Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXXXIV


__ADS_3

“Kami akan pergi ke arah Barat setelah ini. Tsu nii-chan, aku menitipkan mereka kepadamu, bawa mereka semua ke tempat yang aman,” ucapku seraya menatapnya yang telah berdiri di samping kuda milikku.


“Laksanakan, Putri,” jawabnya sambil membungkukkan tubuhnya.


Aku mengangguk sebelum membawa kudaku itu menjauhinya, “Izu-nii, ada apa?” tanyaku sembari menghentikan langkah kudaku di sampingnya.


“Aku hanya merasakan terjadi sesuatu kepada Haruki, apa kau mengetahuinya?”


Kepalaku bergerak menatap Haruki yang telah duduk di atas kudanya dengan memberikan arahan kepada para penduduk dan juga Kesatria Kerajaan Ardenis, “entahlah, aku pun kurang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepadanya,” tukasku dengan kembali mengarahkan pandangan ke arah Izumi.


Izumi menundukkan kepalanya secara tiba-tiba saat Uki terbang dari arah belakang lalu hinggap di atas kepalanya, “Uki, apa kau ingin mematahkan leherku?” gerutu Izumi, dia kembali mengangkat kepalanya diikuti sebelah tangannya yang mengusap bagian belakang lehernya.


“Uki, kembalilah lagi. Aku akan meminta Kou untuk membukakan gerbang untukmu, terlalu berlama-lama di sini, tidak bagus untukmu,” ungkapku, kuangkat sebelah tanganku mengusap wajahnya yang mengarah menatapku.


“Kou, buka kembali gerbangmu. Dan bawa dia pulang!”


“Pergilah Uki! Kou, telah menunggumu,” sambungku dengan menepuk pelan sayap kanannya.


Uki mengepakkan sayapnya hingga ia terbang di sekitar kepala Izumi sebelum dia semakin naik ke atas dan naik ke atas hingga bayangannya sendiri pun tak terlihat lagi. “Di mana Lux?” Aku kembali bertanya dengan menatap kepada Izumi.


“Aku tadi sempat berbicara dengan Ryu, Lux bersama dengannya,” timpal Izumi, dia menggerakkan kedua tangannya hingga kuda miliknya itu berjalan maju.

__ADS_1


"Ryu? Dan Lux? Apa mereka sekarang telah akrab?"


"Entahlah, tapi bukankah itu bagus?" timpal Izumi lagi sembari menoleh menatapku.


Aku turut menggerakkan kudaku menyusul di belakangnya. Kami berdua berjalan beriringan, mengikuti Haruki, Eneas dan juga Ryuzaki yang telah berkuda di depan kami. Sesekali pandangan mataku mengarah ke belakang, ke arah mereka yang berdiri mengawasi kami dari kejauhan saat kami semua telah keluar dari dalam hutan. “Jadi Haruki, ke mana kau ingin membawa kami selanjutnya?”


“Entahlah, tidak bisakah kita hanya berjalan terlebih dahulu saja tanpa banyak pertanyaan yang muncul,” jawabnya, punggungnya masih mengarah kepada kami, enggan untuk sedikit pun berbalik.


“Izu-nii!” bisikku, kepalaku menggeleng pelan ketika dia menatap ke arahku.


“Itu bukan berarti aku akan membawa kalian semua tanpa arah tujuan. Aku telah memilih ke mana kita akan pergi selanjutnya, hanya berikan aku waktu untuk menenangkan pikiranku," sambung Haruki lagi, kudanya terus melangkah pelan ke arah depan tanpa sedikit pun bergeming.


__________.


Haruki menganggukkan kepalanya, “kau benar. Jika mereka kembali melewati Kerajaan yang sebelumnya kita membuat ulah, itu akan membahayakan diri mereka sendiri.”


“Nee-chan, bolehkah aku bertanya?” Aku melirik ke arah Eneas yang telah berdiri di samping sambil menganggukkan kepalaku.


“Aku tidak berani menanyakan hal ini kepada Haru nii-san, akan tetapi … Kenapa kita harus membuat Ardenis terlihat musnah?” bisiknya seraya mengangkat sebelah telapak tangannya menempel di ujung bibir.


