
Suara ketukan pintu membangunkanku, aku beranjak duduk dengan kedua telapak tangan menutupi wajahku yang tertunduk. Kuturunkan kedua tanganku tadi sembari melirik ke sekitar ruangan mencari Zeki.
"Masuklah," ucapku saat ketukan pintu itu semakin sering terdengar.
Bayangan hitam muncul saat pintu itu terbuka, dua orang perempuan masuk ke dalam, melangkah lalu membungkukkan tubuhnya ke arahku. Kedua perempuan itu tak mengucapkan sepatah kata pun, mereka hanya menunduk dengan kedua tangan terangkat ke arah pintu kamar yang masih terbuka.
Aku beranjak berdiri lalu melangkahkan kaki mendekati mereka, seorang perempuan kembali berdiri tegap lalu berbalik melangkah mendekati pintu. Aku ikut melangkahkan kaki mengikuti perempuan tadi sembari perempuan yang lainnya mengikutiku dari belakang.
Kami bertiga berjalan beriringan di sebuah lorong dengan jendela tanpa kaca yang mengelilingi. Aku menoleh ke salah satu jendela, tampak dari jauh terlihat beberapa puluh perempuan beradu tanding satu sama lainnya menggunakan sebuah pedang terbuat dari kayu.
Aku kembali mengalihkan pandangan pada seorang perempuan yang berjalan dengan membawa banyak sekali buku di tangannya. Perempuan yang berjalan di hadapanku tadi menundukkan kepalanya lalu mengangkat kepalanya kembali saat perempuan yang membawa tumpukan buku itu melangkah berlalu.
Kami bertiga kembali melanjutkan langkah, sebuah tangga batu... Membentang panjang di hadapan kami. Kugerakkan kakiku perlahan menuruni tangga dengan sesekali angin yang berembus meniup rambutku yang tergerai.
Kedua kakiku kembali melangkah menyusuri jalan setapak dengan rerumputan di kanan dan kirinya. Kami berhenti di sebuah taman dengan sebuah bangunan tanpa dinding berdiri kokoh di tengah-tengah taman.
Perempuan yang menuntun jalan tadi menghentikan langkah kakinya, ia berbalik lalu mundur beberapa langkah. Tubuh perempuan itu kembali membungkuk dengan kedua tangannya mengarah pada bangunan bercat putih tersebut.
Aku berjalan melewati perempuan tadi, semakin aku melangkah mendekati bangunan tersebut... Semakin harum bunga menyeruak masuk ke dalam hidungku. Langkahku terhenti, perempuan berkulit hitam yang sebelumnya aku temui tengah duduk di bangunan tersebut sembari kepalanya menoleh menatapku.
Ia tersenyum yang disambut dengan kedua perempuan yang berdiri di belakangnya membungkukkan tubuh saat aku berjalan mendekati mereka.
Perempuan berkulit hitam tadi mengarahkan sebelah telapak tangannya ke arah salah satu kursi terbuat dari batu yang ada di sana. Aku melangkah mendekati kursi tersebut lalu mendudukinya.
__ADS_1
Perempuan berkulit hitam tadi mengangkat jari telunjuknya yang disambut oleh salah satu perempuan yang maju mendekatinya. Perempuan itu mengangkat telapak tangannya saat perempuan yang ada di sampingnya mendekatkan wajah ke arahnya...
"Ratu, ingin meminta maaf sekali lagi atas perbuatan yang dilakukan oleh salah satu dari kami," ucap perempuan itu beranjak berdiri menatapku.
"Maafkan kami," sambung perempuan berkulit hitam itu yang aku balas dengan anggukan kepala.
"Kamilah yang seharusnya meminta maaf. Dan mohon, bebaskan mereka berempat, mereka tidak sejahat yang kalian pikirkan," ucapku menundukkan kepala, kurasakan genggaman di telapak tanganku, perempuan berkulit hitam tersebut tersenyum menatapku saat aku mengangkat kepalaku menatapnya.
Perempuan berkulit hitam itu kembali menoleh ke arah perempuan yang ada di sebelahnya. Kembali ia membisikkan sebuah kata-kata yang tak aku mengerti maksudnya...
"Namamu?"
"Namaku?" Ucapku mengulangi pertanyaannya, perempuan yang berdiri tadi mengangguk membalas perkataanku.
"Sachi, aku akan meminjamkan seluruh pasukan yang aku miliki untuk membantumu berperang," ucapnya tersenyum menatapku, aku berbalik menoleh ke arah perempuan yang berdiri di sampingnya, perempuan itu membalas tatapanku dengan anggukan kepala yang ia lakukan.
Aku kembali menatap Ratu itu, bibirku masih terdiam berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Kupaksakan bibirku tersenyum, saat Ratu tersebut masih tersenyum menatapku.
Perempuan yang dipanggil Ratu itu melepaskan genggaman tangannya padaku, ia beranjak berdiri lalu berjalan meninggalkan aku dengan seorang perempuan yang menerjemahkan pembicaraan diantara aku dan Ratu tadi...
"Ratu Alelah memerintahkan aku untuk membantumu selama di sini," ucap perempuan tadi berjalan mendekatiku.
"Namaku, Callia. Jangan sungkan-sungkan untuk bertanya apapun padaku," ucapnya mengarahkan sebelah telapak tangannya ke dada lalu membungkukkan tubuhnya ke arahku.
__ADS_1
"Baiklah, Callia. Bisakah kau duduk di sampingku," ucapku sembari menepuk-nepuk kursi yang diduduki Ratu sebelumnya.
"Apa kau mengetahui di mana keempat laki-laki yang bersamaku?" Ucapku menoleh saat dia bergerak duduk di kursi yang aku tunjukkan.
"Mereka sedang mendiskusikan sesuatu bersama para Kapten Kerajaan," ucapnya membalas perkataanku.
"Kapten?"
"Ratu, dapat melihat maksud hati seseorang hanya dengan menyentuh tubuh orang tersebut. Ratu mungkin melihat keinginan terbesar yang kau pendam, dan mungkin itu salah satu alasan dia ingin membantu kalian," ucapnya membalas tatapanku.
"Apakah itu mungkin? Mengubah dunia yang ada di luar sana, apakah itu mungkin?" Sambungnya kembali menundukkan kepala.
"Karena itulah, dia bisa tahu jika aku ingin menyulut peperangan. Kemampuan yang sangat menakjubkan," ucapku membuang pandangan ke samping.
"Bukan hanya itu, Ratu memiliki sihir yang kuat. Dia menjaga tempat ini agar tak bisa dilihat oleh orang luar dengan sihirnya, kau pasti melihat upacara kelahiran yang dipimpin langsung olehnya?" Ucap perempuan itu, aku kembali mengalihkan pandanganku menatapnya.
"Upacara kelahiran itu, bukan hanya untuk menambah kekuatan Kerajaan kedepannya, akan tetapi juga untuk membentuk ikatan bathin seseorang dengan tempat ini langsung. Aku juga tidak terlalu mengerti, tapi itulah yang terjadi."
"Apa kau?"
"Putriku berusia lima tahun saat musim berganti nanti. Dan aku, tidak ingin membuatnya melangkah meninggalkan tempat ini, terlebih ke dunia luar yang kau pasti paham... Bagaimana berbahayanya itu," ucap Callia kembali menatapku.
"Akan tetapi, aku juga ingin jika kelak Putriku bisa merasakan cinta. Jadi..."
__ADS_1
"Aku akan memperjuangkannya, aku akan memperjuangkan mimpimu itu," ucapku menggenggam telapak tangannya yang terlihat gemetar.