Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLXVI


__ADS_3

Cia berbalik memelukku, kepala Tiebout yang dilemparkan Izumi sebelumnya terbang ke sana dan ke sini layaknya bola yang dioper dari satu orang ke orang lainnya.


Kugerakkan kepalaku memutari tempat itu, tampak dari kejauhan Izumi melangkahkan kakinya mendekati kami. Di tangannya, terlihat sebuah kantung berukuran sedikit besar digenggamnya erat.


"Aku tak sengaja membunuhnya," ucap Izumi yang bergerak duduk di samping Eneas.


"Tidak masalah. Berkat itu, kita mendapatkan banyak sekali uang tambahan untuk melanjutkan perjalanan," ucap Haruki masih mengarahkan pandangannya pada arena pertarungan.


"Jadi, apa yang ingin kita lakukan selanjutnya?" sambung Izumi diikuti helaan napas yang kuat terdengar.


"Tentu saja, berisitirahat. Anak-anak butuh banyak istirahat," ucap Haruki kembali seraya pandangannya melirik ke arah Cia yang membenamkan kepalanya di tubuhku.


_________________________


Kuda kami melangkah pelan membelah kerumunan di jalan, sesekali Haruki dan Izumi berhenti pada beberapa orang yang berlalu-lalang. Jika kau tak mengacungkan senjata ke arah mereka, maka mereka akan mengabaikan semua pertanyaan yang kalian ajukan.


Haruki kembali menarik pedang yang ia arahkan pada seorang laki-laki saat laki-laki tersebut mengarahkan tangannya bergerak ke kanan dan ke kiri menunjukkan arah.


Kuda miliknya kembali berjalan saat pedang yang ada di tangannya kembali masuk ke dalam sarung kayu yang ada di pinggangnya. Kuda milikku ikut bergerak mengikuti langkahnya dari belakang...


Kami menunggangi kuda mengikuti arahan dari laki-laki sebelumnya. Langkah kaki kuda kami terhenti di sebuah bangunan kayu berlantai dua berdiri kokoh di sudut kawasan tersebut.


Bangunan kayu nan mewah tersebut terlihat ramai sekali pengunjung di dalamnya. Penginapan, seperti itulah yang tertulis di papan kayu yang menggantung di atas pintu bangunan yang terbuka lebar.


"Kita akan beristirahat di sini," ucap Haruki yang telah bergerak turun dari atas kudanya.

__ADS_1


Aku ikut menggerakkan tubuhku turun dari atas kuda yang aku tunggangi, kuarahkan kembali kedua tanganku meraih Cia yang menatapku dari atas kuda yang sama. Haruki berjalan mendekat seraya diraihnya tali kekang kuda milikku olehnya.


Kugenggam tangan Cia dengan sangat erat seraya sebelah tanganku yang lain bergerak menarik penutup kepala yang aku kenakan agar tak terjatuh. Kepalaku menoleh ke belakang saat kurasakan sesuatu menepuk pelan pundakku... Haruki berjalan melewati kami dengan Eneas yang ikut melangkah di sampingnya.


"Apa kau baik-baik saja?" Ucap Izumi yang telah berdiri di samping Cia.


"Aku baik-baik saja, hanya saja... Dia sedikit ketakutan saat kau melemparkan kepala laki-laki tadi," ungkapku saat Izumi menunduk lalu menggendong Cia di dadanya.


"Begitu kah? Aku lupa jika dia tidak terbiasa dengan hal itu," jawab Izumi menggerakkan tangannya merapikan kain yang menyelimuti tubuh Cia.


"Apa kalian yakin? Penginapan ini sangatlah mahal, dan juga... Dari kabar yang aku dengar, ini bukanlah murni penginapan," tukas Mas'ud yang tiba-tiba telah berjalan di samping Izumi.


"Jika itu berhubungan dengan uang? Maka kami tidak akan kesulitan mendapatkannya," ucap Izumi tanpa melirik ke arahnya.


"Sebenarnya, siapa kalian?" Tukasnya menghentikan langkah kakinya.


Kami berjalan mendekati Haruki yang tengah berdiri berbincang dengan seorang laki-laki bertubuh besar dengan sebuah pedang di genggamannya. Haruki menoleh ke arah kami seraya tangannya bergerak melambai meminta kami untuk mendekatinya.


Laki-laki bertubuh besar itu berjalan saat kami hendak mendekati mereka. Haruki diikuti Eneas menggerakkan kedua kakinya melangkah mengikuti langkah laki-laki tersebut.


Semakin kami masuk ke dalam, semakin luas bangunan tersebut terasa. Beberapa perempuan dengan nampan di masing-masing tangan mereka hilir-mudik berjalan melewati kami. Lorong ini dipenuhi banyak sekali ruangan dengan perempuan-perempuan pembawa nampan tadi ke luar masuk dari ruangan-ruangan bersekat kayu di sekitar.


Langkah kaki kami terhenti oleh sebuah tangga lebar yang ada di hadapan. Seluruh kayu yang digunakan untuk tangga dipenuhi ukiran di setiap sisinya.


"Panggilkan yang biasa," ucap seorang laki-laki yang berjalan menuruni tangga, diliriknya laki-laki bertubuh besar yang menuntun kami sebelumnya.

__ADS_1


Laki-laki bertubuh besar tadi kembali melangkahkan kakinya menaiki tangga. Izumi menarik tanganku pelan saat kepalaku masih tertuju pada salah satu ukiran yang sangat tak asing untukku.


"Nii-chan," bisikku pelan seraya kugerakkan kepalaku sedikit ke arahnya.


"Ada apa?" Jawabnya kembali dengan sangat pelan.


"Apa kau melihatnya nii-chan?"


"Melihat apa?" Sambungnya kembali padaku.


"Ukiran yang ada di tangga. Bukankah ukiran itu, sangat tak asing untukmu," ucapku kembali padanya dengan setengah berbisik.


"Ukiran di tangga?" Tukas Izumi mengarahkan pandangannya ke arah yang aku tunjukkan dengan lirikan mataku.


"Heh," ungkapnya kembali menggerakkan kepalanya menatap lurus ke depan.


"Bagaimana menurutmu nii-chan?"


"Kita akan membahasnya saat tiba di kamar. Biarkan Haruki yang mengambil keputusan, bagaimana pun... Dia Kakak kita," ucap Izumi kembali menatapku.


"Apa yang tengah kalian bicarakan?" Sambung Haruki sedikit menggerakkan kepalanya menoleh ke belakang.


"Bukan hal yang penting. Juga bukan hal yang harus kau cemaskan," jawab Izumi mengarahkan pandangannya kepada Haruki.


Langkah kaki kami menyusuri lorong luas nan gelap saat anak tangga yang kami naiki habis. Obor-obor berukuran kecil tampak menggantung di sepanjang lorong. Genggaman tanganku pada Izumi semakin kuat, saat telingaku menangkap suara jeritan yang memekakkan.

__ADS_1


"Ini kamar yang akan kalian tempati. Perlu diingat, kami tidak pernah memberikan jaminan keselamatan kalian di sini. Di tempat ini, dibebaskan untuk membunuh... Jadi, pertahankan kunci kamar kalian dari para pembunuh yang mengintai... Bahkan dinding bisa membunuh kalian," ucapnya tersenyum menatapi kami, diketuknya pintu hitam yang ada di belakang tubuhnya dengan sebelah telapak tangannya.


__ADS_2