidak lihat? Rambutku basah, itu berarti aku baru saja mandi,” tukasku gelagapan mencoba menghindarinya.


“Kalau seperti itu, kita bisa melakukannya sambil membersihkan diri. Lagi pun, aku belum membersihkan tubuhku sejak pagi,” jawabnya yang dengan kembali tersenyum menatapku.


Zeki beranjak berdiri, tubuhnya sedikit membungkuk dengan meraih dan menggendongku, “tidak ada kata-kata lagi, berarti tidak ada penolakan. Aku, tidak akan melepaskanmu hari ini-”


“Aku sengaja mengatakan jika kau sakit, itu berarti tidak akan ada yang mengganggu kita seharian ini. Jadi persiapkan dirimu baik-baik, Darling,” sambungnya berjalan dengan menggendongku kembali mendekati ranjang.

__ADS_1


__ADS_2