Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXXVI


__ADS_3

Aku sedikit terhentak saat kurasakan sesuatu menyentuh tanganku, kubuka perlahan kedua mataku sembari kepalaku bergerak sedikit beranjak dari atas jerami yang ada di atas ranjang. Sebelah tanganku bergerak mengusap sisa-sisa jerami yang sedikit menempel di pipi, “nii-chan,” ucapku pelan, tubuhku segera beranjak saat kutatap telapak tangan Haruki bergerak.


Aku duduk di samping Haruki yang berbaring, kedua matanya masih terpejam … Hanya kepalanya saja yang bergerak ke kanan dan ke kiri diikuti gumaman yang terdengar pelan darinya, “nii-chan,” ucapku lagi, kugerakan telapak tanganku mengusap keningnya yang penuh akan keringat.


“Panas sekali,” ucapku pelan saat kutarik kembali telapak tanganku tadi dari keningnya, “ibu,” suara Haruki terdengar diikuti sesuatu menarik pergelangan tanganku, "kau datang Ibu?” Ucapnya kembali pelan diikuti kedua matanya yang terbuka lalu menutup kembali.


“Ibu, maafkan Haruki,” sambungnya kembali memejamkan kedua matanya, pergelangan tanganku yang ia genggam tadi bergerak ditariknya hingga telapak tanganku menyentuh keningnya yang hangat itu.


Aku kembali beranjak berdiri dari ranjang, kedua kakiku berjalan mendekati meja kecil yang ada di samping pintu kamar. Kuraih mangkuk berisi air dan kain putih dengan tangan kananku sedangkan tangan kiriku bergerak meraih mangkuk berisi ramuan obat yang diberikan Lux sebelumnya.


Kedua kakiku kembali melangkah mendekati ranjang seraya kuletakan mangkuk berisi kain dan air tadi ke bawah ranjang tersebut. “Haru nii-chan, aku mambawakanmu obat,” ucapku pelan sembari tubuhku kembali duduk di sampingnya.


Aku meletakan mangkuk berisi ramuan obat tadi di atas tumpukan jerami seraya kuraih kepala Haruki menggunakan kedua tanganku. Tangan kananku kembali meraih mangkuk tadi sedangkan tangan kiriku memangku kepala Haruki, aku mendekatkan mangkuk tadi menyentuh bibir Haruki dengan perlahan kutuangkan ramuan obat yang ada di dalam mangkuk tadi mengalir di sela-sela bibirnya.


Aku kembali meletakan mangkuk yang telah kosong tadi ke samping, kuangkat telapak tanganku mengusap ujung bibirnya yang masih basah oleh ramuan obat tadi. Aku kembali membaringkan kepala Haruki di atas lipatan kain yang menjadi bantalnya, kutatap dia yang masih lelap memejamkan matanya itu.


_____________

__ADS_1


“Sachi, Sachi, Sachi,” suara itu terdengar cepat di telingaku, “bangunlah, bangunlah, bangunlah,” suara itu kembali muncul, bahkan lebih keras terdengar dibanding sebelumnya.


Aku sedikit membuka kedua mataku, kutatap bayangan Izumi yang sedikit mengabur di pandangan, “Izu nii-chan,” ucapku beranjak duduk diikuti mulutku yang menguap lebar.


“Haru-nii,” ucapku kembali saat kutatap dia yang telah duduk dengan gelas bambu di tangannya, “apa kau baik-baik saja nii-chan?” Tanyaku kembali, kugerakan telapak tanganku menyentuh keningnya. “Aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” Haruki tersenyum menatapku dengan bibirnya yang masih pucat pasi terlihat.


“Kau membuatku takut setengah mati nii-chan,” ucapku dengan suara bergetar, kugerakan telapak tanganku mengusap kedua mataku yang tertunduk.


“Kau kenapa, Sa-chan?” Ungkapnya, kurasakan cubitan kuat di pipiku yang dilakukan olehnya, “itu karena kalian selalu membuatku khawatir, Jika lelah katakan lelah, jika sakit katakan sakit … Jangan membohongi diri sendiri,” ucapku kembali menatapnya.


“Apa yang sebenarnya kau maksudkan?” Tanyanya melepaskan cubitan yang ia lakukan di pipiku, masih kutatap Haruki yang mengarahkan pandangannya pada gelas bambu yang ia letakan di atas pahanya, “aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi nii-chan … Kau berharga untukku. Jika ada seseorang yang mengatakan jika Kakakku ini tidak berguna, aku sendirilah … Yang akan menghabisi nyawanya,” ucapku yang dibalas dengan tertawa kecil yang ia lakukan.


