Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXLIX


__ADS_3

“Ada apa, Eneas?” Tanyaku dengan berenang mendekatinya.


“Dia, tidak ingin jika aku mendekatinya,” jawab Eneas dengan menarik tangannya kembali dari Hippocampus yang ada di hadapannya.


Aku beralih, menatap Hippocampus berwarna biru yang selalu bergerak mundur ketika Eneas mendekatinya. “Kou, apa kau mengetahui apa yang terjadi?” Gumamku kembali menatap Eneas dan hewan tersebut bergantian.


“Hewan itu, adalah hewan yang hanya dikhususkan untuk para Duyung. Sedangkan, Eneas sendiri … Jiwanya pernah ditahan oleh aanjing.”


“Maksudmu, Selkie?”


“Aku tidak terlalu mengetahui makhluk dari ras apa dia, yang aku tahu, jika dia adalah aanjing,” timpal Kou kepadaku.


“Karena sihir Selkie itu, masih tersisa di dalam tubuh Eneas. Jadi dia, tidak akan bisa melakukan kontrak dengan para kuda itu. Seperti itu, yang dikatakan oleh Raja Duyung kepadaku,” sambung Kou kembali.


“Apa tidak ada cara lain untuk melakukannya?”


“Kuda itu, akan mati jika kau masih memaksanya untuk melakukan hal itu. Karena ikan dan aanjing itu, saling berlawanan.” Aku terdiam ketika kata-kata terakhir yang Kou ucapkan terngiang di kepalaku.


Aku melirik ke arah Eneas yang masih menatapi Hippocampus yang ada di hadapannya itu, “kau tidak bisa melakukan kontrak dengan salah satu di antara mereka, Eneas. Sihir milik makhluk yang memenjarakan nyawamu dulu, masih tersisa dan itu jadi alasan terbesar, kenapa dia menolakmu,” ungkapku yang membuat Eneas menoleh.


Eneas melirik ke kiri, “benarkah? Jika memang benar begitu, aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Aku, akan menemui Lux di permukaan,” ucapnya berbalik lalu berenang menjauh.


“Apa kuda ini mati?”


Aku beralih menatap Izumi lalu berenang mendekatinya, “nama apa yang kau berikan padanya, nii-chan?” Tanyaku dengan berhenti berenang di sampingnya.


“Karena tubuhnya banyak sekali warna, jadi aku menamainya Pelangi,” tukas Izumi mengarahkan jari telunjuknya menyentuh kepala Hippocampus yang berbaring tak sadarkan diri di dekatnya.

__ADS_1


“Pe- Pelangi? Kau, memang tidak bisa memberikan nama yang baik, nii-chan.”


“Jangan katakan hal tersebut kepadaku,” ungkap Izumi berbalik menatapku, “kau saja memberikannya nama Kuro, hanya karena tubuhnya berwarna hitam,” gerutunya dengan menunjuk ke arah Kuro.


“Aku melakukannya karena aku tidak tahu jika aku akan melakukan kontrak. Lagi pun, Kuro bukanlah nama yang buruk,” ungkapku sambil berenang kembali mendekati Kuro.


“Sachi, apa dia mati? Aku meletakkan tanganku di keningnya lalu memberikan nama untuknya, tapi dia tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri,” tukas suara Izumi di belakangku.


“Memang seperti itu, nii-chan, Kita harus menunggunya, jika dia kembali sadar … Dia akan menjadi hewanmu, jika dia tak sadarkan diri kembali, kalian memang tak ditakdirkan bersama,” jawabku tanpa menoleh sedikit pun padanya.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”


“Tidak ada, kita akan menginap di pinggir pantai malam ini. Besok, kita baru akan melanjutkan perjalanan,” ungkapku sembari berenang mendekati Haruki, “nii-chan, apa kau belum melakukannya?” Tanyaku kepadanya yang terlihat mengusap-usap leher Hippocampus yang ada di hadapannya.


“Aku telah melakukannya, aku memberinya nama Grissham, yang berartikan ‘dari tanah yang memberikan kebahagian’,” ucap Haruki dengan kembali mengelus kepala Hippocampus berwarna perak itu.


Dia, melakukannya? Tapi, hewan itu baik-baik saja?


“Kou, apa yang terjadi?” Aku kembali bergumam dengan tetap mengarahkan pandangan kepada Haruki berserta Hippocampus yang ada di hadapannya itu.


