
“Sachi, ada apa ini sebenarnya?” Zeki bergumam pelan sambil menarik lenganku mendekatinya.
“Apa kau melihat laki-laki yang duduk di sana?” Aku balas berbisik saat wajahku bergerak mendekatinya, “dia, kakekku. Ayah, dari Ibuku,” sambungku lagi yang dibalas tatapan tak percaya dari Zeki.
“Apa kau sekarang sedang mencoba untuk menipuku? Dia terlalu muda untuk menjadi Kakekmu,” ucap Zeki, tatapan matanya yang menatapku itu semakin tajam terlihat.
“Zeki, keselamatan kita dan juga keselamatan rakyatku. Bergantung, dari apa yang akan kita lakukan hari ini … Jadi, kau paham apa yang harus kita atau laku-”
Perkataanku terhenti saat kurasakan sesuatu melilit dan menarik tanganku. Aku menoleh ke samping, ke arah pergelangan tanganku yang telah dililit oleh akar merambat dengan bunga-bunga kecil di permukaannya. Pandangan mataku, beralih ke arah kakek yang masih menatap ke arahku.
Aku menunduk dengan meneguk ludah sendiri, tubuhku bergerak ke samping diikuti tanganku yang merangkul lengan Zeki sebelumnya aku tarik kembali. Dengan perlahan, aku berjalan maju mendekati para Elf saat lilitan akar di pergelangan tanganku itu terlepas, lalu merambat ke arah para Elf tersebut.
Langkahku berhenti, tubuhku membungkuk ke arahnya, “kakek, aku telah membawanya sesuai perintah darimu,” ucapku sambil tetap membungkuk.
Aku berbalik, menatap lalu melambaikan tangan ke arah Zeki. Bola mataku membesar menatapnya, saat dia masih diam berdiri, belum menggerakkan sedikit pun tubuhnya. Zeki menundukkan pandangannya dengan menggaruk belakang kepalanya, sebelum kedua kakinya itu berjalan lalu berhenti di dekatku. Aku, mengangkat kembali tubuhku, tanganku bergerak menyentuh belakang lehernya sembari aku kembali membungkuk deangan mendorong belakang leher Zeki agar dia pun ikut membungkuk bersamaku.
“Sachi!”
“Ya, Kakek,” jawabku spontan sambil mengangkat kembali badan menatapnya.
“Berpisahlah dengannya,” ucap Kakek yang membuat kedua mataku membelalak.
Kepalaku tertunduk saat sebuah gundukan akar tumbuh di bawah kakiku, lalu mengangkat tubuhku itu berhenti di hadapan kakek. “Setiap Elf, memiliki Rusa Agung. Kau, pasti tahu hal itu, bukan?”
“Dan lihatlah, apa yang dilakukan Rusa milikmu itu sekarang!” sambung kakek, aku berbalik ke belakang … Menatap rusa kecil yang berdiri, dengan menatap lama ke arah Zeki.
“Rusa Agung, lahir bersama jiwamu. Walaupun, tubuhmu hancur … Rusa Agung, akan selalu hidup di sampingmu selama jiwamu itu akan selalu terlahir kembali. Sekarang, coba kau pejamkan matamu, dan bayangkan tubuhmu dan tubuh Rusa Agungmu itu bersatu!” perintahnya yang tanpa mengedipkan matanya menatapku.
__ADS_1
Aku menarik napas dalam dengan melakukan apa yang ia perintahkan. Kedua mataku kembali terbuka saat kurasakan perasaan yang sangat menyesakkan memenuhi dada. “Kenapa aku, tiba-tiba menangis seperti ini?” bisikku pelan sambil mengangkat tangan mengusap kedua mataku yang tak berhenti mengeluarkan air mata.
“Apa yang terjadi?” ucapku kembali dengan suara bergetar, kakek masih terdiam saat tatapanku yang mengabur itu mengarah kepadanya.
“Saat Ryu, menceritakan apa yang terjadi kepadanya. Rusa milik kakek, memberitahukan hal ini … Memberitahukan, hubungan sesungguhnya antara Rusa Agung dan Tuannya. Kakek, hanya tidak ingin kalian semua terluka,” ungkap kakek sambil membuang pandangannya dariku.
“Apa dia, bukan laki-laki yang baik untukku?”
