Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXX


__ADS_3

Melangkah aku mengikuti langkah kaki Adinata, dia membawaku menyusuri lapangan Istana dengan laki-laki bernama Lintang yang berjalan di belakangku.


Kutatap kumpulan penuh para Kesatria jauh di hadapanku, tampak beberapa alat berukuran raksasa terbuat dari kayu berdiri di tengah-tengah kerumunan para Kesatria itu. Langkah kaki kami semakin mendekat.


Seorang Kesatria menoleh diikuti Kesatria yang lainnya ke arah kami, membungkuk mereka satu-persatu memberikan hormat kepada Adinata yang berjalan mendekati.


"Yang Mulia," ucap mereka silih berganti, Adinata mengangkat telapak tangannya ke arah mereka, beranjak berdiri para Kesatria tadi satu-persatu.


"Apa kalian telah menyiapkan semuanya?"


"Kami telah menyiapkan semua persenjataan Yang Mulia," ucap salah satu laki-laki.


"Baiklah."


"Hime-sama," ucap Adinata kembali seraya diangkatnya telapak tangannya ke arah dimana senjata-senjata kayu raksasa tersebut berdiri.


"Yang Mulia," ucap para Kesatria tadi serempak, kembali membungkukkan tubuh mereka ke arah kami.


Menoleh aku ke belakang mengikuti pandangan mereka sebelumnya, tampak kulihat Raja Bagaskara, Haruki, Eneas dan Julissa berjalan mendekati kami.


Ikut membungkuk aku memberi hormat padanya, kurasakan tepukan pelan di atas kepalaku. Kuangkat kepalaku kembali, tampak Raja Bagaskara telah berdiri di sampingku.


"Apa ada masalah?"


"Tidak ada, aku hanya baru mau memeriksa senjata apa saja yang mereka punya. Jika aku telah mengetahuinya, aku bisa memikirkan rencana selanjutnya," ucapku membalas perkataan Haruki.


"Dimana Izumi dan Danur?"


"Aku meminta mereka untuk memata-matai musuh bersama Kou, tidak mempunyai informasi lengkap akan siapa yang kita hadapi benar-benar akan menjadi bencana untuk kita," sambungku menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana menurutmu tentang persenjataan yang kami punya?" Ucap Raja Bagaskara, menoleh aku ke arahnya yang juga menatap padaku.


"Entahlah, kalian akan menghadapi mereka di benteng Kerajaan atau sebelum para musuh sampai ke sini? Kalau kalian ingin menghadang musuh sebelum mereka mendekati Kerajaan maka mau tak mau kita harus mempunyai kereta perang," ucapku seraya kugigit pelan ujung ibu jariku.


"Kereta perang? Maksudmu kereta yang membawa peralatan perang," ungkap salah satu Kesatria yang berdiri di hadapan kami.


"Seperti itu, tapi yang dibawa bukanlah peralatan perang melainkan dua atau tiga orang di atasnya," ucapku kembali, seraya tetap kugigit ibu jariku tadi.


"Bukankah lebih bagus jika menggunakan pasukan berkuda?" ucap salah satu laki-laki, menoleh aku ke arah Lintang yang juga menatapku.


"Kau benar, akan tetapi kereta ini akan menghemat waktu kita menghancurkan musuh."


"Apa maksudmu Sa-chan? Jelaskan dengan sedikit lebih jelas!"


"Aku ingin mereka membuat kereta terbuka yang kedua sisi roda dipasang sesuatu yang runcing atau tajam untuk melukai musuh. Kereta itu harus dibawa oleh dua ekor kuda berkualitas bagus, dengan tiga orang Kesatria berdiri di atas kereta, satu Kesatria bertugas menjadi kusirnya sedangkan dua yang lain haruslah membawa masing-masing satu tombak untuk mengeksekusi musuh," ucapku membalas perkataan Haruki.


"Aku mengerti, itu kereta yang selalu kau inginkan ada di Kerajaan kita bukan?"


"Tapi bagaimana caranya kita menyerang musuh menggunakan kereta itu?" terdengar kembali suara laki-laki, menoleh aku ke arah salah satu Kesatria seraya berkali-kali helaan napas keluar dari bibirku.


"Bayangkan!" ucapku seraya berjongkok di hadapan mereka, kuarahkan jari telunjukku menyentuh tanah.


"Di hadapan kalian, banyak sekali pasukan musuh yang berbaris bergerak mendekati," ucapku lagi, seraya kugerakkan jari telunjukku tadi membentuk titik-titik yang sangat banyak jumlahnya di atas tanah.