Aku menunggu jawaban yang tak kunjung keluar dari Kou, “ada seseorang yang memang terlahir menjadi seorang pemimpin. Layaknya pemimpin pada umunya, dia akan dengan sangat mudah menaklukan apa pun, mungkin Haruki … Salah satu dari yang aku maksudkan,” ucapnya yang tiba-tiba kembali terdengar di pikiran.


Aku mengalihkan pandangan kepada Haruki dan Izumi yang telah berenang kembali mendekati daratan, “jika yang kau katakan itu benar. Bukankah, dia yang lebih pantas menjalin kontrak denganmu, Kou,” bisikku dengan masih mengarahkan pandangan kepada mereka berdua.


“Apa kau, tidak menyadarinya, My Lord?”


“Kau pun, terlahir sebagai pemimpin. Saat kau mengeluarkan sebuah perintah, mereka akan menurutinya tanpa ragu sedikit pun. Kau hanya belum menyadari betapa mengagumkannya dirimu, My Lord. Karena Naga, memilih sendiri Tuan yang mereka anggap pantas untuk dilayani, dan bagiku … Kau adalah manusia yang paling pantas,” sambungnya kembali padaku.

__ADS_1


“Kata-katamu benar-benar menenangkan pikiran. Seperti yang diharapkan dari Naga yang aku besarkan,” ucapku pelan sambil berenang menyusul Haruki dan juga Izumi yang semakin menjauh.


Aku memunculkan kembali kepalaku ke atas permukaan air, aku mengangkat sebelah lenganku mengusap wajah saat kedua kakiku melangkah mendekati daratan. “Aku lapar sekali,” ungkap Izumi yang telah berbaring terlentang di bibir pantai.


Aku berjalan mendekati mereka, “apa kalian melihat di mana Lux?” Tanyaku dengan ikut duduk di samping Izumi.


“Saat aku sudah kembali lagi ke daratan, aku sudah tidak melihatnya,” aku menoleh ke arah Eneas yang menimpali perkataanku.


Aku mengarahkan pandangan ke sekitar, tak ada yang dapat aku temukan kecuali pohon kelapa yang berbaris di sekitar. Aku melirik ke samping saat tanganku terasa menyentuh sesuatu, “buah kelapa?” Gumamku sambil meraih buah kelapa yang ada di samping tanganku tadi.


Aku lagi-lagi mengangkat pandangan tatkala beberapa buah kelapa menggelinding mendekatiku, “aku tidak bisa mendapatkan makanan yang dapat kita makan kecuali kelapa ini,” tukas suara Lux diikuti bayangan kecil yang terbang mendekat.


“Kau mencarikan kami makanan, Lux?” Aku melirik ke arah Izumi yang telah beranjak duduk di samping.


“Kalian belum makan dari kemarin bukan? Lagi pun, hanya itu yang dapat aku lakukan,” jawab Lux dengan mendaratkan tubuhnya duduk di salah satu buah kelapa yang ada.


“Berikan kelapanya padaku,” aku menoleh ke arah Haruki dengan pedang di genggamannya yang aku ambil saat di terowongan.


Izumi menggelindingkan satu per satu kelapa itu ke arah Haruki, Haruki meraih salah satu kelapa lalu mengupasnya dengan pedang yang ada di tangannya. “Apa menurutmu kita akan baik-baik saja?” Tanya Izumi yang beranjak dengan melangkahkan kakinya mendekati Haruki.


“Kita akan baik-baik saja selama menghindari Kaisar. Hanya saja, aku tidak terlalu mengerti cara menentukan arah di lautan,” sambung Haruki dengan kembali melayangkan pedang yang ada di tangannya itu ke atas kelapa.


“Kita hanya harus ke Utara bukan? Jika benar, kita hanya akan berpatokan pada rasi bintang Ursa Mayor,” ucapku dengan beranjak lalu duduk di dekat mereka.


Aku membuat tujuh buah titik membentuk sebuah gayung di atas pasir, “kita hanya harus mencarinya, lalu bergerak ke arah di mana bintang itu ada. Dengan begitu, kita akan sampai ke Utara,” ungkapku meraih sebutir kelapa yang Haruki berikan padaku.


“Aku mengerti. Isi tenaga terlebih dahulu, perjalanan kita masihlah panjang,” sambungnya dengan kembali meraih satu butir kelapa yang ada di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2