
"Saat kau mulai jatuh cinta padanya
Aku yang berada di sisimu
Diam-diam jatuh cinta padamu
Kau tersenyum seakan tak menyadarinya
Aku yang selalu memperhatikanmu
Apa yang sedang kau lakukan sekarang?
Itu hal yang paling tidak ingin kudengar
Namun akan terus kudengar
Sampai dirimu tak bisa kulihat lagi
Karena itu sedikit lebih baik
Tuk hari ini kulihat kau mengubah gaya rambutmu
Ingin kukatakan itu terlihat cocok untukmu
Sejak awal...
Yang aku inginkan hanya kebahagiaan mu
Dan tidak mengharapkan yang lain
Meskipun kebahagiaan itu bukan bersama denganku
Pada akhirnya...
Agar dirimu tak menyadari perasaanku
Aku akan mendukungmu dari jauh
Tetaplah di sini sebentar lagi
Sebelum aku jatuh cinta seperti ini
Pernahkah ku menggenggam tanganmu
Kuputuskan untuk jatuh cinta padamu
Bahkan jika itu tak menjadi kenyataan
__ADS_1
Aku tidak bisa memberitahumu perasaanku
Perasaanku ini sangat berharga
Aku serius...
Aku merindukanmu
Tapi saat bersamamu sekarang
Membuatku tersiksa
Padahal aku lebih dulu darinya
Yang sangat menyukaimu...
Tetapi besarnya rasa cintaku padamu
Andai kamu memikirkannya
Lagipula, aku memang tidak berguna
Sejak awal..."
Kuhentikan lagu yang aku nyanyikan dengan suara pelan tadi, kuangkat kepalaku ke atas menatap langit yang mulai menggelap. Tampak ikut terlihat sekumpulan burung yang terbang rendah menuju ke rumah mereka masing-masing...
Aahh aku lupa, aku sendirilah yang memintanya pergi sebelumnya.
Kuarahkan pandanganku menatap kosong ke depan, ikut kugerakkan kedua kakiku lurus menyentuh tanah. Pandangan mataku teralihkan pada Izumi yang berjalan dengan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya lengkap dengan sebuah obor menyala di tangannya.
Melangkah ia semakin mendekati lalu duduk ia di sampingku, kubuka penutup kepala yang menyelimuti seluruh wajahku seraya kuletakkan kepalaku bersandar di pundaknya.
"Nii-chan, kau ingin aku menemukan jawaban atas pernyataan yang selalu kau ucapkan dulu..."
"Aku menyadari yang kau maksudkan itu. Apa yang harus aku lakukan?" ucapku lagi dengan suara bergetar seraya kubenamkan kepalaku di pundaknya.
Dipeluknya aku sembari ditepuknya kepalaku pelan beberapa kali, kugigit kuat bibirku sembari telapak tanganku menggenggam erat jubah yang ia kenakan. Semakin dalam kubenamkan kepalaku di pundaknya...
"Sebelas tahun, sebelas tahun sudah aku bersusah payah mendukungnya... Sebelas tahun, aku selalu... selalu mendoakan kebahagiaan untuknya..."
"Tapi saat dia benar-benar bahagia, hatiku sakit sekali melihatnya, nii-chan. Aku manusia yang munafik bukan?" tangisku, semakin kuat genggaman tanganku di jubah yang ia kenakan.
"Aku benci menjadi baik jika akhirnya menyakitkan untukku sendiri, tapi aku tidak bisa bersikap jahat pada orang lain..."
"Apa yang harus aku lakukan nii-chan? Aku tidak berniat menghabiskan waktu sebelas tahun dengannya hanya untuk menyerahkannya pada perempuan lain..."
__ADS_1
"Aku menasehatinya, aku memarahinya jika ia melakukan kesalahan, aku membentuknya menjadi laki-laki yang dapat bersikap dewasa, bukan untuk diserahkan pada perempuan lain..."
"Kenapa? kenapa aku harus menyerahkan laki-laki yang telah aku ciptakan sempurna pada perempuan lain. Aku benci dunia ini, aku benci aturan konyol di dunia ini... Tapi..."
"Aku lebih benci dengan diriku sendiri, aku tidak bisa menyalahkan siapapun karena aku sendirilah yang meninggalkannya terlebih dahulu..."
"Apa kau tahu?" ucapku menatapnya dengan mata berbinar, balik ia menatapku dengan wajahnya yang masih tertutupi.
"Tunangannya sangat baik padaku, dia bahkan membantuku membungkus luka di kedua tanganku. Katakan nii-chan, bagaimana caranya aku membenci perempuan seperti itu?"
Pelukan Izumi semakin erat terasa, ditepuk-tepuknya kepalaku pelan seraya beberapa kali ia mencium rambutku. Kubenamkan kepalaku semakin dalam di dadanya sembari telapak tanganku menggenggam dengan kuat jubahnya kembali...
"Aku ingin pergi dari sini secepatnya nii-chan..."
"Aku tidak ingin berlama-lama di sini, tidak bisakah kita pergi dari sini secepatnya?"
"Kau berkali-kali mengatakan padaku untuk berhati-hati pada laki-laki. Aku menyesalinya..."
"Aku menyesal karena tidak mendengarkan semua perkataan kalian. Aku tidak ingin jatuh cinta jika rasanya akan sesakit ini..."
"Dadaku sesak tiap kali aku melihat mereka bersama, rasanya sakit sekali... Bawa aku pergi dari sini, aku tidak peduli kemanapun hanya jangan bertemu dengannya..."
"Apa kau telah selesai menangis atau aku harus menunggumu lebih lama lagi, Darling?"
"Eh? Darling?" ucapku tanpa sadar, tangisanku terhenti. Kuarahkan kepalaku menatapnya yang telah membuka penutup kepala yang menutupi seluruh wajahnya sebelumnya.
"Zeki?" ucapku menatapnya tak percaya.
"Apa ada orang lain yang memanggilmu Darling selain aku?" ucapnya seraya meletakkan telapak tangannya di atas mataku sembari disapukannya telapak tangannya tadi mengusap air mataku.
"Tapi... Jubah ini?" ucapku seraya memegang jubah yang ia kenakan.
"Punya Izumi, dia meminjamkannya padaku sebagai ganti pukulan yang ia lakukan di wajahku," ungkapnya seraya menunjukkan ujung bibirnya yang terluka padaku.
"Tapi?" balasku yang masih belum bisa menerima kenyataan.
"Aku tahu, kau tidak akan mati semudah itu. Terima kasih telah kembali lagi padaku," ucapnya seraya meletakkan kepalanya di pundakku.
"Aku mencintaimu Takaoka Sachi, aku mencintaimu sejak sebelas tahun yang lalu," ucapnya lagi dengan suara bergetar, dipeluknya pinggangku dengan kuat olehnya.
"Jangan membuat penantian dan usahaku sia-sia, aku melakukan semuanya untukmu. Aku dapat seperti ini karena mu, tolong jangan katakan kau menyerah padaku," sambungnya, diangkatnya kepalanya dari pundakku. Lama ia menatapku seraya sebelah tangannya menyentuh pipiku...
"Apa Izumi yang memintamu untuk menemuiku?"
"Tidak, akulah yang memohon padanya untuk memberikan waktu pada kita berdua berbicara."
"Tapi, bagaimana?"
__ADS_1
"Apa kau pikir aku tidak bisa mengenali tunanganku, pasanganku sendiri yang telah bersamaku selama bertahun-tahun," ucapnya seraya tersenyum menatapku.