Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLXII


__ADS_3

Izumi beranjak berdiri lalu berjalan mendekati laki-laki tadi, ia menunduk dengan kedua tangannya menggenggam pundak laki-laki tersebut. Lama mereka tampak berbincang sebelum mereka berdua beranjak berdiri dan berjalan mendekati kami.


"Bagaimana keadaannya?" Ucap Haruki saat mereka berdua duduk di hadapan kami.


"Maaf dan terima kasih," ucap laki-laki itu bergerak bersujud menghadap Haruki.


"Bukan itu yang ingin aku dengar, aku hanya ingin mengetahui... Siapa pelakunya?" Sambung Haruki kembali menatapnya.


"Aku sendiri pun tidak tahu, mereka tiba-tiba datang, mengambil semua harta benda kami. Membunuh warga desa yang mencoba melawan, dan... Dan," ucap laki-laki itu terhenti, kepalanya menunduk dengan kedua tangannya menggenggam erat celana yang ia kenakan.


"Apa kau ingat ciri-ciri atau apapun yang berhubungan dengan mereka?"


"Mereka, semuanya mempunyai tanda angka terukir di masing-masing wajah mereka. Dan Surga," ucap laki-laki itu menggerakkan kepalanya membalas tatapan Haruki.


"Beberapa dari mereka mengatakan Surga. Aku tidak sabar bersenang-senang di surga, beberapa dari mereka mengatakan itu sesaat sebelum aku meninggalkan Anakku untuk mencari bantuan," ucapnya kembali dengan nada suara gemetar.


"Namamu," ucap Izumi melirik ke arahnya.


"Mas'ud, namaku Mas'ud," jawab laki-laki itu dengan kepala tertunduk.


"Katakan Mas'ud, apa kau mengetahui sesuatu mengenai Surga itu?" Ucap Haruki dengan kedua tangan bersilang menatapi laki-laki itu.


"Itu tempat dimana semuanya dapat kau lakukan, mencari kekayaan ataupun keinginanmu untuk membunuh seseorang. Disana, hewan lebih mulia dibandingkan manusia," ucapnya menjawab perkataan Haruki.

__ADS_1


"Bagaimana kau mengetahuinya?" Sambung Izumi menimpali perkataannya.


"Aku, pernah sekali ke sana bersama Kakakku. Karena katanya, kau akan mendapatkan banyak sekali uang ketika pulang dari tempat itu. Aku tidak menyangka, jika tempat itu tidak lain adalah neraka," ungkapnya kembali dengan kepala tertunduk.


"Kakakku mati konyol di sana gara-gara dia hendak menolong seorang bayi yang dilempar-lempar ke udara oleh sekelompok pemuda. Jika kau kuat, kau bisa mendapatkan apapun... Tapi jika kau lemah sepertiku, tak akan ada harapan hidup untuk bertahan di sana," ungkapnya, diangkatnya kepalanya menatap kosong ke depan.


"Setelah mendengarnya apakah kau akan tetap pergi ke sana Haruki?" Tanya Izumi mengalihkan pandangannya pada Haruki yang tertunduk dengan sedikit senyuman terukir di wajahnya.


"Apa kau masih harus menanyakan hal tersebut padaku, Izu-chan," ucapnya mengangkat kepalanya tersenyum menatapi Izumi.


"Kakak sialan. Berhubung para baj*ngan itu ada di sana, maka aku dengan senang hati mengiyakan semuanya," ucap Izumi membalas tatapan Haruki.


"Semuanya telah diputuskan, jadi berisitirahatlah untuk menempuh perjalanan besok," ungkap Haruki merebahkan tubuhnya berbaring di atas tanah dengan kedua tangannya bergerak ke belakang memangku kepalanya.


"Apa yang telah diputuskan?" Ucap laki-laki tadi yang menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri menatapi Haruki dan juga Izumi yang telah berbaring.


_________________________


"Apa kau baik-baik saja? Apa kau ingin bergantian menunggangi kuda milikku?" Ucap Izumi menatapi laki-laki bernama Mas'ud tersebut yang berjalan mengikuti langkah kaki kuda kami.


"Aku baik-baik saja, berjalan seperti ini... Sudah biasa untukku," ucapnya tersengal mengatur napasnya yang terdengar tak beraturan.


"Jika kau mati di tengah perjalanan, bagaimana caranya kau akan membalaskan dendam Anakmu?" Ungkap Izumi kembali sembari dihentikannya langkah kaki kudanya.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja," ucap Mas'ud berlari mendekati kami yang berhenti menunggunya.


"Apa kau ingin menunggangi kuda milikku? Kuda milikku tak sebesar milik Kakakku," ucap Eneas kepadanya.


"Tidak perlu. Sejujurnya, aku tidak bisa menunggangi kuda," ungkapnya tertawa pelan dengan sebelah tangannya mengusap bagian belakang kepalanya yang tertunduk.


"Tapi jika seperti ini terus, kau akan menghambat perjalanan. Izumi! Bawa dia," ucap Haruki menggerakkan kudanya dengan cepat meninggalkan kami.


"Nii-chan," ucapku menatapi Izumi yang menggerakkan kudanya mendekati Mas'ud.


"Pergi dan susul Haruki, aku akan menyusul kalian," ucap Izumi menatapi aku dan Eneas bergantian.


Kedua tanganku bergerak kuat menggoyangkan tali kekang, kuda yang aku tunggangi melaju cepat menyusul punggung Haruki yang kian terlihat. Pandangan mataku teralihkan pada Cia yang tersenyum lebar saat angin sedikit menerbangkan rambut pendeknya.


Tak seperti sebelumnya, ia terlihat sangat menikmati berkuda terlebih ketika aku meningkatkan kecepatan kuda yang kami tunggangi. Walaupun, semakin lama... Rasa khawatir semakin memenuhi tubuhku.


Bukan hanya itu, rasa gerah dan gatal yang menyerang tubuh sangatlah mengganggu. Aku tidak tahu, seperti apa aroma tubuhku sekarang...


Setelah kami menguburkan banyak sekali mayat semalam, kami tak sempat lagi untuk membersihkan diri. Sumur yang ada di ujung desa, airnya bercampur bau anyir darah dengan beberapa mayat yang ada di dalamnya.


Kami bahkan harus menutup sumur tersebut dengan tanah karena tak kunjung berhasil saat kami beberapa kali ingin mengeluarkan mayat yang mengapung di dalamnya. Benar-benar melelahkan, benar-benar menyesakkan, benar-benar menyedihkan.


Dan laki-laki itu, dia kehilangan Puterinya, dia kehilangan rumahnya, dia kehilangan teman atau bahkan kerabatnya....

__ADS_1


Dan dia... masih berusaha tersenyum seperti tadi.


Sialan! Walaupun satu, walaupun satu... Aku akan membunuh para baj*ngan itu!


__ADS_2