“Ayah, jangan menakuti cucumu sendiri!” Aku mengangkat pandangan ke arah seorang perempuan yang berjalan mendekati kami.
“Bukan itu, yang dimaksudkan oleh kakekmu, Sachi! Jika pun, dia bukanlah laki-laki yang baik untukmu, Rusa kecil milikmu itu mungkin sudah pergi menjauhinya, bukan malah semakin mendekati laki-laki tersebut,” ungkap bibi kembali, aku turut menoleh kembali ke arah rusa kecil yang sedang menggosokkan kepalanya di samping kaki Zeki yang berdiri.
“Apa kau sudah bertanya kepada Ryu? Bagaimana nasib hubungan kalian berdua di masa lalu?”
Aku menggelengkan kepala saat kata-kata bibi terdengar, “baiklah, perhatikan bibi baik-baik dan jangan mengucapkan sepatah kata pun!”
“Aku mengerti,” balasku ketika bibi berjalan melewati.
Aku membuang pandangan saat Zeki mengalihkan tatapannya kepadaku. Kedua kakinya melangkah semakin mendekati singgasana yang dibangun kakek. “Pulanglah! Sachi, akan tetap di sini. Dia, akan tinggal selamanya bersama kami, manusia … Terlalu berbahaya untuknya.”
“Apa yang kau katakan?” Zeki balas bertanya diikuti kedua matanya yang membesar menatapi bibi.
“Sachi, bukanlah manusia sama sepertimu!”
“Lalu kenapa jika dia bukanlah manusia?!” bentakan Zeki memotong perkataan bibi.
"Jangan bertingkah seakan kalian begitu peduli padanya! Tahu apa kalian dengan semua yang ia alami!" sambung Zeki kembali dengan nada yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.
__ADS_1
"Kumohon Sachi, kembalilah bersamaku," ungkap Zeki sambil mengangkat telapak tangannya ke arahku.
"Kumohon," lanjutnya dengan suara yang terdengar bergetar.
"Jadi seperti itu," tukas bibi, pandangan mataku beralih kepadanya yang tertunduk dengan menarik napas dalam.
"Kembalilah bersamanya, Sachi," kali ini kakek bersuara, pandangannya tertunduk saat kedua mataku itu melirik ke arahnya.
Aku melangkah maju menatapnya, "Zeki, jawab pertanyaan dariku!" ucapku, kakiku kembali melangkah ketika akar yang mengangkatku sebelumnya kembali terbenam ke tanah.
"Aku, tidak akan menjawabnya. Hanya buka kembali gerbang tersebut untuk membawa kami kembali!" pinta Zeki, dia berjalan mendekati sambil meraih dan menggenggam erat pergelangan tanganku.
"Apa kau, sama seperti Ryu? Apa kau, mengingat apa yang terjadi di kehidupan lama?" Aku menoleh ke arah bibi yang tiba-tiba kembali bersuara.
Zeki membuang pandangannya, kedua kakinya kembali berjalan dengan menarikku di belakangnya. Tak ada jawaban darinya, dia terus saja berjalan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Zeki!"
"Aku tidak ingin membahasnya. Kumohon, jangan membahasnya kembali," ucapnya dengan suara gemetar memotong perkataanku.
"Jangan menanggungnya sendirian, kau bodoh!"
Dia turut menghentikan langkahnya lalu berbalik menatapku yang telah terlebih dahulu berhenti melangkah, "tetaplah bersamaku, Sachi," ucapnya yang sedikit melangkah maju lalu memeluk erat tubuhku.
"Jadi itulah kenapa, saat kita dijebak di dalam hutan terlarang. Hanya kau, yang tidak terkejut sama sekali."
"Jadi itulah kenapa, kau selalu memperingatkan aku, agar selalu berhati-hati terutama jika itu menyangkut mata hijau yang aku punya."
__ADS_1
"Jadi itulah kenapa ... Kau seharusnya menceritakan semuanya kepadaku. Aku sudah katakan, untuk jangan menanggung semuanya sendiri ... Kau, bodoh sekali Zeki."
Aku menggigit kuat bibir, berusaha untuk menahan sekuat mungkin tangisan sambil kubenamkan wajahku semakin dalam di dadanya. "Aku mencintaimu. Aku, sudah mengatakannya bukan? Aku mencintaimu, sejak dahulu ... Hingga sekarang," bisiknya parau sambil ikut kurasakan kecupan menyentuh leher.