Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXXXI


__ADS_3

"Lepaskan aku!" Teriak laki-laki tua itu, ekornya bergerak cepat memukul lengan Kou yang mencengkeram tubuhnya.


"Sachi, kumohon lepaskan Kakekku. Aku tahu dia salah, tapi kumohon lepaskan dia," Ebe berenang mendekati.


"Aku sudah menahan diri Ebe. Kakekmu hampir mencelakai semua teman dan juga keluargaku. Apa kau pikir aku akan memaafkannya?" Ucapku membalas tatapannya.


"Lepaskan Kakekku! Kalian para manusia yang tidak tahu berterima kasih!" Teriakan suara laki-laki tiba-tiba terdengar, aku berbalik melirik ke arah Dekka yang telah berenang di samping Ebe.


"Tanyakan hal itu pada Kakekmu! Aku sudah berniat akan meninggalkan tempat ini, tapi kalian malah menyerang kami." Ucapku balas membentaknya.


"Jika kalian semua tak meminta maaf untuk perbuatan yang kalian lakukan. Nagaku, akan menelannya hidup-hidup," ucapku lagi, kuangkat kedua tanganku menyilang ke dada menatap para duyung yang telah berbaris di hadapan kami.


"Kau lihat? Inilah kenapa Kakek melarang kita untuk berhubungan dengan manusia!" Teriak Dekka, ia berbalik dengan mencengkeram lengan Ebe.


"Tapi kalian yang telah menyerang mereka," ucap Ebe membalas tatapan sepupunya itu.


"Apa kau membela manusia? Apa karena kau setengah duyung jadi kau membela mereka mati-matian!" Bentak Dekka kembali, Ebe mengangkat sebelah tangannya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Dekka di lengannya.


"Apa kalian telah selesai?" Ucapku, Dekka maupun Ebe berbalik menatapku.


"Semakin lama kalian membuang waktu, semakin banyak juga air yang akan membeku," sambungku mengarahkan jempol ke arah belakang tubuhku.


"Kou, bagaimana keadaanmu? Apa napasmu baik-baik saja?" Bisikku dengan sangat berhati-hati menggerakkan bibir.


"Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir, My Lord," balas Kou, kutatap para duyung itu kembali dengan senyum yang tersungging di wajahku.


"Katakan, ampuni kami wahai Putri," ucapku kembali kepada para duyung.


"Jangan katakan! Jangan kata..." Ucapan laki-laki tua itu terhenti, berganti dengan teriakan kesakitan saat Kou kembali menggerakkan tangannya.


"Baiklah," ucapku diiringi helaan napas, tampak terlihat gelembung-gelembung kecil keluar dari mulutku.


"Kou!"


"Kakek!"


"Yang Mulia!"

__ADS_1


Teriakan histeris para duyung terdengar saat Kou dengan perlahan membekukan ekor laki-laki tua tersebut. Jeritan kesakitan pun ikut terdengar dari mulut laki-laki tua itu...


"Sachi, kumohon. Jangan lakukan ini," ungkap Ebe dengan suara bergetar, aku kembali berbalik menatap laki-laki tua tersebut tanpa menghiraukan perkataannya.


"Panggil dia, My Lord!" Suara Kou tiba-tiba terdengar, jeritan laki-laki tua itu kian jelas terdengar diikuti teriakan memohon dari para duyung yang lain.


"My... My Lord."


"Eh?" Tukasku bingung saat kata-kata itu terdengar dari mulut laki-laki tua tersebut.


"Bagus, sekarang minta ampun padanya! Beraninya makhluk rendahan seperti kalian menentang perintahnya!" Mataku sedikit membelalak saat kata-kata Kou tersebut terngiang di kepalaku.


"Ampuni, ampuni," Teriakan laki-laki tua itu kembali terdengar, kutatap kepalanya yang sedikit mendongak ke atas, ekornya yang selalu bergoyang sebelumnya, kini malah hanya bergerak sesekali.


Apa yang terjadi?


Kou melepaskan cengkeraman tangannya di tubuh laki-laki tua itu, laki-laki itu terkulai jatuh tenggelam tanpa bisa menggerakkan ekornya. Kutatap Ebe dan juga Dekka yang berenang cepat dengan kedua tangan mereka bergerak memapah tubuh laki-laki tua itu yang hampir semakin tenggelam ke dasar.


"Kou, apa yang terjadi?" Ungkapku menggerakkan kepala menatapnya.


"Kami Naga, kami makhluk paling Agung. Kami dapat menjadikan makhluk apapun menjadi budak kami."


"Saat di hutan dulu, beberapa makhluk memanggil Naga yang ada di sana dengan sebutan My Lord bukan? Aku hanya memperlakukan hal yang sama seperti yang Naga Kaisar lakukan kepada mereka."


"Aku akan menghancurkan apapun, jika itu untukmu, My Lord," ucapnya sembari menggerakkan kepalanya mendekati tubuhku.


"Tapi, bagaimana bisa kau mengetahuinya?"


