
"Tanganmu, berikan tanganmu Putri," ucap laki-laki itu kembali.
Kuangkat sebelah tanganku ke atas sembari sebelah tangan yang lain memegang erat tali yang menjulur tersebut. Laki-laki yang ada di atas kapal itu meraih tanganku lalu menarik tubuhku ke atas...
"Terima kasih," ucapku menoleh ke arahnya saat aku telah berdiri di atas kapal.
Laki-laki tersebut membungkukkan tubuhnya ke arahku. Aku berbalik melangkahkan kaki menjauhinya, Kugerakkan kedua tanganku mengibaskan rambutku yang basah ke belakang lalu bergerak mengusap wajahku menggunakan telapak tangan yang masih basah.
Kutundukkan kepalaku menatap ujung kaki dengan tetesan-tetesan air jatuh yang mengelilinginya dari pakaian basah yang memberatkan tubuhku saat mengenakannya. Berkali-kali juga mulutku terbuka sedikit dengan lidah yang kadang keluar karena rasa asin dari air laut yang masih menempel di seluruh mulutku...
"Sachi, apa yang terjadi?" Suara Yoona terdengar, aku berbalik menatapnya yang telah berjalan keluar dari sebuah pintu.
"Aku tak sengaja tercebur ke laut," ucapku berjalan mendekatinya.
"Aku keluar karena mendengar suara ramai. Apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja," ucapku menatapnya saat dia menyentuh pundakku.
"Kau yakin?"
"Serius, aku baik-baik saja. Aku ingin segera mengganti pakaian, dan juga Yoona... Bisakah kau merahasiakannya? Aku tidak ingin, mereka mengkhawatirkan ku," ucapku melirik ke arahnya, Yoona mengangguk membalas perkataanku padanya.
"Terima kasih," ucapku kembali sembari kulangkahkan kaki meninggalkannya.
__________________
"Apa mereka belum kembali?" Ucapku pada seorang perompak yang membawakan dua buah piring besar berisi daging di kedua tangannya.
"Belum Putri. Kemungkinan besok baru mereka akan kembali," ucapnya meletakkan dua buah piring tersebut di atas meja yang ada di hadapan.
"Benarkah, terima kasih," ucapku menatapnya, dia mengangguk lalu melangkah ke luar ruangan.
"Eneas. Ada apa denganmu?" Ungkap ku melirik ke arahnya yang hanya duduk diam dengan pandangan menatap lurus pada tumpukan makanan yang ada di hadapannya.
"Aku dengar dari beberapa laki-laki yang ada di luar. Jika siang tadi, nee-chan hampir tenggelam di laut. Maaf, harusnya aku menjagamu, bukannya melarikan diri lalu bersembunyi karena kesal," sambungnya sambil tetap mengalihkan pandangannya dariku.
"Jangan terlalu dipikirkan, aku pun... Ikut merasakan kekesalan yang kau rasakan," ungkap ku ikut mengarahkan pandangan pada secangkir penuh air yang ada di hadapanku.
__ADS_1
"Aku benar-benar iri dengan hubungan kekeluargaan kalian," ucap Yoona menatap kami dari tempat duduknya.
"Benarkah? Aku mungkin hanya sedikit terberkati dengan lahir sebagai Putri Kerajaan Sora. Kau pun, pasti akan mendapatkan kebahagiaan mu sendiri nantinya Yoona..."
"Aku juga akan mendoakan kebahagiaan mu," ucapku kembali tersenyum menatapnya.
_______________________
"My Lord... My Lord."
Suara Kou kembali terngiang di kepalaku, kubuka kembali mataku yang hampir terlelap tadi sembari kugerakkan tubuhku mencoba beranjak duduk. Aku menunduk ke samping seraya sebelah tanganku menepuk-nepuk pelan kepala Cia yang tertidur pulas di sampingku.
"Kou?" Ucapku pelan seraya tubuhku beranjak berdiri di samping ranjang.
Pikiranku teralihkan, suara nyanyian dari luar menggerakkan tubuhku berjalan mendekati jendela. Air laut yang ada di luar tampak goyang bergelombang pelan di hadapan...
Aku berbalik lalu melangkah mendekati pintu kamar, dengan cepat kubuka pintu kamar tadi dengan sebelah tanganku. Suara itu masih terdengar, bahkan semakin jelas terdengar saat pintu berwarna cokelat itu berada di hadapanku...
