
"Kau, ingin memimpin pertarungan? Perempuan sepertimu?"
Menoleh aku ke arah Putri Khang Hue yang masih sesenggukan, ikut dibalasnya tatapan mataku olehnya. Berbalik aku menghadapnya dengan kedua lengan kusilangkan ke dada, berkali-kali helaan napasku keluar saat menatapnya...
"Apa kau tahu Kerajaan Paloma?"
"Adikku Sachi, memimpin empat ribu pasukan menjaga gerbang utama saat pemberontakan terjadi di sana. Dan tanpa kehilangan satupun Kesatria di bawah pimpinannya," ucap Izumi kembali, kutatap dia yang masih menatap lurus ke depan.
"Apa kau pikir aku akan mempercayainya?"
"Sachi, menyelamatkan nyawa kami semua saat kejadian enam tahun yang lalu. Jika saja tidak ada dia di sana, aku, Adikku, Julissa bahkan Zeki, sudah tinggal sebuah nama," sambung Adinata menjawab pertanyaan Putri Khang Hue.
"Apa yang dikatakan Adikku benar Raja, berikan kami beberapa ribu pasukan di bawah pimpinan kami. Lagipun, tujuan kami datang ke sini... Bukan hanya ingin menghadiri upacara pernikahan saja melainkan, kami juga ingin mengajak Kerajaan kalian menjadi sekutu," ucapnya, kualihkan pandanganku pada Haruki yang tengah membalas tatapan Raja.
"Sekutu?" ucapnya membalas perkataan Haruki.
"Kau benar, tapi sebelum itu... Bisakah kau pergi dari sini, aku tidak ingin seseorang yang tidak berkepentingan ikut dalam masalah kami," ucap Haruki kembali seraya berbalik ia menatap Putri Khang Hue.
"Kau ingin mengusirku? Aku juga seorang..."
"Aydin!" Haruki meninggikan nada suaranya, ditatapnya Aydin yang tengah berdiri dengan Emre berserta Erol di belakangnya.
"Emre, Erol, bawa perempuan itu sejauh mungkin dari sini!"
Kembali kualihkan pandanganku pada Emre dan juga Erol yang berbalik berjalan mendekati Putri Khang Hue, kutatap Putri Khang Hue yang mundur beberapa langkah saat Emre berjalan semakin mendekatinya...
__ADS_1
Berjongkok Emre dihadapannya dengan kedua tangannya diangkat dan melingkar di paha Putri Khang Hue, kutatap Emre yang berdiri dengan menggendong Putri Khang Hue di pundaknya.
Berjalan mereka mendekati pintu, Erol mengetukkan tangannya ke pintu seraya mundur ia beberapa langkah. Pintu berdaun dua tadi terbuka sedikit, melangkah keluar mereka dari dalam ruangan...
"Siapa kau? Dan jelaskan yang kau maksudkan dengan sekutu," terdengar kembali suara laki-laki, berbalik menoleh aku ke arah Raja yang menatapi Kakakku dari atas singgasananya.
"Takaoka Haruki, Pangeran pertama Kerajaan Sora. Aku ingin mengajak Kerajaan Balawijaya menjadi sekutu kami menghancurkan Kekaisaran," ucap Haruki berdiri tegap di hadapannya.
"Menghancurkan Kekaisaran?" sambung salah satu laki-laki yang berdiri di samping Raja.
"Aku memang sedikit muak pada Kekaisaran karena mereka hampir membunuh kedua Putraku. Tapi apa alasan kalian ingin menghancurkannya?" ucap Raja seraya diletakkannya sebelah tangannya di lengan kursi itu menopang dagunya.
"Keluarga kami hancur karenanya, ibu-ibu kami harus mati di tangannya. Dan juga..."
"Kekaisaran juga mengirimkan Monster untuk memusnahkan kami, Kaisar pengecut itu... Aku ingin sekali mengulitinya," sambung Aydin menimpali perkataan Haruki.
"Aydin, pemimpin perompak Metin. Tidak ada yang tidak mengenal kami, aku benar bukan Yang Mulia," ucapnya kembali, menoleh aku ke arah Aydin yang menyeringai menatap Raja.
"Perompak Metin?" ucap Raja seraya diangkatnya wajahnya dari telapak tangan yang menopang dagunya tadi.
"Aku memutuskan menjadi sekutu mereka, karena mau tidak mau aku harus mengakui jika mereka telah menyelamatkan kami semua. Aku benar bukan Putri?" ucapnya seraya tersenyum menatapku, pandangan mataku teralihkan oleh Zeki yang berjalan dan berdiri menutupi Aydin dari pandanganku.
"Jika kalian menolak untuk bergabung, aku akan menghancurkan setiap Kapal milik kalian yang melintasi lautan," ungkapnya kembali.
"Kalian bahkan berhasil membuat perompak bergabung bersama kalian?" ucap Raja kembali mengalihkan pandangannya pada Haruki.
__ADS_1
"Bukan hanya perompak, Kerajaan Paloma, Leta bahkan Yadgar, telah bergabung, dan tentu saja... Kerajaan Sora pun akan ikut di dalamnya," ungkap Haruki padanya.
"Apa kalian yakin dapat menghancurkan Kekaisaran? Anak-anakku dulu pernah bercerita jika kalian hampir mati dikejar oleh Monster-monster milik Kaisar," sambungnya kembali.
"Kami hanya tinggal mencari makhluk-makhluk seperti yang ia punya, maksudnya... Kami telah mempunyai seekor Naga dan juga Peri di pihak kami," ucap Haruki padanya.
"Naga? Peri?"
"Lux, keluarlah!" ucap Haruki, kualihkan pandanganku pada Lux yang terbang keluar dari tas yang dibawa Eneas ke telapak tangan Haruki.
"Naga? Adikku Sachi dapat memanggilnya sekarang jika kau ingin," ucap Haruki lagi padanya.
Kualihkan pandanganku pada Raja yang tertawa terbahak-bahak di atas singgasananya. Sesekali diangkatnya ujung jarinya mengusap ujung matanya...
"Kalian sama persis seperti yang dikatakan Raja Takaoka Kudou..."
"Ketiga anakku, akan melakukan apapun untuk mencapai tujuan mereka, karena itu... Sebagai Ayah, aku harus selalu mendukung dan mengawasi mereka. Dan beruntungnya, mereka bertiga mewarisi watak ketiga Ibu mereka..."
"Seperti itulah, kata-kata yang diucapkan olehnya tiga tahun yang lalu," sambung Raja tersenyum menatapi kami bergantian.
"Jauh sebelum kalian datang dan menawarkan untuk bersekutu, aku sendirilah yang telah menemui Ayah kalian untuk berkerja sama dengannya..."
"Beraninya Kaisar ingin membunuh kedua Putraku, aku membesarkan kedua Putraku bukan untuk dijadikan makanan untuk makhluk menjijikan yang ia punya," ucap Raja kembali dengan nada bicara yang seketika berubah, kualihkan pandanganku pada kedua tangannya yang ia genggam dengan erat.
"Bagaskara Pangestu, Raja dari Kerajaan Balawijaya. Memberikan izin kepada kalian, untuk mengambil-alih pasukan Kerajaan Balawijaya di bawah pimpinan kalian..."
__ADS_1
"Pastikan, bawa semua kemenangan besar untukku," ucapnya lagi seraya tersenyum menatapi kami bergantian.