"Naga, dapat berkomunikasi dengan roh para leluhur mereka. Kami menjadi hewan Agung, bukan tanpa alasan," ucapnya, kutatap matanya yang semula merah menyala kini kembali menghitam.


"Naiklah ke punggungku My Lord, urusan kita di sini telah selesai. Mereka, tidak akan mengganggumu lagi. Aku benar bukan?" Ucap Kou menggerakkan kepalanya ke arah laki-laki tua itu kembali.


"Maafkan, kecerobohan kami. Ampuni bangsa kami," ucap laki-laki tua itu dengan suara yang sedikit terdengar bergetar, kali ini bukan bahasa Latin yang ia ucapkan. Melainkan bahasa Inggris, bahasa kuno yang ada di dunia ini.


"Kou?"


"Aku menjadikannya budak, jadi dia... Akan mengerti apa yang aku katakan."

__ADS_1


"Menakjubkan. Aku beruntung memilikimu, Kou," ucapku dengan sebelah tanganku bergerak mengusap lengannya.


"Aku pun beruntung karena kaulah yang telah menemukanku, My Lord," ucapnya, kuangkat tanganku mengusap wajahnya saat kepalanya bergerak mendekatiku.


"Aahh, aku hampir lupa," ucapku, kuarahkan pandanganku melirik ke arah para duyung yang masih terdiam menatapi kami.


"Maaf, tapi aku tidak ingin hubungan ini berakhir begitu saja. Aku ingin, kalian membantuku berperang melawan Kekaisaran. Aku ingin, kalian menghancurkan pasukan mereka ketika nanti... Jika saja, kami berperang dengan mereka di lautan," ucapku berenang mendekati mereka, beberapa duyung tampak berenang berbaris berusaha menghalangi aku mendekati laki-laki tua itu.


"Apakah ini perintah?"


"Ini, permohonanku. Permohonan, dari banyak sekali makhluk yang telah disakiti oleh Kaisar. Ini, untuk kebaikan kalian juga. Kalian telah lihat, kekuatan Naga yang sebenarnya. Dan Kaisar, memiliki Naga sama sepertiku..."


"Jika Naga miliknya menyerang kalian, sudah dipastikan kalian semua akan musnah. Bersyukurlah, aku mengizinkan kalian menguji kekuatan Naga dengan kekuatan yang kalian miliki. Jadi kalian kedepannya dapat berhati-hati dengan bahaya yang entah kapan akan datang..."


"Aku terlalu banyak berkata-kata, jadi bagaimana Kakek? Bergabung bersama kami? Atau, semua yang kalian sayangi... Akan musnah di tangan Naga milik Kaisar itu," ucapku sembari tersenyum tipis menatapi mereka.


"Aku mengerti, kami... Bangsa duyung, menerima semua perintah darimu, My Lord," ucapnya dengan sedikit membungkukkan tubuh, tampak terlihat beberapa duyung yang lain ikut membungkukkan tubuh mereka termasuk Ebe.


"Kalian mengambil keputusan yang sangat tepat," ucapku berbalik berenang meninggalkan mereka.


"Dan juga, tolong bantu jaga Kuro, jika dia terluka... Aku, tidak akan memaafkan kalian."


"Serta, Ebe... Maafkan aku," ucapku menatapnya, Ebe mengangguk pelan beberapa kali padaku.


Aku berbalik, kedua kakiku kembali berenang mendekati Kou. Tubuhku bergerak mendekatinya dengan kedua tanganku merangkul lehernya. Kou mendongakkan kepalanya ke atas, sayapnya bergerak pelan meretakkan lapisan es yang mengelilingi kami. Perlahan, Kou mengajak tubuhku berenang mendekati permukaan, sinar mentari kembali hangat terasa saat wajahku kembali ke luar dari dalam air.



Aku melirik ke bawah saat Kou semakin cepat membawaku terbang ke udara, tampak terlihat sesuatu seperti bunga-bunga yang terbuat dari es memenuhi permukaan laut itu. Kepalaku kembali berbalik menatap ke arah kapal Aydin dengan beberapa dari mereka ada yang bergerak memanjat lempengan es yang mengelilingi kapal.


"Apa kalian baik-baik saja?" Tanyaku saat Kou membawaku terbang memutari mereka, kutatap Zeki, Izumi dan bahkan Aydin yang tengah duduk di atas punggung beberapa duyung laki-laki yang menggelepar di atas lempengan es.


"Di mana Eneas?" Ucapku meraih lengan Haruki yang mengarah ke arahku saat Kou mendarat di sampingnya.


"Aku meminta Yoona untuk menjaga mereka," ucap Haruki membantuku turun dari punggung Kou.


"Lepaskan para duyung itu nii-chan, mereka telah sepakat menjadi sekutu kita," ucapku berbalik lalu berjalan meninggalkan Haruki, saat kedua kakiku menapaki lempengan es.

__ADS_1


"Kau apa?" Tanyanya yang telah berjalan menyusul langkahku.


"Mereka, para duyung itu, resmi menjadi sekutu kita, nii-chan," ucapku menoleh dengan tersenyum menatapnya.


__ADS_2