
"Kou, apa itu kau?" kubalas panggilan tadi menggunakan pikiranku
"Kau benar, My Lord. Ini aku, Kou." tukasnya
"Darimana saja kou? Aku mengkhawatirkanmu."
"Aku kembali dari tempat asalku, My Lord. Maaf, aku meninggalkanmu terlalu lama."
"Apa yang kau lakukan disana?"
"Kau tahu, di dunia manusia... aku tidak mendapatkan cukup banyak sihir."
"Aku tidak akan bisa melindungimu, jika sihirku tidak cukup kuat, My Lord... Aku tidak menyangka, meninggalkanmu sebentar malah mempercepat sihir hitam tersebut menyerang tubuhmu. Maafkan aku."
"Apa maksudmu, Kou?"
"Beberapa bulan terakhir, aku merasakan sihir hitam membayangi kedua kakakmu, My Lord. Dan mungkin tanpa kau sadari, sedikit demi sedikit kau menyerap sihir hitam tersebut..."
"Setiap hari ketika kau menemui ku, aku selalu menghapus sihir hitam tersebut darimu. Akan tetapi, beberapa hari terakhir... kekuatan jahat itu semakin besar dan membuatku sendiri kewalahan..."
"Aku kembali dengan membuka gerbang sihir ke tempat asalku, karena berlama di dunia manusia tidak akan membuat Naga kecil sepertiku tumbuh sempurna... Aku benar-benar menyesal meninggalkanmu." tukasnya, kurasakan udara dingin menyentuh pipiku
"Aku mengerti. Tidak apa-apa, Kou... kau pergi karena mengkhawatirkanku bukan?"
"Aku bertemu seseorang yang mirip sekali denganmu, My Lord."
"Apa maksudmu?"
"Saat aku mencoba bermeditasi mengumpulkan lebih banyak sihir, seorang manusia yang mempunyai wajah sama persis sepertimu muncul di hadapanku..."
"Dia memohon padaku untuk melakukan kontrak akhir denganmu."
"Kontrak akhir?"
"Kontrak awal terjadi saat pertama kali aku melihatmu My Lord, dan hasilnya kita bisa berkomunikasi seperti sekarang. Sedangkan kontrak akhir..."
__ADS_1
"Aku tidak akan melakukannya, tidak akan."
"Itu satu-satunya cara menyelamatkanmu."
"Aku telah membayangkan tentang kontrak akhir yang kau maksud. Lux sedikit pernah menjelaskannya..."
"Aku hanya ingin kau dapat hidup bebas, Kou. Aku tidak ingin mengikat hidupmu dengan hidupku."
"Tapi aku sendiri dilahirkan untuk menjadi pedang dan perisai untukmu, My Lord. Ketika kau mati, walaupun kita tidak melakukan kontrak, aku tetap akan membunuh diriku sendiri... Karena kau, berharga untukku."
"Kumohon, izinkan aku untuk melakukan kontrak akhir denganmu. Jika tidak, aku benar-benar akan kehilanganmu."
"Kou, aku tidak ingin jika ada yang kehilangan nyawanya karena ku."
"Apa kau tidak ingin melihatku lagi, My Lord. Dalam beberapa hari ini, aku telah tumbuh dua kali lipat dari terakhir kali kau lihat."
"Umur Naga lebih panjang dibandingkan umur manusia, kau akan menyesal jika melakukannya."
"Tidak akan."
"Tentu, aku sangat memahaminya."
"Kau bodoh sekali, Kou. Kalian semua bodoh sekali."
"Kau ibuku... Aku hanya ingin melindungi ibuku." ikut kurasakan sapuan dingin yang menyentuh pipiku
"Aku benar-benar ingin memelukmu sekarang..."
"My boy."
"Apa kau bisa membuka mulutmu, My Lord?"
"Aku tidak bisa menggerakkannya."
"Aku mengerti."
__ADS_1
Lidahku entah kenapa kembali berfungsi, terasa tetesan-tetesan dingin menyentuh ujung lidahku. Kembali kurasakan sesuatu tajam nan keras menyentuh ujung bibirku...
Kembali tetesan-tetesan berbau amis tersebut menghujani seluruh sela-sela mulutku, lidahku sendiri terasa sedikit membeku karenanya...
Kurasakan sesuatu menusuk pundak kananku, benda tajam itu terasa bergerak lurus menusuk pundakku. Terasa sakit sekali, tapi entah kenapa? Aku lebih merasakan bahagia dibandingkan apapun...
Sesuatu kasar nan dingin menyapu rasa sakit yang ada di pundakku. Penglihatanku perlahan-lahan mulai kembali, kupandangi hamparan salju yang mengelilingi...
Kualihkan pandangan mataku ke pakaian yang aku kenakan, gaun putih tipis yang aku pakai sama sekali tidak membuatku kedinginan...
Kugerakkan dengan pelan kedua kakiku yang entah kenapa bisa digerakkan seperti biasa, telapak kakiku terasa nyaman sekali membelah salju walau tanpa alas sedikitpun...
Suatu bayangan besar perlahan menghampiriku, semakin dekat dan semakin dekat hingga semakin nampak jelas terlihat...
Kuarahkan kedua lenganku ke arah bayangan besar tersebut, lehernya yang panjang melewati kedua lenganku tadi seraya direndahkannya kepalanya di pundakku. Kupeluk dengan kuat, makhluk putih yang telah aku rawat sejak kecil tersebut...
"Apa kau bahagia sekarang?"
"Tentu, karena aku telah menjadi satu denganmu."
"Aku menyayangimu, Kou. Akan aku pastikan, aku akan bertahan hidup selama mungkin untukmu."
"Akupun, akan menjadi lebih kuat untuk melindungimu."
Tubuhnya yang berada di hadapanku semakin lama semakin menguap menjadi kepingan-kepingan salju. Kuturunkan pelukanku yang memeluk udara kosong, kutatap kepingan-kepingan salju yang semakin lama semakin terbang meninggi tertiup angin...
Kubuka mataku perlahan, pandangan mataku yang awalnya mengabur perlahan demi perlahan membaik. Kutatap langit-langit kamarku yang telah membeku ditutupi es, coba aku beranjak duduk di ranjangku yang juga ikut membeku...
Kutatap seprai tempat tidurku yang ikut membeku, tampak sebuah noda merah terlihat dari balik es yang transparan. Kualihkan pandanganku ke arah dinding kamarku yang roboh, seluruhnya... seluruh sudut kamarku terlihat membeku dengan es transparan yang menyelimuti mereka...
"Apa ini? Apa yang terjadi?" terdengar suara Izumi melintas
Kuarahkan pandangan mataku ke arah lubang besar di dinding kamarku, tampak terlihat Izumi berdiri diam mematung dengan sebuah mangkok di genggamannya...
"Nii-chan." ucapku menatapnya, hendak beranjak aku mendekatinya
__ADS_1
"Kau bodoh, tetaplah disana!" teriak Izumi menatapku khawatir dari kejauhan.