"Lalu kereta yang aku maksudkan tadi, kugerakkan untuk membelah barisan pasukan musuh," sambungku, kuangkat jari telunjukku tadi seraya kuarahkan kembali hingga membentuk banyak sekali gambar kotak-kotak yang berseberangan dengan titik-titik yang aku buat sebelumnya.


"Kenapa aku meminta kereta tersebut haruslah dibawa oleh kuda terbaik dari yang terbaik? Karena, dengan banyaknya jumlah pasukan akan membuat mereka kesulitan melarikan diri, dengan begitu mereka akan mati terinjak oleh kuda tadi..."


"Jikapun mereka berhasil menyelamatkan diri dari kuda tadi, masih ada sisi tajam yang kita tanam di kedua roda kereta. Jika mereka tidak sempat mengelak, wajah atau tubuh mereka akan langsung terpotong bersamaan dengan semakin cepatnya kereta tersebut melaju..."

__ADS_1


"Dan jika, mereka pun berhasil lolos dari sisi tajam yang ada di kanan dan kiri kereta. Para Kesatria yang memegang tombak sudah siap menghancurkan kepala dan tubuh mereka dari atas kereta. Itupun, kalau kalian juga menyetujui adanya kereta tersebut dan tentu saja, kita tidak mempunyai banyak waktu untuk menunda membuatnya sekarang," ucapku lagi seraya kuangkat kepalaku menatapi mereka.


"Apa yang kalian tunggu, panggil semua pengrajin kayu di Kerajaan kita dan perintahkan mereka datang ke Istana secepatnya!" teriak Adinata seraya dialihkannya pandangan matanya ke depan.


"Baik Yang Mulia," ikut terdengar suara yang keluar serempak di sekitarku, kualihkan pandanganku pada para Kesatria tadi yang telah berbalik dan berlari menjauh.


"Haruki!" ikut terdengar suara Izumi berteriak, kugerakkan kepalaku ke atas... Kutatap tubuh Kou yang terbang pelan semakin mendekati.


Kou merendahkan tubuhnya hampir mendekati tanah, melompat Izumi dan Danurdara dari atas punggungnya. Menoleh Kou ke arahku dengan kedua sayapnya masih digerakkannya membelah udara, mengangguk aku membalas tatapannya... Terbang kembali ia ke udara hingga menghilang dari pandanganku.


"Bagaimana nii-chan?"


"Apa kau mengetahui Kerajaan dengan lambang tiga kelopak bunga?"


"Maksudmu Kerajaan Espen?" ucap Haruki menimpali perkataan Izumi.


"Espen? Aku tidak tahu, tapi yang jelas... Kerajaan itu lah yang berniat menyerang Balawijaya. Ratusan ribu, terdiri dari pasukan pejalan kaki maupun pasukan berkuda."


"Apa kalian pernah bermasalah dengan mereka?" ucap Izumi kembali, diarahkannya tatapan matanya menatap Raja Bagaskara.


"Lebih tepatnya, mereka bermasalah dengan Kerajaan kalian. Kerajaan kalian menyatakan secara terang-terangan untuk tidak mengikuti lagi peraturan yang dibuat Kekaisaran, mungkin mereka berniat menyerang kami karena mereka tahu, kalau kami melakukan kerja sama dengan Kerajaan kalian," ucap Adinata menjawab pertanyaan Izumi.


"Katakan nii-chan, antara Kerajaan yang dimaksud dengan Kerajaan kita, lebih jauh manakah jaraknya untuk mencapai Kerajaan Balawijaya?" ucapku, beranjak aku berdiri seraya kembali kuarahkan pandanganku menatap Haruki.


"Kerajaan kita lebih dekat jaraknya dibandingkan mereka. Apa yang kau pikirkan, Sa-chan?"


"Kalau begitu, katakan Adinata... Apa kalian masih mempunyai buah berduri itu? Maksudku dalam jumlah yang sangat banyak," ungkapku, seraya kualihkan pandanganku menatapnya.


"Tentu, kau bisa mendapatkannya sebanyak apapun," ucap Adinata balas menatapku.

__ADS_1


"Kalau begitu, bawakan aku buah tersebut sebanyak apapun yang bisa kalian dapatkan. Jika kita mempunyai senjata yang ampuh, untuk apa kita menyia-nyiakannya," sambungku seraya berbalik dan tersenyum aku menatapi Raja Bagaskara.


__ADS_2