Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXL


__ADS_3

Laki-laki tadi berjalan semakin mendekati, kutatap wajahnya yang tampak terlihat pucat pasi itu. Berdiri laki-laki tadi di hadapanku, diarahkannya telapak tangan kirinya menyentuh belakang leherku...


"Apa kau Zeki?" ucapku menatapnya, mengangguk pelan ia menjawab pertanyaan dariku.


"Maaf, aku tidak bisa mengingat apapun tentangmu," ucapku dengan suara bergetar, kurasakan pipiku telah basah tanpa sadar.


"Kau kembali dalam keadaan hidup telah cukup untukku," ucapnya seraya menyandarkan kepalanya di pundakku.


"Maaf, harusnya aku tidak meninggalkanmu begitu saja. Maaf, aku gagal melindungimu," ungkapnya kembali dengan suara bergetar, kurasakan air membasahi pundakku tadi.


"Aku telah mengabari kedua kakakmu, mereka akan segera kesini secepatnya," sambungnya, diangkatnya kepalanya dari pundakku sembari lama aku ditatapnya dengan kedua matanya yang membengkak.


"Tidak bisakah kau berhenti menangis? Aku tidak tahu kenapa? Tapi melihatmu seperti itu membuat dadaku sesak," ucapku seraya mengarahkan telapak tanganku di kedua bawah matanya.


"Itu semua karenamu bodoh. Kau benar-benar bodoh sekali," ucapnya seraya meraih kepalaku lalu disandarkannya di dadanya.


"Terima kasih, Julissa," ucapnya dengan suara bergetar.


"Mereka yang telah menemukan dan menyelamatkan Sachi," ikut terdengar suara Julissa dari arah belakangku.


"Terima kasih, terima kasih karena telah menyelamatkannya," ucapnya lagi.


"Apa kepala dan tanganmu baik-baik saja?" ucapnya, kualihkan pandanganku padanya yang menatapku.


"Kepala dan tanganku masih sedikit sakit, terima kasih karena telah menanyakannya."

__ADS_1


"Jadi dia perempuan yang selalu kau cari selama ini Pangeran Zeki?" ucap seorang laki-laki yang duduk bersebelahan dengan Raja.


"Kau benar, aku mencari keberadaannya beberapa tahun terakhir. Terima kasih karena telah membantuku selama ini, Pangeran Miron," ucapnya seraya terus menatapku, diraihnya rambutku oleh jarinya sembari diletakkannya rambutku tadi di telingaku.


"Putri Takaoka Sachi," ucap Raja mengarahkan pandangannya padaku.


Menyingkir laki-laki bernama Zeki tadi seraya berdiri ia di sampingku, kurasakan tepukan pelan darinya di punggungku. Menoleh aku ke arahnya yang dijawab dengan sebuah anggukan darinya.


Melangkah aku melaluinya seraya kembali kulangkahkan kakiku mendekati Raja yang tengah duduk di singgasananya. Kedua kakiku terus melangkah seraya kubuang jauh pandanganku ke samping dengan kepala tertunduk.


"Salam..."


"Tidak perlu melakukannya, kemarilah," ucapnya memotong perkataanku seraya dilambaikannya telapak tangannya padaku.


Beranjak kembali aku berdiri sembari melangkah aku mendekat padanya. Kuhentikan langkahku tepat di sampingnya, kugenggam kembali dengan kuat rok gaun yang aku kenakan dengan sebelah telapak tanganku.


"Aku tahu kau tidak mengingatnya, tapi terima kasih. Julissa telah menceritakan semua kejadian enam tahun yang lalu, dia mengatakan jika kaulah yang telah menyelamatkan mereka semua..."


"Mungkin jika tanpa bantuanmu, anak-anakku tidak ada yang kembali. Ayahmu pasti bangga memiliki Putri sepertimu," ucapnya lagi seraya menatapku dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak tahu apakah aku pantas mengatakan sama-sama atau tidak, karena aku sendiri tidak tahu kejadian apa itu. Tapi, jauh di lubuk hatiku, aku sangat bahagia mendengarnya," ucapku balas tersenyum menatapnya, kugigit dengan pelan ujung bibirku yang gemetar.


"Jika Pangeran Zeki tidak ingin menerimamu, aku dengan senang hati akan menerimamu menjadi menantuku," ungkapnya tersenyum seraya diarahkannya telapak tangannya tadi menyentuh pipiku.


"Sayangnya, aku akan tetap menikahinya apapun yang terjadi," ucap Zeki, kuarahkan pandanganku padanya yang juga menatap ke arahku.

__ADS_1


"Yang Mulia, ada dua orang laki-laki dan satu anak-anak ingin bertemu denganmu," terdengar suara laki-laki diiringi ketukan pintu.


"Persilakan mereka masuk!" teriak Raja menjawab ketukan tadi.


Pintu kembali terbuka perlahan, kutatap Julissa, Amithi, Kabir, Akash, dan juga Chandini yang bergerak meminggir menjauhi pintu tadi. Pandanganku terjatuh pada bayangan dua orang pemuda dengan seorang anak laki-laki di tengah-tengah mereka...


Kuarahkan pandanganku pada salah satu laki-laki yang tertunduk setelah menatapku sedangkan laki-laki lainnya berjalan semakin mendekatiku. Kurasakan tepukan pelan di punggungku, kutatap Raja yang terlihat mengangguk membalas tatapanku.


Menoleh kembali aku ke arah laki-laki tadi, melangkah aku tanpa sadar mendekatinya. Dipeluknya tubuhku dengan kuat olehnya, kurasakan jari-jemarinya yang bergetar ketika menyentuh tubuhku...


Tangisan laki-laki tadi terasa pecah di telingaku, kugerakkan sebelah tanganku memeluk pinggangnya seraya kubenamkan kepalaku di pundaknya. Aku tidak tahu kenapa, akan tetapi... Mendengar tangisannya membuat hatiku sakit.


"Siapa kau? Jangan menangis di dekatku seperti ini, kau membuat hatiku sakit mendengarnya," ucapku hanyut dalam tangisannya, semakin dalam kubenamkan kepalaku di pundaknya.


"Haruki, aku kakakmu Haruki," ucapnya dengan suara bergetar, ditatapnya aku seraya digigitnya pelan bibirnya yang terlihat gemetar.


"Kau adikku, kau adik perempuanku Takaoka Sachi. Kau adik yang selalu kujaga selama lima belas tahun ini," ucapnya seraya menempelkan dahinya ke dahiku.


"Maafkan kakakmu yang tak berguna ini Sachi, aku terlambat menyelamatkanmu. Jika saja kami lebih cepat, kau tidak akan..." ucapnya terhenti, berkali-kali ia meneguk ludah menahan sesenggukan.


"Terima kasih Deus, terima kasih kau menyelamatkan adikku," ucapnya lagi seraya mencium kepalaku berkali-kali.


"Jika kau Haruki, apa dia Izumi?" ucapku seraya mengalihkan pandangan pada laki-laki bermata abu-abu yang berwajah pucat pasi menatapku.


"Kau benar, dia Izumi, kakak keduamu... Katakan padanya..."

__ADS_1


"Izu nii-chan, kemarilah," bisiknya dengan suara bergetar di telingaku.


"Izu nii-chan, kemarilah!" ucapku tersenyum menatapnya, tertunduk ia dengan sebelah lengan menutupi kedua matanya.


__ADS_2