Aku semakin cepat berlari mendekati pintu tadi, menaiki tangga yang ada di hadapannya. Langkah kakiku terhenti saat angin laut menerbangkan rambutku yang tergerai, mataku membelalak saat pandangan mataku terjatuh...
"Eneas!" Teriakku saat kutatap ia yang telah berdiri di samping badan kapal.
"Eneas!" Sambungku berteriak, kedua kakiku semakin cepat berlari mendekatinya saat ia menggerakkan kakinya maju ke depan.
"Eneas!"
Aku kembali berteriak, kali ini lebih kencang saat ia menjatuhkan dirinya ke dalam laut. Kugerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, tak ada Eneas... Aku tidak menemukan Eneas, yang ada hanya hamparan air laut yang bergelombang pelan menggoyangkan kapal.
Aku melompat masuk ke dalam air, rasa perih yang menusuk mata saat air laut menyentuhnya tak aku gubris sama sekali. Tubuhku semakin menyelam ke dalam air, lalu berenang naik kembali ke permukaan...
"Eneas!" Teriakku lagi, aku bergerak menoleh ke kanan dan juga kiri bergantian mencoba mencarinya.
"Sachi, apa yang kau lakukan?" Suara Lux tiba-tiba terdengar, kugerakkan kepalaku berbalik menatap pandangan kosong akibat gelapnya keadaan sekitar.
"Lux. Di mana kau?" Ucapku sembari kugerakkan kembali kepalaku menoleh ke sembarang arah.
"Aku di hadapanmu. Apa yang kau lakukan?"
__ADS_1
"Lux. Eneas, Eneas... Aku tidak bisa menemukannya," ucapku dengan suara bergetar.
"A-apa yang harus aku lakukan," ucapku kembali, aku berbalik menoleh ke belakang dengan sebelah tanganku menutupi dahi.
"Tenangkan dirimu Sachi. Tenanglah," ucapnya di samping telingaku.
"Eneas!" Teriakku lebih kuat, beberapa kali aku terbatuk-batuk olehnya.
"My Lord... My Lord," suara Kou kembali terdengar di kepalaku.
"Panggil aku," ucapnya kembali terdengar di kepala.
"Kou, kumohon datanglah. Aku membutuhkan bantuanmu," ucapku pelan dengan nada suara yang terdengar bergetar.
Tubuhku terangkat di udara dengan tiba-tiba, diikuti udara dingin yang berembus di punggungku. Aku menoleh ke belakang sembari berusaha melirik ke sebuah sayap putih yang mengepak-ngepak di belakangku.
Tubuhku terhenti di atas kapal sembari dengan perlahan kakiku kembali menapaki lantai kapal. Aku berbalik lalu terjatuh ke depan oleh kapal yang tak henti-hentinya bergoyang.
Kutatap Kou yang terbang menatapku, kepakan sayap yang ia lakukan semakin membuat kapal itu semakin bergoyang. Kou terbang mundur dengan mengepakkan sayapnya lebih kuat dibanding sebelumnya.
Kapal semakin kuat bergoyang, aku kembali terjatuh saat kehilangan keseimbangan olehnya. Kou menatapku dari kejauhan, binar matanya yang merah menyala tampak jelas terlihat di kegelapan malam. Kapal yang kami naiki bergerak kuat ke kiri, aku terjungkal ke belakang lalu terhenti menabrak dinding kapal saat Kou bergerak cepat memasuki laut.
"Putri!"
"Yang Mulia!"
"Nona!"
Teriakan-teriakan itu membuat pandanganku teralihkan, aku menggerakkan kepalaku menoleh ke arah mereka yang satu-persatu muncul dari dalam pintu. Mereka bergantian berlari ke arahku, beberapa dari mereka bahkan ada yang berjalan mendekati sisi seberang kapal.
"Yang Mulia, apa kau baik-baik saja?" Ucap seorang laki-laki paruh baya berlutut di hadapanku. Kuraih tangannya, ia beranjak berdiri sembari sebelah tangannya yang lain membantuku ikut berdiri.
"Apa kau melihatnya?"
"Hewan apa itu?"
"Apa kau melihat sayapnya?"
__ADS_1
"Apa kau memperhatikan matanya?" Ucapan-ucapan tersebut semakin sering keluar di antara kumpulan para laki-laki yang berdiri di hadapan.