Aku tersenyum menatapnya, “Eneas, kau memanglah harus lebih banyak lagi belajar mempermainkan seseorang,” ungkapku dengan menggerakkan kuda mendekati bibir pantai.

__ADS_1


“Coba kau ingat, rumor apa yang kita dengar sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Ardenis!”


“Hutan kabut, jika kau bukan penduduk asli sana, kau akan musnah?”


Aku kembali menganggukkan kepalaku dengan mengarahkan pandangan ke arah lautan. “Kami berdua akan memeriksa pelabuhan. Kami ingin memastikan, kapan kapal yang akan kita tumpangi datang. Apa kalian akan baik-baik saja kami tinggal?” Aku menoleh ke arah teriakan Izumi yang terdengar.


“Kami baik-baik saja,” ungkapku, Haruki dan Izumi saling tatap lalu mengangguk sebelum menggerakkan kuda mereka berbalik meninggalkan kami.


“Aku hampir lupa,” ucapku lagi dengan kembali menatap Eneas, “dengan rumor seperti itu. Tentu akan menakuti orang-orang biasa, namun justru akan membuat seseorang sepertiku atau mungkin Kaisar yang telah paham bagaimana hebatnya mereka yang bukan manusia, menjadi mengincar apa yang ada di balik kabut tersebut.”


“Beruntungnya, kita bergerak cepat dibandingkan Kaisar, jadi kita bisa mendapatkan makhluk penghuni hutan yang disebut Leshy itu … Dengan kita menangkap makhluk itu, hutan kabut telah musnah, bukan? Tidak ada lagi yang dapat menghalangi seseorang untuk mengunjungi Ardenis … Jika kita meninggalkan mereka, lalu ada yang datang dengan bertanya … Apa yang sebenarnya terjadi kepada kalian?”


“Lalu mereka menjawab dengan tidak mengetahui apa pun. Mereka yang ambisius dengan kekuatan seperti Kaisar, yang akan menghancurkan apa pun walau yang dimaksud tidak bersalah. Kira-kira apa yang akan terjadi kepada Ardenis?”


“Itu, salah satu kemungkinan terburuk yang kami pikirkan, walau ada kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin lebih baik. Namun ingatlah ini Eneas, dunia ini tidak masuk akal … Untuk bertahan, hanya pikirkan saja semua kemungkinan terburuk. Aku, baru menyadarinya dalam beberapa waktu terakhir. Terdengar seperti pecundang yang melarikan diri dari masalah, namun itu lebih baik karena kita masih bisa memperbaiki semua kesalahan selama kita hidup … Dibanding, kita kehilangan nyawa namun tidak menyelesaikan apa pun itu.”


“Aku jadi berbicara panjang lebar,” ucapku menghentikan perkataan sejenak dengan menghela napas, “Kerajaan Ardenis sudah tidak ada seorang pun lagi yang menghuninya, tanpa penghuni mereka akan dianggap telah hancur oleh siapa saja yang nantinya mendatangi tempat itu. Dan itu, akan membuat hidup para penduduk dan Kesatrianya selamat, karena mereka dapat memulai hidup baru.”


“Aku, mengenal dia yang berjuang untuk Kerajaannya, walau Kerajaannya itu telah dihancurkan oleh Kaisar. Selama dia hidup, Kerajaannya akan selalu dikenang, tak peduli dikenang oleh dirinya sendiri ataupun orang lain juga ikut mengenangnya. Karena jika aku, tidak bertemu dengannya saat itu … Mungkin aku tidak akan mempercayai adanya mereka yang bukan manusia.”


“Mungkin aku tidak akan seperti sekarang … Intinya, kami hanya ingin mereka memulai kehidupan baru tanpa melupakan Ardenis. Karena, Ardenis dapat dibangun kembali jika mereka selamat. Asalkan mereka tetap hidup, Ardenis akan tetap ada.”

__ADS_1


“Omong kosong!” Tukasku lagi sambil menarik napas dengan wajah tertunduk, “semua yang aku katakan tadi hanyalah omong kosong. Kami, hanya ingin melaksanakan permintaan terakhir darinya,” sambungku menggigit kuat bibir sebelum mengangkat kembali wajahku menatap permukaan air laut.


__ADS_2