“Apa yang kau maksudkan Haruki?” Izumi bergerak duduk di samping ranjang seraya pandangan matanya masih tertuju pada Haruki, “bukan apa-apa. Hanya sesuatu yang sangat ingin aku lupakan,” ucapnya kembali tertunduk.


“Sesuatu?” Izumi kembali bertanya padanya, “apakah aku harus menceritakannya?” Haruki menoleh ke arah kami bergantian, aku mengangguk mengikuti Izumi yang juga telah menganggukan kepalanya.


Haruki kembali tertunduk diikuti helaan napas yang keluar darinya, “kalian pasti telah mengetahui bukan? Jika dari kecil aku telah dikutuk?” Haruki kembali membuka suaranya, “jadi, ketika ibunya Izumi meninggal, Mari dan pelayannya selalu mengunjungi Istana yang aku tinggali. Maksudku, mereka selalu berjalan di sekitar Istana hingga jika mereka berbicara, suara mereka dapat terdengar ke dalam kamarku,” ucap Haruki kembali tertunduk.

__ADS_1


“Mereka selalu mengatakan jika aku, anak yang tidak berguna, atau Pangeran yang seharusnya tidak hidup. Jujur, saat itu aku sangatlah terpengaruh dengan semua perkataan dari mereka yang terdengar di telingaku. Karena itu juga, aku membenci Izumi saat kecil … Maafkan aku, Izumi,” ucap Haruki dengan suara yang terdengar pelan.


“Aku sudah katakan bukan? Aku tidak pernah marah akan semua perbuatanmu dulu,” ucap Izumi membalas perkataan Haruki, “dan untukmu Sachi, maafkan aku,” ucapnya, aku sedikit mengerutkan kening menatapnya, “maaf, maaf untuk apa? Kau tidak pernah melakukan ke...”


“Aku melakukan kesalahan, kesalahan yang sangat besar,” ucap Haruki memotong perkataanku.


“Karena kesembuhanku, harus dibayar dengan kematian Ibu,” ucapnya meminum air yang ada di dalam gelas bambu yang ia pegang, “apa yang kau katakan, Haruki? Kau tahu sendiri jika itu bukanlah kesalahanmu,” Izumi membalas perkataannya.


“ Aku sembuh sejak kematian Ibu, bukankah aneh? Aku merasa seperti, aku merebut nyawanya,” genggaman Haruki di gelas bambu tersebut semakin menguat, “aku, tidak benar-benar menyayanginya selama dia hidup. Aku, tidak benar-benar menganggapnya sebagai Ibuku selama dia hidup … Aku menyesal,” ucapnya tertunduk.


“Aku menyesal baru menyadari semuanya saat dia telah meninggal, aku ingin sekali memutar waktu untuk meminta maaf padanya. Aku bukan anak yang baik, aku bukan kakak yang baik, aku tahu … Jika aku tidak berguna, maafkan aku. Kumohon maafkan aku,” ucapnya kembali tertunduk.


“Haru-chan, dia akan sedih jika melihat Putra kesayangannya bermuram seperti itu,” ucap Izumi membaringkan tubuhnya di atas kaki Haruki, “kapan kita akan keluar dari lingkaran hitam ini?” Izumi kembali berbicara dengan mengarahkan kepalanya ke atas.


“Mungkin semuanya akan berakhir saat kedua Kakakku menikah,” ucapku yang dibalas tatapan oleh mereka berdua, “aku ingin melihat kedua kakakku bahagia. Aku ingin kedua kakakku menemukan kebahagiaan mereka, entah sudah berapa kali aku berdoa seperti itu,” sambungku tersenyum menatap mereka.


“Deus, jaga Ayahku, berikan dia usia yang panjang agar kami bisa selalu bersamanya. Deus, berilah kebahagian yang banyak untuk Kakakku Haruki, rangkul dia dan berikan dia semangat setiap kali kami, adiknya menggantungkan harapan padanya. Deus, tolong bantu aku mengawasi Kakakku Izumi, berikan dia kekuatan dan juga semangat yang banyak, agar dapat merangkul kami semua. Deus, kumohon jaga keluargaku, berikan mereka kebahagian, dan izinkan kami untuk selalu bersama, mereka … Sumber semangat untukku,” ucapku kembali menurunkan kedua tanganku yang saling menempel di depan dada.

__ADS_1


“Apakah itu doa yang kau sebutkan sebelumnya,” ucap Izumi, aku mengangguk membalas perkataannya, “aku selalu mendoakan kalian seperti itu, jadi … Tetaplah bahagia untuk adikmu ini, Kakak,” aku kembali mengangkat wajahku menatapi mereka bergantian.


__ADS_2